RADAR BOGOR - Debit Sungai Ciliwung yang menurun saat musim kemarau membuat wajah aliran sungai di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor berubah. Dasar sungai yang biasanya tertutup air kini terlihat dan dimanfaatkan warga sebagai ruang aktivitas.
Hamparan batu dan pasir di sepanjang aliran sungai ramai didatangi warga pada Selasa, 21 Juli 2026. Sejumlah anak terlihat bermain di dasar sungai, berlari di antara bebatuan, bermain air di sisa aliran, hingga memanfaatkan area tersebut untuk menerbangkan layang-layang.
Menjelang sore, aktivitas warga semakin terlihat, selain anak-anak yang bermain, beberapa warga juga memancing di tepian sungai dan memasang keramba ikan sederhana.
Lokasi tersebut berada di depan Pulo Geulis, pulau kecil di tengah Sungai Ciliwung yang membelah aliran sungai menjadi dua bagian. Aliran di sisi kiri merupakan jalur sekunder sehingga debit air lebih cepat menyusut saat musim kemarau.
Kondisi itu membuat dasar sungai berupa batu dan pasir muncul ke permukaan. Warga kemudian memanfaatkannya untuk berbagai aktivitas, mulai dari bermain, memancing, hingga memasang keramba ikan.
Sementara aliran di sisi kanan yang menjadi jalur utama Sungai Ciliwung masih tetap mengalir meski debit air ikut mengalami penurunan.
Baca Juga: Pemprov Jabar Siap Sukseskan Program KITA SEHAT, Kejar Target Angka Harapan Hidup
Warga sekitar, Halik (59), mengatakan fenomena air sungai surut sudah terjadi setiap tahun saat musim kemarau. Menurutnya, kondisi tersebut akan berubah ketika hujan dengan intensitas tinggi turun di wilayah hulu.
“Kondisi air surut seperti ini memang sudah terjadi setiap tahun, karena sedang tidak ada hujan, airnya jadi surut sekali sampai rumput-rumput tumbuh, tapi nanti kalau turun hujan deras, debit airnya bisa membesar lagi, bahkan bisa sampai banjir,” ujarnya.
Ia menyebut, surutnya debit sungai tidak berdampak terhadap pasokan air warga tetapi kondisi tersebut membuat tumpukan sampah yang terbawa arus menjadi lebih terlihat.
“Alhamdulillah tidak ada kendala air di masyarakat, semuanya tetap lancar dan mengalir. Hanya saja, karena airnya surut, tumpukan sampah jadi makin terlihat banyak yang terbawa dari atas ke bawah,” katanya.
Menurut Halik, dasar sungai yang muncul saat kemarau kini menjadi tempat aktivitas warga sekitar. Anak-anak biasanya mulai bermain pada sore hari, sedangkan warga memanfaatkannya untuk memancing dan memasang keramba.
“Kalau sudah jam 3 sore, banyak anak-anak main layangan di sini, ada juga warga yang memancing atau memasang keramba ikan buatan sendiri. Kalau debit sungai naik lagi, kawasan ini kembali tertutup air,” jelasnya.
Camat Bogor Tengah, Dheri Wiriadirama, memastikan belum ada laporan dampak musim kemarau terhadap warga di wilayahnya dan ketersediaan air masih aman.
“Sejauh ini untuk di Bogor Tengah aman,” kata Dheri.
Ia mengakui terdapat sejumlah titik sungai yang mengalami penurunan debit, kondisi itu membuat beberapa area sungai dimanfaatkan warga untuk beraktivitas.
“Iya sebagian (surut), seperti di Cipakancilan dan Cidepit, tetapi masih relatif aman,” katanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga September, dengan sebagian besar wilayah mencapai puncaknya pada Agustus.
Meski Kota Bogor masih beberapa kali diguyur hujan, berkurangnya curah hujan di kawasan hulu Ciliwung tetap berdampak terhadap penurunan debit Sungai Ciliwung yang melintasi Kota Bogor. (uma)
Editor : Eka Rahmawati