RADAR BOGOR - Siapa bilang belajar Sejarah harus identik dengan menghafal?
5 siswi SMAN 10 Kota Bogor, berhasil mematahkan anggapan tersebut dengan menghadirkan inovasi pembelajaran yang kreatif.
Mereka memodifikasi permainan monopoli menjadi Monopoli Sejarah, sebuah media edukatif yang mengajak siswa mengenal kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia melalui permainan yang interaktif dan menyenangkan.
Baca Juga: Sampah di Kali Baru Cibinong Bogor Diperkirakan Capai 230 Ton, Ini Pesan Pemkab
Inovasi ini merupakan hasil pembelajaran berbasis projek (Project Based Learning) pada mata pelajaran Sejarah.
Melalui proyek tersebut, para siswa diberi kebebasan menciptakan produk yang mampu mendukung proses belajar agar lebih menarik sekaligus meningkatkan pemahaman materi.
Berawal dari Keinginan Belajar Tanpa Harus Menghafal
Salah seorang anggota tim, Rancetta Hanani mengatakan, ide membuat Monopoli Sejarah muncul dari keinginan menghadirkan suasana belajar yang lebih santai, tetapi tetap bermakna.
Baca Juga: Sunyi di Balik Rindang Bambu: Rahasia 42 Makam Belanda yang Lebih Tua dari Kebun Raya Bogor
"Kami ingin belajar sambil bermain game. Jadi, tidak hanya menghafal materi, tetapi juga memahami sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan," ujar Rancetta.
Senada dengan itu, Thalita Zahra Wafiyah, anggota tim pengembang Monopoli Sejarah menjelaskan, kelompoknya memang sengaja memilih permainan monopoli karena sudah dikenal banyak orang dan mudah dimainkan.
"Dalam pembelajaran berbasis projek kami bebas menentukan karya yang akan dibuat. Kami ingin proses belajar Sejarah tidak monoton, sehingga memilih monopoli sebagai media pembelajaran agar teman-teman lebih antusias mengikuti pelajaran," katanya.
Mengangkat Materi Kerajaan Hindu-Buddha
Meski dibuat menggunakan bahan sederhana, Monopoli Sejarah memiliki konsep yang matang.
Papan permainan dibuat dari styrofoam yang dipadukan dengan stik es krim sebagai bingkai, kemudian dilapisi desain khusus bertema kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia.
Setiap petak permainan berisi nama peninggalan kerajaan Hindu-Buddha, sementara kartu-kartu permainan memuat informasi sejarah yang harus dipelajari pemain.
Bahkan, kartu kepemilikan hingga kemasan penyimpanan uang, dadu, rumah mini, dan kartu permainan dirancang secara khusus agar tampil menarik layaknya permainan monopoli komersial.
Baca Juga: Kemarau Mulai Terasa! Debit Dua Sumber Air Baku Kota Bogor Menyusut, Warga Diimbau Hemat Air
Menurut Keisha Anandita Prasetyo, tantangan terbesar dalam pembuatan media pembelajaran tersebut bukan pada bahan, melainkan proses desain.
"Bagian yang paling sulit adalah mengatur waktu karena proses mendesain papan permainan dan seluruh kartu membutuhkan waktu yang cukup lama," ungkapnya.
Guru Apresiasi Kreativitas dan Berpikir Kritis Siswa
Guru mata pelajaran Sejarah SMAN 10 Kota Bogor, Hesti Dwi Rachmawati, memberikan apresiasi atas kreativitas para siswanya.
Ia menilai, pembelajaran berbasis projek sangat relevan diterapkan dalam konsep pembelajaran mendalam (deep learning), karena mampu mendorong peserta didik menghasilkan karya yang inovatif.
Menurut Hesti, Monopoli Sejarah bukan sekadar memodifikasi permainan yang sudah ada, tetapi juga menuntut kemampuan berpikir kritis dalam memilih materi yang layak dimasukkan ke dalam permainan sekaligus kreativitas dalam mendesain tampilannya.
"Melalui pembelajaran berbasis projek, siswa memiliki ruang untuk berinovasi sesuai minatnya. Monopoli Sejarah ini menjadi contoh bagaimana kreativitas dan kemampuan berpikir kritis dapat berkembang bersamaan dalam proses belajar," jelasnya.
Belajar Sambil Bermain Tingkatkan Semangat Siswa
Media pembelajaran tersebut juga mendapat respons positif dari siswa lain yang telah mencobanya.
Eldhira Novelia Gendhis, siswi kelas X SMAN 10 Kota Bogor, mengaku permainan itu membuat suasana belajar jauh lebih hidup.
Menurutnya, permainan mendorong siswa berpikir lebih aktif karena setiap peserta berusaha memahami materi agar mampu memenangkan permainan.
Baca Juga: Guru di Kota Bogor Diajak Cegah Kanker, Ini Langkah Nyatanya
"Belajar lewat permainan membuat kami lebih tertantang. Tanpa disadari, keinginan untuk mempelajari materi juga semakin besar supaya bisa bermain dengan baik," katanya.
Sementara itu, Fitria Andini Rukmiati, anggota tim pembuat Monopoli Sejarah, berharap media yang mereka ciptakan dapat mengubah pandangan siswa terhadap pelajaran Sejarah.
"Kami ingin Sejarah menjadi pelajaran yang lebih seru dan mudah dipahami. Tidak hanya menghafal nama kerajaan, tetapi juga mengenal budaya dan peninggalannya melalui permainan. Selain itu, permainan ini juga melatih kerja sama, kejujuran, dan semangat belajar bersama," ujarnya.
Bukti Inovasi Pendidikan Lahir dari Kreativitas Siswa
Keberhasilan lima siswi SMAN 10 Kota Bogor tersebut menunjukkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu lahir dari teknologi canggih, tetapi juga dapat muncul dari ide-ide sederhana yang dikembangkan dengan kreativitas.
Melalui Monopoli Sejarah, mereka berhasil mengubah permainan legendaris menjadi media pembelajaran yang interaktif sekaligus menyenangkan.
Pendekatan ini membuktikan, memahami sejarah tidak harus dilakukan melalui hafalan semata, melainkan dapat dipelajari melalui pengalaman bermain yang mendorong siswa berpikir aktif.
Baca Juga: bank bjb Gandeng Kemenaker, Perkuat Kompetensi SDM dan Perluas Akses Layanan Perbankan
Lebih dari sekadar mengenalkan materi kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia, Monopoli Sejarah juga menanamkan nilai kolaborasi, sportivitas, kejujuran, serta semangat belajar.
Inovasi sederhana tersebut menjadi inspirasi bahwa pembelajaran yang kreatif mampu membangun pengalaman belajar yang lebih bermakna sekaligus meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran Sejarah. (Hesti Dwi Rachmawati)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim