RADAR BOGOR – Kebijakan pemangkasan potongan komisi aplikator ojek online (ojol) menjadi maksimal 8 persen mulai dirasakan para mitra pengemudi. Namun, di balik kebijakan yang mulai berlaku sejak 1 Juli 2026 itu, masih ada persoalan lain yang dialami driver.
Salah seorang mitra pengemudi Grab di Bogor, Wahyu (31), mengaku kebijakan penurunan potongan komisi membawa dampak positif dibandingkan skema sebelumnya.
Menurutnya, sebelum aturan tersebut diterapkan, potongan yang diterima pengemudi bisa mencapai 20 hingga 30 persen.
Baca Juga: Sabet 2 Emas, Pelajar Kota Bogor Wakili Jabar ke O2SN Nasional
"Kalau dulu untuk tarif Rp10.400, yang kami terima bersih hanya sekitar Rp7.000, setelah ada potongan maksimal 8 persen, pendapatan driver memang lebih baik karena potongannya tidak terlalu besar," ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu, 9 Juli 2026.
Kebijakan penurunan komisi menjadi 8 persen diterapkan oleh Grab dan Gojek sejak 1 Juli 2026 sebagai tindak lanjut kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi.
Meski demikian, Wahyu menilai persoalan belum sepenuhnya selesai. Ia menyoroti layanan Paket Hemat yang saat ini lebih banyak dipilih pelanggan karena menawarkan tarif lebih murah dibandingkan layanan reguler.
"Kalau customer pasti pilih Paket Hemat karena selisih tarifnya bisa Rp7.000 sampai Rp8.000 lebih murah. Akhirnya order reguler jadi jarang masuk," katanya.
Menurutnya, keberadaan Paket Hemat membuat sebagian besar pengemudi tidak memiliki banyak pilihan. Sebab, jika hanya mengaktifkan layanan reguler, jumlah order yang diterima akan jauh berkurang.
"Harapan kami Paket Hemat ditiadakan saja. Soalnya sekarang hampir semua orang pilih yang Hemat," ucapnya.
Ia juga mengaku sistem potongan saat ini masih terasa memberatkan ketika pendapatan harian meningkat. Jika total pendapatan dalam sehari mencapai Rp300 ribu, maka potongan 8 persen yang dikenakan nilainya dinilai lebih besar dibandingkan skema lama yang menggunakan batas potongan harian.
Selain itu, Wahyu mengatakan jumlah order di Kota Bogor selama masa libur sekolah justru mengalami penurunan.
Menurutnya, permintaan perjalanan biasanya lebih tinggi saat aktivitas sekolah dan perkantoran berlangsung normal.
"Kalau liburan seperti sekarang enggak tentu. Kadang ramai, kadang sepi. Rata-rata di Bogor dapat 10 sampai 15 order sehari sudah normal. Kalau bisa tembus 20 order itu sudah bagus," katanya.
Ia menambahkan, kondisi berbeda terjadi saat hujan turun. Sebagai Kota Hujan, Bogor kerap mengalami kenaikan tarif secara otomatis karena jumlah pengemudi yang tetap aktif berkurang.
"Kalau hujan biasanya tarif naik otomatis. Driver yang aktif lebih sedikit, jadi tarifnya ikut naik," tuturnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati