RADAR BOGOR - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor memperkuat upaya pencegahan penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) melalui perluasan layanan tes dini, pengobatan berkelanjutan, dan edukasi kepada masyarakat, khususnya remaja, langkah tersebut dilakukan untuk menekan kasus baru sekaligus mengejar target eliminasi HIV sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr Erna Nuraena mengatakan, penanggulangan HIV masih menghadapi sejumlah tantangan di antaranya rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai HIV dan masih kuatnya stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) membuat banyak orang enggan melakukan pemeriksaan maupun melanjutkan pengobatan.
"Kasus baru HIV pada kelompok usia remaja menunjukkan tren peningkatan, karena itu edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV sejak dini di kalangan pelajar dan mahasiswa menjadi sangat penting," ujarnya.
Menurut Erna, pencegahan menjadi strategi utama untuk menekan penyebaran HIV, masyarakat perlu memahami bahwa HIV dapat dideteksi lebih awal melalui pemeriksaan dan dapat dikendalikan apabila penderita menjalani terapi secara rutin.
Baca Juga: Realisasi PAD Kota Bogor Capai Rp666 Miliar, Bapenda Beberkan Strategi Jitu
Sepanjang 2025, Kota Bogor mencatat 399 kasus baru HIV dan dari jumlah tersebut, sebanyak 137 kasus telah masuk stadium AIDS.
Data itu menunjukkan masih banyak kasus yang ditemukan ketika kondisi penderita sudah memasuki tahap lanjut sehingga deteksi dini harus terus diperluas.
Di sisi lain, capaian penanganan HIV di Kota Bogor terus menunjukkan perkembangan sampai akhir 2025, sebanyak 3.857 ODHIV telah ditemukan dan masih hidup atau mencapai 63 persen dari target.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.436 orang atau 85 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV) sedangkan 1.914 orang atau 79 persen telah mencapai supresi viral load, yakni kondisi ketika jumlah virus berhasil ditekan melalui pengobatan.
Untuk meningkatkan capaian tersebut, Dinkes menjalankan lima strategi utama, mulai dari memperluas layanan konseling dan tes HIV, menyediakan layanan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP), memperkuat layanan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP), melakukan pemantauan pemeriksaan viral load setiap pekan, hingga memperkuat koordinasi dengan komunitas pendamping ODHIV.
Selain itu, Dinkes juga terus menggencarkan sosialisasi pencegahan HIV di sekolah-sekolah. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman pelajar mengenai kesehatan reproduksi, mencegah perilaku berisiko, serta menghilangkan stigma terhadap ODHIV sejak usia dini.
"HIV bisa dikendalikan, dengan pengobatan ARV yang rutin, orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan tidak menularkan HIV," kata Erna.
Dinkes juga menghadirkan dua inovasi untuk memperkuat pencegahan, pertama, PINK MANJA atau Percepatan Triple Eliminasi kepada Ibu Hamil di Layanan Jejaring, program ini mendorong seluruh ibu hamil menjalani skrining HIV, sifilis, dan hepatitis B guna mencegah penularan penyakit dari ibu kepada bayi.
Inovasi kedua adalah GO AHEAD VL atau Go and Head to Viral Load, program ini membantu ODHIV menjalani pemeriksaan viral load secara rutin melalui sistem pengingat dan pendampingan dari petugas layanan bersama pendamping sebaya. Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah pasien putus pengobatan sekaligus meningkatkan angka supresi viral load.
Saat ini, layanan tes dan konseling HIV telah tersedia di 59 fasilitas kesehatan yang terdiri atas puskesmas, rumah sakit, klinik swasta, hingga fasilitas kesehatan lainnya. Sementara layanan pengobatan ARV tersedia di 41 fasilitas kesehatan dan layanan PrEP telah tersedia di seluruh puskesmas di Kota Bogor sehingga masyarakat memiliki akses yang lebih mudah untuk melakukan pemeriksaan maupun pengobatan.
Erna menegaskan, penanggulangan HIV tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Dinkes telah menggandeng berbagai pihak, mulai dari sekolah, Kementerian Agama, rumah ibadah, dunia usaha, fasilitas kesehatan, hingga komunitas untuk memperluas edukasi, menjangkau kelompok berisiko, serta mengurangi stigma terhadap ODHIV.
"Berani tes adalah langkah pertama untuk melindungi diri sendiri dan orang yang dicintai, kami juga mengajak masyarakat menghentikan stigma terhadap ODHIV karena dengan pengobatan yang rutin mereka dapat hidup sehat dan produktif," tutup Erna. (uma)
Editor : Eka Rahmawati