Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Pemkot Bogor Gandeng Donatur Kejar Zero New Stunting, 512 Balita Sudah Lulus

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 30 Juni 2026 | 21:07 WIB
Konvergensi stunting di Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor. (Fikri/Radar Bogor)
Konvergensi stunting di Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor. (Fikri/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat penurunan sekaligus mencegah munculnya kasus stunting baru. Hingga pertengahan 2026, sebanyak 512 balita di Kota Bogor dinyatakan lulus dari stunting.

Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Wali Kota Bogor sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan dan Pencegahan Stunting (TPPPS) Kota Bogor, Jenal Mutaqin, saat menghadiri kegiatan konvergensi stunting di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Selasa, 30 Juni 2026.

Dalam kesempatan itu, Jenal menyerahkan Sertifikat Penghargaan kepada Yayasan Harapan Bangsa Mandiri (HBLM) sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi yayasan tersebut dalam mendukung penanganan stunting di Kota Bogor selama 2025 hingga 2026.

Baca Juga: KPKNL Bogor Tampung Masukan Pengguna Layanan, Siapkan Evaluasi dan Inovasi

Jenal mengatakan, penanganan stunting tidak dapat hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Menurutnya, keterlibatan seluruh unsur pentahelix, mulai dari masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, hingga komunitas, menjadi kunci percepatan penurunan angka stunting.

"Yayasan ini sudah lama berkiprah memberikan bantuan kepada balita dan anak-anak di sekitar kelurahan secara konsisten setiap bulan. Ini menjadi ikhtiar dan syiar yang kuat bahwa penanganan stunting di Kota Bogor dilakukan secara serius," katanya.

Untuk memperkuat transparansi kepada para donatur, Pemkot Bogor mengoptimalkan penggunaan aplikasi Besti (Bebas Stunting) yang telah diluncurkan pada Januari 2026. Melalui aplikasi tersebut, setiap donatur akan memperoleh akun khusus untuk memantau perkembangan anak yang mereka dampingi.

"Donatur bisa memantau penambahan berat badan, status gizi, lingkar kepala, hingga tinggi badan. Ruang ini kita ciptakan agar donatur mengetahui bahwa bantuan mereka betul-betul sampai dan berdampak," jelasnya.

Jenal menegaskan, percepatan penurunan stunting menjadi salah satu arahan pemerintah pusat yang harus diwujudkan di daerah. Karena itu, selain mengejar penurunan angka stunting, Pemkot Bogor kini berfokus mencegah munculnya kasus baru atau Zero New Stunting menjelang Bulan Penimbangan Balita pada Agustus mendatang.

Menurutnya, upaya pencegahan tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga memperhatikan sanitasi lingkungan, akses air bersih, serta pola asuh orang tua yang menjadi salah satu faktor utama tumbuh kembang anak.

"Bukan hanya sekadar melihat kondisi fisik seperti tinggi dan berat badan yang tidak ideal, tapi ini tentang mempersiapkan kemampuan SDM anak-anak kita hingga mereka dewasa. Selain faktor gizi seimbang, sanitasi lingkungan, dan air bersih, faktor penentu yang paling tinggi indikatornya adalah pola asuh orang tua," tegasnya.

Sementara itu, Lurah Babakan Pasar, Kartini Wulandari, mengatakan kegiatan konvergensi stunting dirancang tidak hanya sebagai agenda seremonial, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut menghadirkan talk show bertema "Pentingnya Pengasuhan dan Nutrisi Tepat Menuju Generasi Emas Tahun 2045" dengan narasumber Psikolog Klinis Dinas Kesehatan Kota Bogor, Catharina Nidya Putri. 

Selain itu, disalurkan pula paket bantuan berupa susu, telur, dan buah-buahan kepada 30 penerima yang terdiri atas anak stunting, ibu hamil, keluarga berisiko stunting, orang tua, serta calon pengantin.

Kartini mengungkapkan, kolaborasi antara pemerintah, kader, yayasan, komunitas, dan tokoh masyarakat telah memberikan dampak nyata terhadap penurunan angka stunting di wilayahnya.

"Berdasarkan data awal, angka stunting atau rawan stunting sempat mencapai 49 anak, kemudian turun menjadi 13 anak, dan berdasarkan hasil penimbangan terakhir per Februari 2026 kini tersisa sembilan anak," ujarnya.

Dia berharap seluruh elemen di Kecamatan Bogor Tengah, termasuk Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dalduk KB), Puskesmas Belong, komunitas, hingga sektor swasta dapat bergerak terus melakukan jemput bola apabila ditemukan balita yang membutuhkan intervensi gizi maupun pendampingan. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #stunting #balita