RADAR BOGOR - Berkunjung ke kota Bogor tanpa mampir ke Kebun Raya Bogor, rasanya ada yang kurang.
Taman seluas ribuan hektare di jantung Kota Bogor ini, telah menjadi ikon kota yang mendapat julukan kota hujan.
Setiap hari, bahkan di akhir libur atau akhir pekan, banyak orang mendatangi Kebun Raya Bogor untuk sekedar berolahraga, liburan, dan berbagai aktivitas seru lainnya.
Baca Juga: Kemarau Mulai Terasa! Debit Dua Sumber Air Baku Kota Bogor Menyusut, Warga Diimbau Hemat Air
Tak ada yang menyadari jika diantara rimbunnya pepohonan Kebun Raya Bogor, terdapat komplek bangunan bersejarah yang usianya bahkan lebih tua dari Kebun Raya Bogor itu sendiri.
Komplek bangunan makam Belanda berada di dalam Kebun Raya Bogor.
Untuk menuju lokasi, kita perlu melewati pepohonan bambu yang rindang.
Baca Juga: Guru di Kota Bogor Diajak Cegah Kanker, Ini Langkah Nyatanya
Tak banyak orang yang mengetahui atau sengaja berkunjung karena letaknya yang tersembunyi.
Saat sampai, batu nisan putih dengan arsitektur bergaya khas Eropa terlihat unik, beragam bentuk, dan bersejarah terhampar di atas rumput hijau.
Berjalan di antara deretan makam ini seperti membaca manifesto arsitektur Eropa masa lalu.
Bentuk makamnya bervariasi, mulai dari tugu batu runcing ala Mesir kuno (obelisk) hingga batu nisan besar dan kokoh yang permukaannya kini mulai terkikis waktu dan ditumbuhi lumut tipis.
Ada juga makam yang berbentuk seperti bunga teratai.
Selain tulisan, terdapat juga beragam ukiran relief di makam tersebut, seperti bintang, dedaunan, dan ornament lainnya.
Sejuk dipayungi rindangnya pepohonan.
Sunyi, tak ada suara berisik yang menganggu ketenangan.
Bagi sebagian orang, komplek pemakaman Belanda ini terlihat misterius, horor, namun bagi pecinta sejarah ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Baca Juga: Risole Bogor, Jajanan Risol Digoreng Dadakan di Bukit Asri Ciomas dengan 8 Varian Rasa
Terdapat 42 makam Belanda, namun hanya 38 makam yang dapat dikenali, sisanya sudah sulit terbaca.
Makam tertua berusia 242 tahun, bertuliskan nama Cornelis Potmans yang meninggal pada tahun 1784.
Baca Juga: Berawal dari Dapur Rumah, Brownies Ketan Sidoarjo Kini Diekspor ke 5 Negara
Ini membuktikan, usia komplek makam yang lebih tua ketimbang usia Kebun Raya Bogor sendiri yang baru diresmikan sekitar tahun 1817 oleh Caspar Georg Karl Reinwardt, pemimpin pertama Kebun Raya Bogor.
Membaca deretan nama dalam nisan makam, terlihat bahwa pemakaman ini bukanlah pemakaman Belanda biasa.
Banyak tokoh penting yang dimakamkan disini, mulai dari gubernur jenderal hingga pegawai administrator.
Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1836-1840, D.J. de Eerens, pejabat sementara Gubernur Jenderal Belanda yang juga ahli hukum Mr. Ary Prins.
Selain itu, ada juga makam peneliti AJGH Kostermans, Heinrich Kuhl, dan JC Van Hasselt.
Bagi pecinta sejarah, komplek pemakaman Belanda ini menjadi salah satu sumber sejarah yang memberikan gambaran tentang kehidupan di masa kolonial dulu.
Baca Juga: Liverpool Punya Rival Baru! Tottenham Masuk Perburuan Francisco Trincao
Banyaknya tokoh peneliti flora dan fauna menunjukkan, fungsi Kebun Raya Bogor sebagai pusat penelitian saat itu yang masih terus dipertahankan.
Menatap 42 makam Belanda kuno ini memberikan sudut pandang kontras bagi siapa saja yang berkunjung.
Tepat di luar pagar bambu, suara tawa anak-anak berlarian dan deru angin Kota Bogor terasa begitu hidup.
Namun, begitu melangkah ke dalam area makam, atmosfer berganti menjadi senyap dan kontemplatif.
Kompleks makam ini, bukan sekadar area mistis atau objek foto instagenik semata.
Ini adalah lembaran buku sejarah yang terbuka.
Sebuah pengingat bahwa di bawah rindangnya pohon-pohon raksasa Kebun Raya Bogor, terkubur untaian kisah tentang ambisi kekuasaan, romantisme masa lalu, dan dedikasi tanpa batas terhadap ilmu pengetahuan.
Bagaimana? Jangan lupa berkunjung ke kompleks makam ini jika sedang bermain di Kebun Raya Bogor. (*)
Penulis :
Ketua MGMP Sejarah Kota Bogor, Hesti Dwi Rachmawati
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim