RADAR BOGOR - Pasar Jambu Dua bersolek, lokasi ini disulap menjadi salah satu pusat kuliner di Kota Bogor, eksitensinya semakin melejit di media sosial.
Banyak konten kreator yang sengaja menyambangi Pasar Jambu Dua untuk ikut mempromosikan, hal ini membuat warga penasaran dengan lokasi tersebut.
Pusat kuliner Pasar Jambu Dua berada di lantai dua, makanan dan minuman yang dijual oleh para pedagang pun cukup beragam.
Pelanggan hanya tinggal pilih, mau menyantap makanan tradisional tau yang kekinian dan dari pintu masuk lantai dua, aroma masakan sudah langsung tercium.
Baca Juga: Penumpang Biskita Tembus 1,5 Juta, DPRD Kota Bogor Dorong Skema Subsidi Berbasis Penumpang
Stand atau lapak pedagang berjejer rapi, sebagian di antara mereka bahkan rela menyewa kios tambahan untuk pelanggan yang hendak nongkrong.
Salah satu kios yang paling banyak diburu pelanggan iyalah milik Amanda Marsha, perempuan berusia 30 tahun ini berjualan minuman hitz yakni minuman matcha.
Usahanya diberi nama Matchanda dan baru satu pekan berjualan di Pasar Jambu Dua. Amanda tertarik buka usaha di lokasi ini karena viral di media sosial.
“Saya baru pertama kali buka usaha, dan langsung di Pasar Jambu Dua, mangkannya ini area dine in nya masih kita tata,” kata Amanda di Pasar Jambu Dua.
Ide jualan ini bermula dari hobinya yang suka minum Matcha, saat itu ia berfikir agar kegemarannya bisa menambah pundi-pundi rupiah.
Menariknya, Amanda belajar meracik Matcha secara otodidak dan hanya bermodal video-video tutorial dari berbagai laman Youtube.
“Otodidak aja yang membedakan racikan kami matchanya langsug dari Jepang, cermonial grade, salah satu menu ada yang diinfuse dengan Mawar,” ujar Amanda.
Di lapaknya, Amanda juga turut menjual Mochi No Mori, makanan viral yang belakangan banyak digandrungi oleh anak-anak muda.
Radar Bogor sempat menjajal Mochi No Mori karya Amanda, makanan ini gabungan antara buah-buahan, seperti stroberi, anggur hijau, dan utamanya mochi.
Semua bahan tersebut digabung dalam satu kap minuman berukuran medium, di atasnya dikasih pelengkap berupa coklat cair dan lelehan matcha.
Kombinasi antara buah segar dan cairan cokelat menambah nikmat Mochi No Mori, makanan desert ini dinilai paling cocok disantap kala siang hari.
“Untuk harganya di kami cukup murah, wemuanya di bawah Rp40 ribu, untuk Mochi No Mori sendiri Rp35 ribu, bah yang kami jual fresh soalnya,” ujar Amanda.
Usaha milik Amanda ini biasanya diserbu saat siang hari pelanggannya pun tidak hanya anak muda, orang tua pun banyak yang penasaran dengan dagangannya.
“Antusias pengunjung alhamdulillah luar biasa, karena mungkin banyak food flogger yang memviralkan dalam sehari biasanya kami menjual 50 cup,” beber Amanda.
Hal serupa juga dialami oleh Cici, Penjual Ayam Goreng Rempah Wangi Nyonyanda, pada Jumat 16 Juli 2026 siang tangannya tidak pernah berhenti ngulek sambel.
Sementara pelanggan terlihat berjejer di depan kiosnya, usaha ayam goreng milik Cici ini memang menjadi salah satu rekomendasi makan berat di Jambu Dua.
Rasa ayam yang lembut, ditambah racikan rempah-rempah, membuat lidah pelanggan kian dimanjakan, belum lagi rasa sambalanya yang pedas.
“Saya bukanya di jam 11.00 WIB tapi mulai-mulai ramai setelah azan zuhur aja, kalau jualan tergantung, tapi biasanya sampai pukul 16.00 WIB,” ungkapnya.
Dalam sehari, ia sampai membawa 100 potong ayam dan semua habis dan nyaris jarang dibawa pulang, hal ini terjadi karena rasanya yang khas.
“Karena kita pakai rempah-rempah jadi ayamnya wangi, ditambah harganya juga murah, cukup Rp26 ribu sudah pakai nasi, kalau ayam aja RP23 ribu,” ujarnya.
Tidak hanya makanan dan minuman, di lantai dua Pasar Jambu Dua juga tersedia kios untuk pelanggan yang hendak photoboth.
Bahkan Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim dan Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin sempat menjajal photobooth di Pasar Jambu Dua akhir bulan Juni lalu.
Keduanya terlihat cukup sumringah, Dedie-Jenal berpose dengan berbagai macam gaya, mulai dari pijit-pijitan hingga mengenakan kacamata hitam.
Dedie bersyukur karena Pasar Jambu Dua kini sudah kembali ramai, para pelaku UMKM yang hendak berjualan di lokasi tersebut cukup membeludak.
“Dari laporan yang kami terima, ternyata demandnya lebih banyak ketimbang suplai, artinya warga kepingin usaha tetapi dengan harga kios terjangkau,” jelasnya.
Di Pasar Jambu Dua sendiri memang banyak promo kios yang diberikan, mereka hanya mengeluarkan uang senilai Rp1 juta untuk menyewa kios selama tiga bulan.
“Dan saya pesan juga kepada PT BAM dan juga PD Pasar kalaupun nanti mau ada penyesuaian harga pelan-pelan, bikin pedagang stabil dulu,” terang Dedie.
Dedie mengungkapkan masih ada 211 pelaku UMKM dari sekitar 600 kios yang belum terakomodir, mereka hingga kini masih menunggu proses pemberkasan.
“Mudah-mudahan ini betul betul bisa menggerakan ekonomi kerakyatan, masyarakat bisa punya alternatif untuk belanja berbagai kuliner,“ ujar Dedie.
Penempatan para pelaku UMKM di Pasar Jambu Dua tidak merubah niat awalnya, lokasi ini masih bisa menampunh ratusan PKL dari Pasar Bogor.
“Masih bisa menampung 300 untuk pasar basah, PKL yang belum mau pindah, sudah ditawarkan dengan harga yang sama, bahkan gratis dulu, jadi jangan sampai kebiasaan, dagang di atas trotoar, PKL harus naik kelas,” pungkasnya. (bay)
Editor : Eka Rahmawati