RADAR BOGOR - Peringatan Hari Purbakala Nasional ke-113 di Kota Bogor, dikemas dengan konsep berbeda.
Tidak hanya menjadi seremoni tahunan, kegiatan ini mengajak para pelajar dan guru untuk mengenal lebih dekat kekayaan sejarah dan budaya bangsa melalui program Pelajar Jelajah Budaya.
Kegiatan yang berlangsung di Museum Pajajaran, Kota Bogor, ini merupakan hasil kolaborasi Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah II Provinsi Jawa Barat bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TABC) Kota Bogor.
Baca Juga: Jangan Sampai Hangus, Ini Batas Akhir Pencairan Bansos PKH BPNT Tahap 2 Tahun 2026
Mengusung tema "Merawat Warisan, Menjaga Masa Depan", acara menjadi ruang edukasi sekaligus upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya.
Ratusan Peserta Antusias Mengikuti Jelajah Budaya
Sebanyak 140 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas guru sejarah, guru bahasa Indonesia, serta perwakilan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dari SMA dan SMK se-Kota Bogor.
Ketua Panitia yang juga Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TABC) Kota Bogor, Hamdan mengatakan, kegiatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami sejarah melalui teori, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung di lapangan.
"Peserta yang hadir sebanyak 140 orang terdiri dari unsur guru sejarah, guru bahasa, dan perwakilan OSIS SLTA se-Kota Bogor," ujar Hamdan.
Acara turut dihadiri unsur Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Dinas Pendidikan, serta jajaran Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bogor.
Menelusuri Jejak Sejarah dari Batutulis hingga Museum Pajajaran
Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan ke kawasan cagar budaya Batutulis.
Peserta diajak meninjau sejumlah objek bersejarah sekaligus memahami nilai penting peninggalan masa lalu yang masih terjaga hingga kini.
Perjalanan edukatif kemudian dilanjutkan ke Museum Pajajaran yang baru diresmikan pada 3 Juni 2026.
Di museum tersebut, peserta memperoleh penjelasan mengenai koleksi sejarah dan budaya yang menjadi identitas Kota Bogor serta Jawa Barat.
Baca Juga: Bansos BPNT Tahap 2 2026 Masih Cair Bertahap, Ini Daerah yang Masuk Penyaluran Hingga Akhir Juni
Setelah sesi kunjungan lapangan, kegiatan berlanjut dengan sarasehan yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pemerintah dan pegiat kebudayaan.
Bahas Pelestarian Warisan Budaya Takbenda
Materi pertama disampaikan oleh Judi Wahyudin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kebudayaan (P3K) Kementerian Kebudayaan.
Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Sementara itu, Hamdan membawakan materi mengenai Warisan Budaya Takbenda (WBTB).
Ia menjelaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menyangkut benda bersejarah, tetapi juga tradisi, pengetahuan, seni, dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Perjalanan Golok Menuju UNESCO Jadi Penutup yang Menginspirasi
Sesi penutup menjadi salah satu yang paling menarik perhatian peserta.
Ki Gatut Susanta, pelopor Golok Road to UNESCO, memaparkan perjalanan panjang upaya mendorong golok sebagai warisan budaya yang diakui dunia.
Dalam presentasinya, Gatut menjelaskan, berbagai tahapan yang telah dilalui, tantangan yang dihadapi, hingga pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam proses pengusulan.
Ia juga menegaskan, proses menuju pengakuan UNESCO tidak hanya bergantung pada komunitas pelestari budaya, tetapi membutuhkan dukungan penuh pemerintah.
"Pada akhirnya, kebijakan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan sebagai negara pengusul menjadi faktor yang sangat menentukan dalam proses menuju UNESCO," tutup Ki Gatut Susanta kepada Radar Bogor.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap semangat pelestarian budaya tidak berhenti pada peringatan Hari Purbakala Nasional semata, melainkan menjadi gerakan bersama untuk menjaga warisan leluhur sebagai bekal membangun masa depan bangsa. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim