Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Demam Sepeda Kalcer di Kota Bogor, Olahraga yang Kian Digandrungi Anak Muda

Muhamad Rifki Fauzan • Jumat, 10 Juli 2026 | 20:54 WIB
Indra Julianto saat mengendari Sepeda Kalcernya (Dok. Indra Julianto)
Indra Julianto saat mengendari sepeda kalcernya (Dok. Indra Julianto)

RADAR BOGOR - Tren sepeda kalcer kian menjamur di Kota Bogor. Sepeda bergaya vintage itu kini banyak digandrungi anak-anak muda.

Pesepeda sekaligus pegiat komunitas Olahgaya, Indra Julianto, mengatakan tren sepeda kalcer sebenarnya mulai berkembang sejak masa pascapandemi, bahkan sebelum tren lari kembali populer.

Menurutnya, istilah ‘kalcer’ berasal dari kata culture atau budaya yang kemudian berkembang menjadi bahasa gaul untuk menggambarkan gaya bersepeda yang mengedepankan unsur klasik sekaligus modern.

"Sepeda kalcer itu bukan jenis sepeda tertentu, melainkan lebih kepada gaya. Awalnya banyak orang merestorasi sepeda-sepeda lawas, lalu memodifikasinya agar terlihat lebih modern tanpa menghilangkan karakter vintage-nya," ujar pria yang juga akrab disapa Idot itu.

Baca Juga: Jalur R2 Sisi Utara Mulai Digarap, Hubungkan Jalan KS Tubun Bogor ke Kaum Sari

Ia menjelaskan, sebagian besar sepeda kalcer menggunakan sepeda lama yang direstorasi, seperti sepeda Federal berukuran ban 20 inci yang sempat populer pada masanya. 

Namun, kini banyak pula sepeda keluaran pabrikan yang dimodifikasi dengan kombinasi warna-warna lebih mencolok dan kekinian sehingga tampil lebih menarik.

Dari sisi biaya, membangun sepeda kalcer membutuhkan dana yang bervariasi. Sepeda bekas sebagai bahan dasar umumnya dibanderol sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta. 

Sementara sepeda baru keluaran pabrikan berada di kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta, tergantung spesifikasinya. Adapun untuk membangun sepeda dari nol dengan komponen pilihan, biaya yang dikeluarkan bisa melebihi Rp5 juta. 

Hal tersebut dipengaruhi harga berbagai komponen yang digunakan demi menunjang tampilan maupun performa sepeda.

"Semuanya kembali ke selera masing-masing. Ada yang lebih mengutamakan fungsi, ada juga yang fokus pada penampilan. Yang penting tetap keren," katanya.

Tak hanya sepeda, tren kalcer juga memengaruhi gaya berpakaian para pesepeda. Outfit kasual menjadi pilihan yang banyak digunakan, meski tetap disesuaikan dengan kebutuhan berkendara.

"Kalau untuk gowes jarak jauh tentu lebih nyaman memakai pakaian yang mendukung aktivitas bersepeda. Tapi ada juga yang tetap memilih pakaian kasual agar sesuai dengan konsep sepedanya," jelasnya.

Dalam kesehariannya, Idot mengaku rutin bersepeda dua kali setiap pekan bersama komunitas Olahgaya. Mereka biasanya memulai perjalanan dari kawasan BNI Djuanda dan berkeliling Kota Bogor. 

Sementara untuk perjalanan jarak jauh, seperti menuju Curug atau kawasan Puncak, dilakukan sekitar satu kali setiap bulan.

Selain bersepeda, komunitas tersebut juga memanfaatkan waktu berkumpul untuk mempererat silaturahmi melalui kegiatan ngopi bersama sekaligus menyusun agenda komunitas. Setiap tiga bulan sekali, mereka rutin menggelar kegiatan gowes bersama dengan rute yang lebih menantang. (bay)

Editor : Eka Rahmawati
#kalcer #bogor #sepeda