Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dishub Kota Bogor Nonaktifkan Dua Halte Biskita, Warganet : Malu Kalah Sama Angkot

Fikri Rahmat Utama • Rabu, 1 Juli 2026 | 14:45 WIB
Biskita Transpakuan saat berhenti di halte. Dua halte Biskita di Koridor 2 rute Bubulak-Ciawi ditutup sementar oleh Dishun Kota Bogor,
Biskita Transpakuan saat berhenti di halte. Dua halte Biskita di Koridor 2 rute Bubulak-Ciawi ditutup sementar oleh Dishun Kota Bogor,

RADAR BOGOR – Keputusan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor menonaktifkan dua halte Biskita Transpakuan di Koridor 2 rute Bubulak-Ciawi menuai sorotan masyarakat. 

Warganet menyayangkan kebijakan tersebut, karena mengakomodasi tuntutan pengemudi angkot dibanding kepentingan pengguna transportasi umum Biskita.

Dua halte Biskita yang dinonaktifkan sejak 29 Juni 2026 itu adalah Bus Stop Wangun dan Bus Stop Biotrop. 

Kebijakan tersebut diambil setelah muncul demonstrasi dari pengemudi angkot Trayek 21 yang meminta delapan titik halte Biskita di koridor tersebut dihentikan operasionalnya.

Di akun Instagram Dishub Kota Bogor, banyak pengguna Biskita mengaku kecewa. Mereka menilai kehadiran Biskita selama ini menjadi alternatif transportasi yang lebih nyaman dan efisien dibanding angkot.

Akun @tiaramandalawangi menilai penonaktifan halte merugikan pengguna Biskita yang mengandalkan layanan tersebut untuk beraktivitas setiap hari.

Baca Juga: Kuliner Viral Tuban, Godeh Pero di Warung Pegunungan Ini Ludes dalam 1 Jam

"Padahal buat guru rumahnya di Cicurug, Cibedug, Kabupaten Bogor, Biskita justru sangat membantu. Sekarang malah dinonaktifkan gara-gara demo angkot, kan seharusnya Biskita yang lebih banyak dibanding angkot," tulisnya.

Sementara akun @dikkdijung_ menilai pemerintah terkesan mengalah terhadap tuntutan angkot. 

"Gilaa sih, pemerintah kalah sama angkot," tulisnya. Senada, akun @fiq_rhakim menulis singkat, "Malu kalah sama angkot".

Akun @jejakpenanda turut mengkritik kebijakan tersebut. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih berani mengambil keputusan yang berpihak pada transportasi publik. "Payah, ga ada yang bisa kerja, ga mau maju. Kalah sama sampah," tulisnya.

Akun @enggaputri28 berharap halte di kawasan Kampung Perca tetap dioperasikan karena sangat membantu mobilitas warga.

"Tolong lah ini udah seneng loh ada halte di sini karena deket banget sama rumah. Ngebantu banget dengan adanya halte Kampung Perca. Apa kita perlu demo juga biar halte Kampung Perca aktif lagi?," tulisnya.

Hal senada disampaikan akun @yuandrs yang mengaku lebih memilih menggunakan Biskita dibanding angkot.

"Padahal saya juga kebantu banget sama pemberhentiannya. Kalau angkot lama banget bisa habis 30 menit buat ngetem doang," tulisnya.

Warganet lainnya, @andawrd, berpendapat kemacetan di ruas jalan tersebut bukan disebabkan keberadaan halte Biskita, melainkan masih banyaknya angkot yang berhenti dan menunggu penumpang di badan jalan.

"Jujur lebih milih Biskita, karena kalau naik angkot suka ngetem lama, berhenti sembarangan, bikin macet. Harusnya yang ditertibkan itu angkot yang ngetem," tulisnya.

Baca Juga: Ikuti Kejurnas Autokhana, Pembalap Muda Kota Bogor Danesh Dario Optimistis Juara

Menanggapi berbagai tanggapan tersebut, Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Bogor Dody Wahyudin menjelaskan penonaktifan dua halte Biskita dilakukan sebagai langkah sementara untuk menjaga kondusivitas di lapangan.

Menurut Dody, sebelumnya Dishub telah mengaktifkan 35 titik bus stop baru. Dari jumlah tersebut, 18 titik atau sekitar 50 persen berada di Koridor 2 Bubulak-Ciawi.

Ia mengatakan, pemerintah sebenarnya menerima tuntutan penonaktifan delapan halte dari pengemudi angkot.

Namun setelah dilakukan pembahasan, hanya dua halte yang akhirnya dinonaktifkan sementara.

"Dari sejumlah tuntutan yang disampaikan terkait penonaktifan delapan bus stop, Pemkot Bogor melalui Dinas Perhubungan hanya mengakomodasi dua titik bus stop, yaitu Wangun dan Biotrop," ujarnya.

Dody menegaskan kebijakan tersebut merupakan upaya menjaga keseimbangan antara peningkatan layanan transportasi publik melalui Biskita dan perhatian terhadap aspirasi pelaku angkutan umum.

Ia memastikan evaluasi akan terus dilakukan dengan mempertimbangkan pelayanan kepada masyarakat, aspek keselamatan, serta kondisi operasional transportasi di lapangan.

"Evaluasi terhadap kebijakan ini akan terus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek pelayanan masyarakat, keselamatan, serta kondisi operasional transportasi di lapangan," pungkasnya. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
#kota bogor #dinas perhubungan #Biskita #halte