RADAR BOGOR – Antrean panjang kendaraan terlihat di SPBU Jalan Soleh Iskandar (Solis), Kota Bogor, Minggu, 12 Juli 2026. Pengendara, terutama roda dua, harus rela mengantre hingga puluhan menit demi mendapatkan BBM bersubsidi jenis Pertalite.
Barisan kendaraan bahkan terlihat meluber SPBU Sholis Bogor hingga ke bahu jalan. Kondisi tersebut memicu keluhan para pengendara yang mengaku kesulitan menemukan Pertalite di sejumlah SPBU dalam beberapa hari terakhir.
Salah seorang pengendara warga Bogor yang juga antre Pertalite di SPBU Sholis mengaku sempat membatalkan pengisian BBM karena antrean yang terlalu panjang. Namun saat kembali beberapa jam kemudian, kondisi antrean masih belum berkurang.
Baca Juga: bank bjb Gandeng Kemenaker, Perkuat Kompetensi SDM dan Perluas Akses Layanan Perbankan
“Tadi pagi saya datang, antreannya sampai ke jalan. Saya pulang dulu, pas balik lagi ternyata masih panjang,” ujarnya.
Di tengah padatnya antrean Pertalite, pompa pengisian BBM non-subsidi justru tampak lebih lengang. Petugas SPBU terlihat sibuk melayani kendaraan yang terus berdatangan untuk mengisi Pertalite.
Berdasarkan pantauan di lokasi, pengendara harus menunggu sekitar 30 menit untuk bisa mengisi BBM jenis tersebut.
Kondisi serupa dirasakan Dede, seorang pengemudi ojek online. Ia mengaku sudah tiga hari berkeliling mencari Pertalite di sejumlah SPBU Kota Bogor, namun sering kali kehabisan stok atau harus menghadapi antrean panjang.
“Beberapa hari terakhir susah cari Pertalite. Kalau ada, antreannya panjang sekali,” katanya.
Menurut Dede, Pertalite masih menjadi pilihan utama karena lebih terjangkau dibandingkan BBM non-subsidi. Sebagai pengemudi ojek online, ia harus menyesuaikan pengeluaran operasional dengan pendapatan harian.
Baca Juga: Keren! Siswa SMAN 1 Kota Bogor Naik Podium di Seri Pembuka Kejurnas Autokhana 2026
“Kalau pakai Pertamax cukup berat buat kami. Biasanya saya isi Pertalite penuh sekitar Rp40 ribu,” ujarnya.
Para pengendara berharap pasokan Pertalite kembali normal sehingga antrean panjang di SPBU dapat berkurang. Mereka juga berharap harga BBM non-subsidi bisa lebih terjangkau agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kendaraan.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga