RADAR BOGOR - Deretan lembaran uang rupiah lawas dan koin berbagai ukuran tersusun rapi di sebuah etalase sederhana di kawasan Alun-alun Kota Bogor.
Bagi sebagian orang, benda-benda itu mungkin hanya uang lama yang sudah tak lagi digunakan.
Namun, di tangan Muklis Kedir (42), setiap lembar dan keping menyimpan cerita, sejarah, sekaligus perjalanan panjang sebagai koleksi. Muklis telah menggeluti dunia jual beli dan koleksi uang kuno sejak 1994.
Selama lebih dari tiga dekade, ia menyaksikan bagaimana minat masyarakat terhadap uang kuno terus berubah.
Termasuk munculnya fenomena konten media sosial yang kerap mengklaim uang receh tertentu bernilai fantastis.
"Memang ada uang kuno yang harganya mahal, tapi tidak semuanya. Ada yang mahal, ada juga yang biasa saja," ujarnya saat ditemui Radar Bogor di lapaknya beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Kabupaten Bogor Terbanyak Pelaku Game Online Terlarang, Dedi Aroza Minta Semua Pihak Bergerak
Menurut Muklis, harga sebuah uang koleksi tidak ditentukan oleh usia atau nominalnya.
Faktor utama yang membuat nilainya tinggi adalah tingkat kelangkaan dan jumlah produksi.
Ia mencontohkan koin Rp1.000 bergambar kelapa sawit maupun koin Rp500 yang masih sering diperjualbelikan.
Menurutnya, koin tersebut masih banyak beredar sehingga nilai koleksinya belum tinggi.
"Kalau ada yang bilang harganya jutaan untuk koin yang masih banyak beredar, saya juga bingung dasarnya dari mana," katanya.
Muklis menjelaskan, ketika Bank Indonesia menghentikan penarikan suatu uang dan jumlahnya masih melimpah, uang tersebut memang berubah menjadi barang koleksi. Namun, harganya belum tentu tinggi karena persediaannya masih banyak.
Sebaliknya, uang yang diproduksi dalam jumlah terbatas atau memiliki sejarah khusus justru menjadi incaran para kolektor. Kelangkaan itulah yang membuat harga terus meningkat seiring waktu.
Selain uang langka, uang salah cetak atau misprint juga memiliki pasar tersendiri. Namun, berbeda dengan barang koleksi lain, harga uang salah cetak tidak memiliki standar baku.
"Harganya tergantung kesepakatan penjual dan pembeli. Tidak ada patokan khusus," jelasnya.
Di antara koleksi yang mulai banyak dicari adalah uang pecahan Rp50 ribu berbahan polimer bergambar Presiden Soeharto.
Baca Juga: Hari Bakti TNI AU ke-79, Koopsudnas Helat Bakti Sosial di Lanud Saleh Basarah Rumpin Bogor
Menurut Muklis, uang tersebut diproduksi dalam jumlah terbatas sehingga perlahan mengalami kenaikan nilai.
"Sekarang kami beli sekitar Rp65 ribu, lalu dijual sekitar Rp80 ribu. Ke depan nilainya bisa saja terus naik kalau semakin sulit ditemukan," ujarnya.
Selama menjadi kolektor, Muklis mengaku pernah merasakan masa ketika berburu uang asing jauh lebih mudah.
Saat itu, pakaian bekas impor yang masuk ke Indonesia masih sering menyimpan uang dari berbagai negara di dalam saku.
"Dulu sering dapat uang Yen, Dolar, sampai uang Korea dari pakaian bekas impor. Sekarang sudah jarang karena aturan impor lebih ketat dan barang-barang disortir," tuturnya.
Bagi Muklis, mengoleksi uang bukan sekadar mencari keuntungan. Setiap lembar rupiah dan mata uang asing yang ia simpan menjadi saksi perjalanan sejarah, perubahan zaman, hingga perkembangan sistem keuangan.
Di balik etalase sederhana yang setiap hari ia buka di Alun-alun Kota Bogor, tersimpan potongan-potongan sejarah yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan waktu. (uma)
Editor : Yosep Awaludin