Menilik Toko Buku Bookpreneur, Surga Kecil bagi Pecinta Literasi di Bogor

Muhamad Rifki Fauzan • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 22:42 WIB
Tim Administasi Bookpreneur saat merapikan buku di tokonya. (Fauzan/Radar Bogor)
Tim Administasi Bookpreneur saat merapikan buku di tokonya. (Fauzan/Radar Bogor)

 RADAR BOGOR - Toko buku Bookpreneur belakangan jadi buah bibir di Kota Bogor. Lokasi ini kerap disebut surga kecil bagi para pecinta literasi.

Alasannya cukup simpel. Toko buku yang terletak di Jalan Veteran, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur itu tidak punya lahan yang besar.

Bahkan lokasinya hanya berada di deretan ruko depan Perumahan Griya Bogor. Namun mereka punya banyak koleksi buku. Mulai dari novel hingga buku-buku klasik.

Saat membuka pintu, kedua bola mata langsung disuguhkan dengan deretan buku yang dipajang rapih di atas rak. Penjaga tokonya juga cukup ramah.

Di area dalam, nyaris tak terlihat sampah. Ditambah lokasinya jauh dari suara bising. Kondisi ini membuat pengunjung betah, untuk beralama-lama di Bookpreneur.

Baca Juga: Benahi Transportasi di Jawa Barat, Dedi Mulyadi bakal Evaluasi Angkot Tua hingga Buka Lagi Bandara Husein Sastranegara

Pengelola Bookpreneur turut menyediakan kaca cembung disudut depan toko. Fasilitas ini kerap dimanfaatkan oleh pengunjung untuk berswafoto ala instagramable.

Tim Administrasi Bookpreneur, Suratin mengatakan toko buku ini didirkan sejak 2001 silam. Namun selama belasan tahun mereka hanya bergerak di online shop saja.

“Kalau store oflinenya baru sembilan bulan ini. Tapi kalau online sudah dari 2001,” kata pria berusia 26 tahun itu, Jumat (24/7/2026) siang.

Alasan buka toko ofline bukan karna peminat di online sedikit. Lebih dari sekadar faktor ekonomi. Sang pemilik ingin mendongkrak literasi di Kota Bogor.

“Kata ownernya mau mengembangkan literasi di Kota Bogor. Supaya minat bacanya lebih tinggi dari kota-kota lain,” ujar Suratin pada Radar Bogor.

Strategi itupun dinilai berhasil. Hampir setiap hari Bookpreneur tak pernah sepi dari pengunjung. Mayoritas yang datang anak-anak Gen Z.

“Kebanyakan anak anak muda. Rata-rata mereka datang setiap pulang kerja, langsung mampir kesini buat baca buku,” kata Suratin.

Tidak semua pengunjung datang untuk beli buku. Sebagian diantara mereka hanya untuk nongkrong sembari baca-baca buku secara gratis.

Kondisi itu disebut tidak masalah. Bahkan pengelola sampai menyiapkan fasilitas khusus bagi mereka yang hanya sekadar ingin baca buku saja.

Di lokasi ini terdapat sofa yang empuk. Fasilitas itu memungkinkan pengunjung betah untuk larut dalam materi dari buku yang dibacanya.

“Itu mungkin yang membedakan kami dengan toko buku lain. Kami siapkan tempat baca, plus bukunya secara gratis,” terang Suratin.

Niat mengembangkan literasi di Kota Bogor tidak berhenti sampai disitu. Pengelola bakal mengembangkannya dengan menyajikan minuman untuk pengunjung.

“Sekarang kita belum bisa menjual minuman, belum tersedia. Kedepan mungkin kita mau mengarah kesana sebagai pengembangan,” ucap Suratin.

Suratin tidak mengetahui pasti jumlah koleksi buku yang ada. Ia hanya mengungkapkan bahwa lebih dari 100 buku tersedia di lokasi ini.

“Kami menyediakan buku-buku novel terus ada juga self improvment, bisnis, terus buku anak juga ada, termasuk buku klasik,” beber Suratin.

Peminat buku klasik disebut Suratin masih banyak. Bahkan ada yang sempat bertanya keberadaan buku terbitan tahun sembilan puluhan.

“Tapi kami sudah tidak tersedia, penerbitnya sudah tidak cetak lagi. Tapi peminat buku klasik itu emang masih banyak,” terang Suratin.

Selama 7 hari toko buku ini tidak pernah libur. Dari Senin hingga Minggu pintu mereka selalu terbuka. Hanya saja jam operasionalnya berbeda.

“Kalau Senin sampai Sabtu, dari pukul 09.00 sampai 21.00 WIB. Kalau Minggu dari pukul 12.00 WIB  sampai pukul 21.00 WIB,” ungkap Suratin.

Suratin mengajak warga Kota Bogor untuk ikut berkunjung ke toko bukunya. Misi meningkatkan literasi ini dipandang mesti jadi gerakan kolektif.

“Mengembangkan minat baca itu penting. Apalagi di Kota Bogor ini minim literasi dibanding kota kota lain. Misal di Sumatera itu sudah tinggi banget plus di Sulawesi itu banyak yang suka baca buku,” pungkasnya (bay)

Editor : Eka Rahmawati
Bookpreneur bogor toko buku