RADAR BOGOR - Budidaya magot jadi cara Pemkot Bogor dalam mengelola limbah atau sampah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Budidaya magot ini diinisiasi langsung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Mereka bekerja sama dengan 11 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bogor.
Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Bogor Deden Adi Suryadi Mengatakan program budidaya magot ini sudah dimulai sejak satu tahun silam.
“Kalau rumah magot ini sudah ada sejak tahun 2020, awalnya kami pakai sampah rumah makan, kalau yang sama MBG ini baru satu tahun,” kata Deden.
Hampir setiap hari petugasnya menjemput sampah dari dapur MBG yang sudah bekerja sama. Sampah yang dihasilkan rata-rata mencapai setengah ton.
“Kalau yang kita pakai itu 200 sampai 300 Kg tapi sampah yang kami kumpulkan dari 11 SPPG itu bisa mencapai setengah ton,” ujar Deden pada Radar Bogor.
Baca Juga: Kejutan Akhir Juni! Saldo Bansos hingga Rp1,8 Juta Meleleh di KKS
Sampah MBG itu biasanya dikumpulkan terlebih dahulu di ruang terbuka. Kemudian petugas DLH langsung membungkusnya ke dalam sebuah box.
Hanya butuh waktu 18 hari untuk bisa memanen magot dari proses penetapan. Hasil panen biasanya dijua atau diberi pakan lele dan ayam yang ada di DLH.
“Kalau hasil panennya itu satu biopond sekitar 20 Kg, kami punya 12 biopond jadi tinggal dikali saja berapa total magot yang kami panen,” ucap Deden.
DLH juga turut membuka pintu se lebar lebarnta bagi warga Kota Bogor yang ingin belajar budidaya magot. Bahkan mereka akan turut memberikan telur magotnya.
“Kalau misalnya ada warga yang ingin belajar produksi magot kita terima dan diajarin dari 0 kira kasih juga kalau mau telurnya,” pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin