RADAR BOGOR – Potensi energi surya di Kota Bogor dinilai masih sangat besar untuk dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan. Berdasarkan kajian akademik, kapasitas energi surya di Kota Hujan diperkirakan mencapai 100 hingga 200 MWh dan berpeluang menjadi salah satu penopang kemandirian energi daerah.
Hal itu disampaikan Rektor Universitas Pakuan, Prof. Didik Notosudjono, dalam Talkshow "Obsesi" (Obrolan Serius Mencari Solusi) bertajuk "Dari Matahari dan Sampah, Jalan Baru Menuju Kemandirian Energi" yang digelar Radar Bogor di Atrium Lantai 2 Botani Square Mall, Senin, 29 Juni 2026.
Didik menjelaskan, intensitas radiasi matahari di Kota Bogor memang sedikit lebih rendah dibanding rata-rata nasional. Jika Indonesia memiliki rata-rata radiasi sekitar 4,8 kWh per meter persegi per hari, Bogor berada pada kisaran 4,3 hingga 4,5 kWh per meter persegi per hari.
Baca Juga: Energi Surya Mulai Berkembang di Kota Bogor, Botani Square Pasang 2.116 Panel
Meski demikian, menurutnya kondisi tersebut tidak mengurangi peluang pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kota Bogor.
"Karakteristik cuaca Bogor memang berbeda, tetapi nilai ekonomi dari pemanfaatan energi surya tetap sangat besar, jika dioptimalkan, nilainya bahkan bisa mencapai lebih dari Rp100 juta per hari," ujarnya.
Didik mengatakan, perkembangan teknologi PLTS atap diperkirakan akan menjadi yang paling pesat di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Karena itu, pemerintah daerah perlu mulai menyiapkan kebijakan yang mampu mendorong pemanfaatan energi terbarukan secara lebih luas.
Ia mengakui masih terdapat tantangan dari sisi regulasi, terutama terkait sistem PLTS yang terhubung dengan jaringan PLN. Menurutnya, perubahan kebijakan terjadi karena kondisi pasokan listrik nasional yang saat ini masih mengalami surplus.
"Dulu ada skema ekspor listrik ke jaringan PLN. Sekarang aturannya berubah karena kondisi over supply. Namun minat masyarakat terhadap PLTS atap tetap sangat tinggi," katanya.
Didik menilai pemerintah daerah harus memanfaatkan potensi energi lokal agar tidak terus bergantung pada pasokan energi konvensional.
"Kalau potensi energi alternatif ini tidak dikelola secara serius, daerah akan terus bergantung pada pasokan energi dari pusat. Padahal kita memiliki modal dan potensi yang sangat besar untuk mewujudkan kemandirian energi," tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Manajer PLN UP3 Bogor, Grahaita Gumelar mengatakan tren pemasangan PLTS atap di masyarakat memang terus meningkat. Namun, sebagian besar instalasi yang berkembang saat ini menggunakan sistem mandiri atau off-grid berbasis baterai.
"Perkembangan rooftop cukup masif. Mayoritas yang dipasang sekarang menggunakan sistem off-grid, bukan yang terhubung langsung dengan jaringan PLN. Regulasi akan terus disesuaikan untuk menjaga keseimbangan sistem kelistrikan," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor Ahmad Aswandi menilai pengembangan energi baru terbarukan harus dibarengi dengan penyediaan infrastruktur kelistrikan yang merata hingga wilayah perbatasan Kota Bogor.
Menurutnya, kawasan seperti Kayumanis hingga Mulyaharja masih membutuhkan perhatian dalam pengembangan jaringan utilitas sehingga seluruh masyarakat dapat menikmati layanan kelistrikan secara optimal.
"Grand design pengembangan energi harus disiapkan sejak awal. Infrastruktur pendukungnya juga harus menjangkau seluruh wilayah agar manfaatnya dirasakan secara merata," pungkasnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati