RADAR BOGOR - Momentum Lebaran Yatim yang jatuh bertepatan dengan 10 Muharam menjadi saksi lahirnya gerakan kepedulian baru di Kota Hujan. Yayasan Aksi Sosial Kemanusiaan Rakyat (Yayasan AKSARA) resmi diluncurkan secara formal yang dirangkaikan dengan penyaluran santunan bagi puluhan anak yatim.
Acara peresmian yang berlangsung khidmat di SMK UMMI Kota Bogor, Jalan Pekojan, Empang, Bogor Selatan ini dihadiri sekitar 70 peserta, pada Minggu, 28 Juni 2026.
Mengusung tema “Menebar Kepedulian, Menyalakan Harapan”, Yayasan AKSARA menyalurkan santunan kepada 50 anak yatim sebagai penanda awal langkah konkrit kehadiran mereka di tengah masyarakat.
Baca Juga: Tahun Ini, Pemkot Bogor Bidik Perbaikan 2 Ribu Rumah Tidak Layak Huni
Ketua Yayasan AKSARA, Ibrahim Askar, menegaskan bahwa kehadiran lembaga ini didirikan sebagai wadah kepedulian sosial untuk menumbuhkan semangat saling membantu antarsesama.
Kendati bergerak secara umum di bidang sosial kemanusiaan termasuk kesehatan, sosial kebencanaan, dan ekonomi kerakyatan, pihaknya memilih untuk memberikan perhatian khusus pada sektor pendidikan di Kota Bogor.
Bukan tanpa alasan, fokus utama pada bidang pendidikan ini diambil setelah pengurus yayasan melakukan penelusuran langsung dan menyerap aspirasi empiris di akar rumput. Ibrahim secara blak-blakan menyoroti penerapan sistem zonasi yang dinilai prematur dan belum siap di Kota Bogor.
"Kami meyakini bahwa pada awalnya, permasalahan ini bermula dari sistem zonasi yang prematur tanpa diiringi oleh pemerataan sekolah di Kota Bogor. Ini adalah data langsung dari masyarakat secara empiris," tegas Ibrahim Askar usai kegiatan peluncuran.
Soroti Ketimpangan Daya Tampung Sekolah Negeri
Dari hasil "belanja masalah" ke masyarakat, Yayasan AKSARA menemukan ketimpangan daya tampung sekolah negeri yang sangat mencolok, khususnya di wilayah Bogor Selatan. Ketimpangan tersebut digambarkan melalui piramida penyerapan yang tidak seimbang:
Pertama, Sekolah Dasar (SD) Negeri: Jumlahnya sangat melimpah, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri hanya tersedia tiga sekolah. Sedangkan, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri / Sederajat hanya ada dua sekolah.
Kondisi ini menyebabkan terjadinya sumbatan penyerapan siswa yang sangat serius ketika anak-anak Bogor Selatan ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Melihat urgensi tersebut, AKSARA berkomitmen untuk melakukan pengawalan ketat dan mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor maupun Provinsi Jawa Barat agar segera memfasilitasi pembangunan sekolah negeri baru, khususnya di wilayah Bogor Selatan.
Rancang Program Pendidikan Informal
Selain jalur advokasi formal, yayasan yang diinisiasi oleh enam orang tim inti ini juga telah merancang program pendidikan informal. Langkah ini ditujukan untuk merangkul dan menaungi anak-anak yang terlanjur putus sekolah agar tidak kehilangan masa depan.
Melalui program ini, mereka akan dibekali dengan berbagai keterampilan (skill) yang relevan agar mampu terserap di dunia kerja.
Untuk memperluas daya jangkau, Yayasan AKSARA juga tengah membuka jaringan akses ke Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) RI guna mendorong ditimbunya program Balai Latihan Kerja (BLK) langsung di tingkat Kota Bogor.
Tak hanya pendidikan, Yayasan AKSARA juga siap mengejawantahkan misi kemanusiaannya melalui tiga pilar sektor lainnya yang terintegrasi seperti:
- Sosial Kebencanaan: Memanfaatkan jejaring bersama BPBD dan BNPB, yayasan akan menggelar pelatihan dan sertifikasi jangka panjang bagi para relawan agar memiliki kesiapan kompetensi teknis sekaligus pemahaman kondisi aktual saat terjun ke lokasi bencana.
- Kesehatan: Mengadvokasi pasien kurang mampu, mendampingi proses administrasi ke rumah sakit, memfasilitasi pembuatan BPJS Kesehatan, serta menggelar aksi cek kesehatan gratis berkala bersama jaringan rumah sakit di Kota Bogor dan PMI.
Disisi lain, ekonomi kerakyatan fokus pada pendampingan intensif bagi pelaku UMKM untuk memecahkan dua masalah klasik, yakni akses pemodalan dan strategi perluasan pemasaran produk.
Menatap langkah ke depan, Ibrahim menyatakan bahwa Yayasan AKSARA tidak akan menjadi lembaga yang pasif. Dalam waktu dekat, setelah merumuskan program kerja internal pada akhir bulan depan, pengurus dijadwalkan akan segera menggelar audiensi resmi dengan Komisi IV DPRD Kota Bogor.
Di hadapan para wakil rakyat nanti, AKSARA akan memaparkan visi lembaga sekaligus menegaskan posisinya dalam konstelasi kebijakan publik di Kota Hujan.
"Kami ingin menjadi mitra yang kritis bagi Pemerintah Kota Bogor. Ketika suatu kebaikan dilakukan oleh pemerintah, kita ada di situ untuk bermitra. Tetapi ketika ada hal-hal menyimpang yang dilakukan oleh pemerintah kota, izinkan kami untuk mengkritisi hal tersebut," pungkas Ibrahim.(ded)