Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Bripka Agus Prio Pramono, Anggota Polresta Bogor Kota Jual Motor Kesayangan demi Bangun Pesantren Gratis bagi Anak Dhuafa

Dede Supriadi • Jumat, 26 Juni 2026 | 21:11 WIB
Anggota Polresta Bogor Kota Bripka Agus Pramono mengajar santri di Pondok Pesantren Al-Haniifiyyah 3, Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor. (Dede/Radar Bogor)
Anggota Polresta Bogor Kota Bripka Agus Pramono mengajar santri di Pondok Pesantren Al-Haniifiyyah 3, Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor. (Dede/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Saat dana pembangunan tak kunjung tersedia, Bripka Agus Prio Pramono mengambil keputusan yang tak biasa. Anggota Polresta Bogor Kota itu menjual sepeda motor Kawasaki KLX miliknya sebagai modal awal membangun masjid sekaligus mengembangkan Pondok Pesantren Al-Haniifiyyah 3 di Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Keputusan itu diambil pada 2021 setelah pesantren memperoleh amanah mengelola lahan seluas 350 meter persegi. Lahan sudah tersedia, tetapi dana pembangunan belum ada, donatur pun belum datang.

"Malam itu kami rapat, tidak ada donatur, proposal bantuan pun belum dibuat, akhirnya saya berkoordinasi dengan istri dan memutuskan menjual motor pribadi untuk memulai pembangunan masjid," ujar Bripka Agus kepada Radar Bogor.

Baca Juga: Dari Sawah ke Meja Makan, Strategi Polresta Bogor Kota Jaga Ketahanan Pangan dan Stabilitas Harga

Motor tersebut menjadi modal pertama pembangunan, setelah pekerjaan dimulai, bantuan berdatangan secara bertahap, mulai dari material, tenaga hingga dana.

"Proposalnya justru selesai setelah masjid berdiri, saya sering berpikir, dari mana semua biaya itu datang, tapi kalau niatnya baik, Allah selalu memberikan jalan," ujar pria yang kerap disapa Gus Prio tersebut.

Pengabdian Agus kepada anak-anak dhuafa bermula pada 2019. Saat itu sebuah panti asuhan yang dikelola Dewan Kemakmuran Masjid mengalami kesulitan keuangan hingga terancam tutup. Puluhan anak hampir kehilangan tempat tinggal dan kesempatan belajar.

Bersama pengelola pondok dan guru besarnya, KH Syamsudin Ardi, Agus Prio kemudian mengubah panti tersebut menjadi pondok pesantren. Karena belum memiliki asrama, ia mempersilakan santri putra tinggal di rumahnya. Sementara kegiatan belajar mengajar berlangsung di teras dan garasi.

Anggota Polresta Bogor Kota Bripka Agus Pramono mengajar santri di Pondok Pesantren Al-Haniifiyyah 3 Bogor. (Dede/Radar Bogor)
Anggota Polresta Bogor Kota Bripka Agus Pramono mengajar santri di Pondok Pesantren Al-Haniifiyyah 3 Bogor. (Dede/Radar Bogor)

"Waktu itu belum ada asrama. Anak-anak laki-laki tinggal di rumah saya, sementara belajar di teras dan garasi," kenang pria yang masuk angkatan 27 jalur Bintara Umum Polri.

Kini Pondok Pesantren Al-Haniifiyyah 3 membina 75 santri yang seluruhnya memperoleh pendidikan agama dan pendidikan formal secara gratis.

Menurut Agus Prio, anak-anak dhuafa kerap luput dari perhatian karena masih memiliki orang tua, meski kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan mereka melanjutkan sekolah.

"Anak yatim biasanya sudah banyak yang membantu, yang sering terlupakan justru anak-anak dhuafa, mereka masih punya orang tua, tetapi tidak mampu membiayai sekolah," kata bapak dua anak itu.

Baca Juga: Sosok Aipda Agus Sudarisman, Anggota Satlantas Polresta Bogor Kota yang Viral Usai Kawal Pasien ke Rumah Sakit

Di sela tugas sebagai anggota Polri, Agus Prio rutin mengajar setiap malam, seusai berdinas, ia memberikan pelajaran matematika, sejarah, pengetahuan umum hingga pendidikan lalu lintas kepada para santri.

Baginya, pendidikan agama harus berjalan beriringan dengan pengetahuan umum agar para santri memiliki bekal saat melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Perjuangan yang berawal dari teras rumah itu kini mulai membuahkan hasil, selama tujuh tahun terakhir, pesantren telah meluluskan tiga angkatan. Sebagian alumninya telah bekerja, melanjutkan kuliah melalui beasiswa, bahkan kembali mengabdi sebagai tenaga pengajar.

Bagi Agus Prio, keberhasilan para santri menata masa depan menjadi ganjaran paling berharga, jauh melampaui nilai motor yang pernah ia jual demi memulai pembangunan pesantren.(ded)

Editor : Eka Rahmawati
#Bripka Agus Prio Pramono #polresta bogor kota #pesantren