Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Rakernas APEKSI 2026, Dedie Rachim Ungkap Strategi Bangun Identitas Kota Bogor

Fikri Rahmat Utama • Kamis, 2 Juli 2026 | 22:19 WIB
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim saat menghadiri Rakernas XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026. (Dok. Humas Pemkot Bogor)
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim saat menghadiri Rakernas XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026. (Dok. Humas Pemkot Bogor)

RADAR BOGOR – Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, menyampaikan komitmen Pemerintah Kota Bogor dalam memperkuat identitas daerah melalui pengembangan city branding. Salah satu langkah strategis yang tengah dipersiapkan adalah membangun citra Kota Bogor sebagai City of Gastronomy dengan memanfaatkan potensi sektor kuliner yang terus mengalami pertumbuhan.

Pernyataan tersebut disampaikan Dedie saat mengikuti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Tahun 2026 yang berlangsung di Kota Medan pada Rabu, 1 Juli 2026. Dalam forum tersebut, penguatan identitas kota melalui city branding menjadi salah satu topik utama yang dibahas.

Dedie menilai bahwa Kota Bogor memiliki berbagai keunggulan yang dapat mendukung terwujudnya predikat sebagai kota gastronomi. Selain telah dikenal sebagai salah satu tujuan wisata kuliner, kota ini juga memiliki ekosistem yang memadai, meliputi pelaku usaha, ketersediaan bahan baku, serta dukungan dari institusi pendidikan tinggi.

Baca Juga: Pembongkaran Pasar Bogor Ditarget Selesai Desember 2026, Ini Tahapan Selanjutnya

"Kami ingin ke depan Kota Bogor dikenal sebagai City of Gastronomy, potensinya sangat besar karena kuliner di Kota Bogor terus berkembang dan menjadi daya tarik masyarakat, bukan hanya dari Jabodetabek, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara," ujar Dedie.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Bogor menargetkan agar pada masa mendatang kota ini semakin dikenal sebagai City of Gastronomy. Menurutnya, potensi tersebut sangat besar karena perkembangan industri kuliner di Kota Bogor terus meningkat dan mampu menarik minat masyarakat, tidak hanya dari kawasan Jabodetabek, tetapi juga dari berbagai wilayah di Indonesia hingga wisatawan mancanegara.

Lebih lanjut, Dedie menegaskan bahwa pengembangan city branding tidak hanya bertujuan membentuk citra positif daerah, tetapi juga menjadi instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor kuliner.

Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan kafe, restoran, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang kuliner menunjukkan perkembangan yang positif. Kondisi tersebut didukung oleh rantai pasok bahan baku yang memadai serta kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan industri kuliner.

Menurutnya, seluruh komponen pendukung telah tersedia, mulai dari pelaku usaha, sistem distribusi bahan baku, hingga keterlibatan akademisi. Kombinasi tersebut menjadi modal penting bagi Kota Bogor dalam membangun identitas sebagai kota gastronomi.

Melalui penguatan city branding tersebut, Dedie berharap Kota Bogor mampu meningkatkan daya saing sebagai destinasi wisata, menarik lebih banyak investasi, serta memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, menekankan bahwa setiap daerah perlu memiliki identitas yang jelas agar mampu meningkatkan daya saing sekaligus memperbesar potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Bima menyampaikan bahwa identitas kota atau city branding merupakan fondasi awal bagi sebuah daerah untuk memperluas pengenalannya sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap PAD.

"Ada satu hal yang ingin saya titipkan di sini, karena ini menjadi langkah awal ketika sebuah kota ingin lebih dikenal dan meningkatkan PAD, yaitu identitas kota atau city branding," kata Bima Arya.

Ia juga menegaskan bahwa city branding tidak boleh dimaknai hanya sebagai upaya membangun citra semata, melainkan harus mencerminkan kondisi daerah saat ini, merepresentasikan perjalanan sejarahnya, serta menggambarkan visi pembangunan pada masa depan.

"Branding bukan hanya pencitraan, branding yang baik adalah citra hari ini, cerita masa lalu, dan cita-cita masa depan yang saling terhubung," jelasnya.

Menurut Bima, sebuah branding yang efektif merupakan perpaduan antara kondisi kekinian, nilai historis, dan arah pembangunan yang saling berkaitan sehingga mampu membentuk identitas kota yang kuat.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa semakin banyak pemerintah daerah di Indonesia yang mulai mengembangkan city branding sebagai strategi untuk memperkuat identitas wilayah sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.(uma)

 

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #apeksi #Dedie Rachim