Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Tes Tersedia di 59 Fasilitas Kesehatan, Begini Alur Deteksi HIV/AIDS di Kota Bogor

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 23 Juni 2026 | 19:22 WIB
Kampanye stop HIV/AIDS digelar Pemkot Bogor. (Dok. Dinkes Kota Bogor)
Kampanye stop HIV/AIDS digelar Pemkot Bogor. (Dok. Dinkes Kota Bogor)

RADAR BOGOR – Dinas Kesehatan Kota Bogor mengungkapkan alur pelayanan deteksi HIV/AIDS kini dapat diakses masyarakat melalui 59 fasilitas kesehatan yang tersebar di berbagai wilayah Kota Bogor. Langkah ini dilakukan untuk mendorong deteksi dini sekaligus mempercepat pencapaian target eliminasi HIV pada 2030.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor dr Erna Nuraena menjelaskan, deteksi dini menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian HIV. Menurutnya, semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya, semakin besar peluang untuk mendapatkan pengobatan dan mencegah penularan.

“Tes HIV adalah langkah pertama untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang terdekat. HIV dapat dikendalikan apabila terdeteksi lebih awal dan pasien menjalani pengobatan secara rutin,” ujar Erna, Selasa, 23 Juni 2026.

Baca Juga: Siswa Terpaksa Belajar di 4 Kelas SDN Gunungsindur 02 Bogor yang Nyaris Ambruk

Dinkes Kota Bogor mencatat terdapat 59 layanan tes dan konseling HIV/IMS yang terdiri dari 25 puskesmas, 22 rumah sakit, 11 klinik swasta, serta satu fasilitas layanan kesehatan lainnya.

Alur Deteksi HIV/AIDS di Kota Bogor

Dalam pelaksanaannya, masyarakat yang ingin melakukan pemeriksaan HIV terlebih dahulu akan menjalani konseling dengan petugas kesehatan. Pada tahap ini, petugas memberikan informasi mengenai HIV, faktor risiko, serta manfaat pemeriksaan.

Setelah konseling, pasien akan menjalani tes HIV sesuai prosedur yang berlaku. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan reaktif, petugas akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.

Selanjutnya, pasien yang terkonfirmasi positif HIV akan diarahkan ke layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) untuk mendapatkan terapi antiretroviral atau ARV.

Layanan pengobatan ini tersedia di 41 fasilitas kesehatan yang terdiri dari 25 puskesmas, sembilan rumah sakit, dan tujuh klinik swasta.

Selain pengobatan, pasien juga akan mendapatkan pendampingan dan pemantauan berkala, termasuk pemeriksaan Viral Load untuk mengukur keberhasilan terapi yang dijalani.

"Dinkes Kota Bogor juga menyediakan layanan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) di seluruh puskesmas sebagai upaya pencegahan bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular HIV," ungkapnya.

Data Dinas Kesehatan Kota Bogor menunjukkan sepanjang 2025 terdapat 399 kasus baru HIV, dengan 137 kasus di antaranya telah memasuki stadium AIDS. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masih ditemukan pasien yang datang berobat setelah penyakit berkembang ke tahap lanjut.

Menurut dr Erna, rendahnya pengetahuan masyarakat dan masih adanya stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS menjadi faktor yang menyebabkan sebagian warga enggan melakukan pemeriksaan sejak dini.

“Stigma dan diskriminasi membuat orang yang berisiko takut melakukan tes. Padahal semakin cepat diketahui, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan,” katanya.

Untuk meningkatkan cakupan deteksi, Dinkes Kota Bogor terus memperluas layanan konseling dan tes HIV di fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta. Sosialisasi juga dilakukan melalui sekolah, komunitas, dunia usaha, hingga rumah ibadah.

Berdasarkan data tahun 2025, Kota Bogor telah menemukan 3.857 orang dengan HIV yang masih hidup atau sekitar 63 persen dari target. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.436 orang atau 85 persen telah mendapatkan terapi ARV, sedangkan 1.914 orang atau 79 persen telah mencapai supresi viral load.

Pemerintah Kota Bogor menargetkan pencapaian Fast Track 95-95-95 yang dicanangkan UNAIDS, yakni 95 persen orang dengan HIV mengetahui statusnya, 95 persen mendapatkan pengobatan, dan 95 persen mencapai supresi viral load pada 2030. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #hiv/aids