RADAR BOGOR – Ratusan warga memadati kawasan Lembur Sawah, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Selasa, 16 Juni 2026. Mereka antusias menyaksikan arak-arakan dongdang berisi hasil bumi yang diusung beramai-ramai dalam tradisi Sidekah Bumi 2026.
Suasana tampak meriah sejak pagi hari, sebuah dongdang besar dihias aneka sayuran seperti jagung, cabai, terong, hingga umbi-umbian, disusun menyerupai gunungan dan diarak menggunakan tandu oleh sejumlah pria berpakaian adat Sunda.
Di sekelilingnya, warga berdesakan mengabadikan momen menggunakan ponsel sedangkan penari perempuan dengan riasan tradisional berdiri berbaris menyambut prosesi.
Baca Juga: Setahun Menanti, Longsor di Perumahan Graha Grande Bogor Akhirnya Ditangani
Di bagian depan, tampak tokoh adat dan peserta mengenakan ikat kepala serta busana hitam khas Sunda. Sementara di sisi lain, ornamen payung keemasan dan dekorasi panggung bertuliskan “Sidekah Bumi” menjadi latar utama kegiatan.
Lestarikan Budaya Leluhur
Kemeriahan ini merupakan bagian dari rangkaian Sidekah Bumi dan Festival Jajanan Lembur 2026 yang kembali digelar masyarakat secara luas setelah sempat vakum. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus upaya melestarikan budaya leluhur.
Penyelenggara sekaligus Pengelola Saung Eling, Siti Nurfazriah mengatakan kegiatan ini telah berlangsung turun-temurun meski sempat lama tidak digelar secara besar.
"Acara Sidekah Bumi ini sudah berlangsung cukup lama dan bukan hal baru di Lembur Sawah. Memang, acaranya sempat vakum lebih dari 30 tahun dan hanya dijalankan dalam lingkup keluarga atau tingkat RT," ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir pihaknya bersama masyarakat mulai menghidupkan kembali tradisi tersebut dengan berbagai inovasi agar lebih menarik. Upaya tersebut dilakukan untuk menarik partisipasi masyarakat yang lebih luas.
"Kami menambahkan Festival Jajanan Lembur dan perlombaan tari agar lebih menarik. Hasilnya, tidak hanya masyarakat lokal yang terlibat, tetapi juga dari luar kota bahkan wisatawan mancanegara," jelasnya.
Menurutnya, Sidekah Bumi memiliki makna sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi. Selain itu, tradisi ini juga menjadi doa agar masyarakat terhindar dari musibah dan mendapatkan panen yang lebih baik di masa mendatang.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak malam sebelumnya dengan ritual di Situs Kabayan yang melibatkan tokoh adat, sesepuh, dan masyarakat setempat. Puncak acara digelar hari ini melalui arak-arakan dongdang yang menjadi daya tarik utama.
"Setelah arak-arakan, biasanya ditutup dengan tradisi perebutan hasil bumi oleh masyarakat. Ini yang paling ditunggu karena melambangkan berkah yang dibagikan kepada warga," katanya.
Selain itu, pada siang hingga malam hari juga digelar lomba tari tradisional dan pagelaran seni. Kegiatan ditutup dengan pertunjukan wayang golek sebagai penutup rangkaian acara.
Wisatawan pun datang silih berganti mengunjungi festival ini. Mereka dapat membeli berbagai jajanan menggunakan batok kelapa yang menyerupai koin.
Koin batok ini merupakan alat pengganti uang sebagai transaksi jual-beli selama kegiatan. Satu koin batok senilai Rp5 ribu yang dapat digunakan untuk membeli berbagai makanan dan produk yang diperjualbelikan.
Ia menambahkan, penentuan waktu pelaksanaan Sidekah Bumi mengikuti hitungan adat para sesepuh. Waktunya biasanya jatuh pada bulan Muharam.
Penyelenggaraan tahun ini juga melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi dan mahasiswa yang turut membantu pelaksanaan kegiatan. Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan acara.
"Harapannya Sidekah Bumi ini bisa terus lestari dan mendapat dukungan dari berbagai pihak agar tetap bertahan dan berkembang," tutupnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati