RADAR BOGOR – Kenaikan harga Pertamax berdampak langsung terhadap penjualan di sejumlah Pertashop di Kota Bogor.
Pelaku usaha Pertashop mengaku mengalami penurunan omzet yang signifikan sejak penyesuaian harga diberlakukan.
Pengawas Operasional Pertashop di Jalan Pandu Raya, Bobi mengatakan, penurunan volume penjualan saat ini sudah mencapai 35 hingga 40 persen. Bahkan, pada hari-hari tertentu, penurunan bisa menyentuh angka 50 persen.
“Penurunan omzet penjualan kami saat ini sudah menyentuh angka 35 sampai 40 persen, bahkan dalam hari-hari tertentu bisa anjlok hingga 50 persen,” ujarnya kepada Radar Bogor, Minggu 21 Juni 2026.
Lonjakan harga Pertamax terjadi sejak 10 Juni 2026. Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi tersebut dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter di wilayah Jawa Barat.
Di sisi lain, harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter sehingga disparitas harga kedua jenis BBM itu semakin lebar.
Baca Juga: Piala Ketua AFKOT Bogor Jadi Ajang Pencarian Bibit Atlet Futsal Kota Bogor
Menurutnya, lonjakan harga Pertamax yang tinggi itu menjadi penyebab utama turunnya daya beli konsumen.
Selisih harga yang mencapai sekitar Rp6.000 per liter dibandingkan Pertalite membuat masyarakat beralih.
“Akibat disparitas harga yang terlampau jauh tersebut, konsumen yang biasanya mengisi Pertamax kini rela mengantre panjang di SPBU reguler daripada membeli Pertamax di Pertashop,” ucapnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berbeda dengan saat harga Pertamax masih berada di kisaran Rp12.000 per liter.
Saat itu, konsumen masih memilih membeli di Pertashop untuk menghindari antrean di SPBU.
“Dulu waktu harganya masih di kisaran Rp12.000-an per liter, masyarakat masih mau beli di Pertashop demi menghindari antrean panjang di SPBU besar,” katanya.
Namun kini, meski antrean Pertalite di SPBU kerap mengular panjang dan pasokan terbatas, masyarakat tetap memilih bertahan. Hal itu dinilai sebagai dampak langsung dari selisih harga yang semakin lebar.
“Sekalinya pasokan Pertalite datang, antreannya langsung panjang sekali. Tapi karena selisihnya sudah Rp6.000, masyarakat tetap memilih antre,” ucapnya.
Bobi menilai, kondisi ini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan usaha Pertashop.
Dengan penjualan yang terus menurun, margin keuntungan semakin menipis dan tidak sebanding dengan biaya operasional.
Baca Juga: HUT Jakarta ke-499, 17 Archipelago Hotel Beri Diskon hingga 49 Persen untuk Liburan di Ibu Kota
“Jika situasi ini terus dibiarkan tanpa adanya evaluasi kebijakan, lama-kelamaan para pengusaha Pertashop bisa dipastikan akan gulung tikar satu per satu,” tegasnya.
Ia menambahkan, saat ini konsumen yang membeli Pertamax di Pertashop didominasi oleh pengguna yang dalam kondisi darurat. Artinya, pembelian tidak lagi bersifat rutin seperti sebelumnya.
“Konsumen yang datang sekarang rata-rata hanya yang sudah benar-benar kehabisan bensin,” katanya.
Pihaknya berharap pemerintah dapat meninjau ulang kebijakan harga Pertamax agar lebih rasional.
Terlebih, berdasarkan informasi yang beredar, harga minyak mentah dunia tengah mengalami tren penurunan.
“Kami berharap harga Pertamax bisa segera disesuaikan kembali ke angka normal agar selisihnya tidak terlalu jauh dengan Pertalite. Kalau harganya kompetitif, daya beli masyarakat akan kembali dan operasional Pertashop bisa normal lagi,” pungkasnya. (uma)
Editor : Yosep Awaludin