Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

PSEL Jadi Jalan Baru Kota Bogor Urus Sampah Sekaligus Mandiri Energi

Fikri Rahmat Utama • Senin, 29 Juni 2026 | 20:58 WIB
Talkshow Obsesi (Obrolan Serius Mencari Solusi) Off Air bertajuk Dari Matahari dan Sampah, Jalan Baru Menuju Kemandirian Energi" yang digelar Radar Bogor di Atrium Lantai 2 Botani Square Mall, Senin, 29 Juni 2026. (Sofiansyah/Radar Bogor)
Talkshow Obsesi (Obrolan Serius Mencari Solusi) Off Air bertajuk Dari Matahari dan Sampah, Jalan Baru Menuju Kemandirian Energi" yang digelar Radar Bogor di Atrium Lantai 2 Botani Square Mall, Senin, 29 Juni 2026. (Sofiansyah/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Pembangunan Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dinilai menjadi langkah strategis menyelesaikan persoalan sampah. Selain mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (TPA), proyek tersebut juga diproyeksikan menghasilkan listrik untuk masyarakat.

Hal itu mengemuka dalam Talkshow "Obsesi" (Obrolan Serius Mencari Solusi) Off Air bertajuk "Dari Matahari dan Sampah, Jalan Baru Menuju Kemandirian Energi" yang digelar Radar Bogor di Atrium Lantai 2 Botani Square Mall, Senin, 29 Juni 2026.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan, pembangunan PSEL tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor.

Menurutnya, kebutuhan BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 700 ribu barel per hari, sisanya harus dipenuhi melalui impor.

Baca Juga: Permainan Tradisional Kembali Diminati, Ratusan Peserta Ikuti Kaulinan Sunda di Bogor

"Kondisi sebagai net importer membuat kita sangat bergantung pada pasokan luar negeri, uang negara yang mestinya bisa digunakan untuk pembangunan daerah habis untuk membeli BBM impor dan subsidi. Melalui energi alternatif seperti PSEL, ketergantungan itu bisa dikurangi," ujarnya.

Dedie menjelaskan, pemerintah pusat telah menargetkan pembangunan 32 unit PSEL di berbagai daerah. Setiap fasilitas diproyeksikan mampu mengolah 1.000 hingga 1.500 ton sampah per hari dengan potensi menghasilkan listrik sekitar 34 megawatt (MW).

Ia menilai teknologi PSEL yang menerapkan sistem pembakaran modern mampu menekan emisi jauh lebih rendah dibanding pembangkit berbahan bakar fosil.

"Pengembangan energi baru terbarukan menjadi kebutuhan mutlak agar kita tidak terus bergantung pada energi fosil," katanya.

Di Kota Bogor sendiri, persoalan sampah masih menjadi tantangan besar. Dedie mengungkapkan, volume sampah harian terus meningkat. Armada pengangkut baru mampu membawa sekitar 700 hingga 800 ton sampah ke TPA setiap hari.

"Sementara sekitar 300 ton sisanya berpotensi dibakar secara liar, dibuang ke sungai, atau menumpuk di lahan kosong. Karena itu sistem PSEL harus diintegrasikan dengan TPS 3R dan budaya pemilahan sampah dari sumbernya," bebernya.

Ia mencontohkan Metropolitan Tokyo yang memiliki 22 unit PSEL dengan keberhasilan yang didukung oleh disiplin masyarakat dalam menerapkan konsep reduce, reuse, recycle (3R).

Menurut Dedie, sampah lama yang telah menumpuk di TPA mencapai jutaan ton akan ditangani melalui teknologi pirolisis, controlled landfill, dan gasifikasi. Sementara sampah baru yang masuk setiap hari diarahkan seluruhnya ke PSEL.

Selain menghasilkan listrik, residu hasil pengolahan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku road base, paving block, batako hingga campuran semen. Proyek ini akan dibangun di dua tempat yaitu di Galuga Kabupaten Bogor dan Kayumanis Kota Bogor.

Galuga akan menjadi yang pertama dibangun tahun ini dengan target operasi 2028 awal. Sedangkan Kayumanis akan mulai dibangun tahun depan dengan target beroperasi di tahun 2029.

"Ini kesempatan besar yang harus kita kawal. Saya optimistis Kota Bogor mampu melakukan transisi tata kelola sampah ini dengan baik," tegasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, Denni Wismanto, mengatakan persoalan sampah selama ini selalu menjadi pekerjaan rumah yang diwariskan dari satu periode kepemimpinan ke periode berikutnya.

"Selama bertahun-tahun kita masih bergantung pada sistem pembuangan konvensional. Kalau proyek ini berhasil, insyaallah persoalan sampah Kota Bogor bisa diselesaikan dari hulu hingga hilir," katanya.

Perumda Tirta Pakuan Siapkan Kebutuhan Air

Sementara itu, Direktur Perumda Tirta Pakuan Rino Indira Gusniawan memastikan pihaknya telah menyiapkan skenario untuk memenuhi kebutuhan air operasional PSEL tanpa mengganggu layanan bagi masyarakat.

Ia menjelaskan, setiap satu ton sampah yang diolah membutuhkan sekitar satu meter kubik air. Dengan kapasitas PSEL 1.000 hingga 1.500 ton per hari, kebutuhan air diperkirakan mencapai 1.000 sampai 1.500 meter kubik setiap hari.

Rino mengatakan, terdapat tiga opsi yang disiapkan. Pertama, memanfaatkan jaringan distribusi yang sudah ada dengan pengaturan kuota khusus. Kedua, menerapkan sistem sirkulasi air industri yang digunakan berulang. Ketiga, membangun intake serta instalasi pengolahan air (WTP) mandiri dari sumber sungai di sekitar lokasi proyek.

"Kami harus memastikan kebutuhan air industri ini tidak mengganggu pasokan air bersih masyarakat. Kepastian suplai sangat penting karena jika boiler berhenti, biaya pemanasan ulang sangat besar," jelasnya.

Menurut Rino, kehadiran PSEL juga berpotensi meningkatkan pendapatan Perumda Tirta Pakuan. Saat ini pelanggan industri hanya sekitar tiga persen dari total pelanggan, tetapi memberikan kontribusi sekitar 25 persen terhadap pendapatan perusahaan.

"Tambahan pelanggan industri seperti PSEL akan memperkuat pendapatan perusahaan. Keuntungannya bisa digunakan untuk subsidi silang sehingga tarif pelanggan rumah tangga tetap terjaga," pungkasnya. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #energi #sampah #PSEL