RADAR BOGOR – Penanganan kerusakan Jalan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor akibat longsor mulai dikerjakan. Alat berat ekskavator telah diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pembersihan lahan dan pengerukan badan jalan yang runtuh, Jumat, 3 Juli 2026.
Pantauan di lokasi, hampir setengah badan jalan yang longsor telah dikeruk hingga ke lapisan bawah. Pengerukan tersebut menjadi tahap awal sebelum pembangunan trase jalan baru dimulai.
Selama pekerjaan berlangsung, arus lalu lintas di lokasi diberlakukan buka tutup, jalur yang masih tersisa dipasangi barikade pengaman dan hanya dapat dilalui kendaraan secara bergantian. Sejumlah pekerja juga tampak melakukan pengukuran di area yang akan dibangun.
Baca Juga: Harga Daging Ayam dan Telur di Pasar Cibinong Bogor Turun, Ini Penyebabnya
Kepala UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, Andi Nugroho, membenarkan pekerjaan sudah dimulai.
"Iya, sudah mulai dikerjakan," ujar Andi kepada Radar Bogor.
Andi menjelaskan, saat ini pekerjaan masih berada pada tahap persiapan. Kegiatan yang dilakukan meliputi pembersihan lahan, pengukuran, serta mobilisasi pekerja dan alat berat.
"Tahap persiapan. Pembersihan lahan, pengukuran, dan mobilisasi pekerja serta alat. Secepatnya akan dilaksanakan ke tahap konstruksi," katanya.
Sebelumnya, penanganan longsor Kebon Pedes resmi dimulai setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyerahkan Surat Perintah Kerja (SPK) kepada kontraktor pelaksana pada Rabu, 17 Juni 2026.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim yang turut mendampingi penyerahan SPK mengatakan, longsor terjadi pada 15 Januari 2026 dan penanganannya menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
"Kami mengusulkan agar penanganannya dapat diprioritaskan, alhamdulillah hari ini sudah ditandatangani SPK-nya," ujar Dedie.
Ia menjelaskan, proyek penanganan longsor ditargetkan selesai dalam waktu 150 hari kerja dengan anggaran sebesar Rp5,4 miliar.
"Segala sesuatu perlu proses. Anggarannya harus dimunculkan dan nilainya cukup besar, sekitar Rp5,4 miliar," katanya.
Menurut Dedie, penanganan longsor meliputi pembangunan dinding penahan tanah (DPT), pemasangan bronjong, beton, material batu granular, serta penataan jalur aliran air agar lebih baik.
Untuk mempercepat penyelesaian proyek, pekerjaan akan dilakukan hingga malam hari. Karena itu, masyarakat diminta memahami jika selama proses pembangunan terjadi hambatan lalu lintas akibat keluar masuknya alat berat.
"Waktunya terbatas dan biayanya juga besar. Mungkin nanti akan ada buka tutup saat alat berat masuk," ucapnya.
Dedie juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. Menurutnya, tumpukan sampah yang menghambat aliran air menjadi salah satu faktor yang memperparah longsor di lokasi tersebut.
"Tumpukan sampah menghalangi jalur air. Beban pada dinding menjadi besar hingga akhirnya ambrol," katanya.
Sebagai informasi, tebing yang longsor di Jalan Kebon Pedes memiliki tinggi sekitar tujuh meter. Sementara panjang penanganan longsor secara keseluruhan mencapai 63 meter. (uma)
Editor : Eka Rahmawati