Bukan Sekadar Tren, Ruang Literasi Alternatif di Bogor Jadi Gerakan Baru Anak Muda

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 10:49 WIB
Bogor Book Party saat berkegiatan di kedai kopi Kota Bogor. (Foto : BBP for Radar Bogor)
Bogor Book Party saat berkegiatan di kedai kopi Kota Bogor. (Foto : BBP for Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Kemunculan perpustakaan independen, kedai buku, hingga toko buku alternatif di Kota Bogor mulai menjadi fenomena baru dalam ekosistem literasi.

Ruang-ruang tersebut tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga berkembang sebagai ruang bertemu, berdiskusi, dan bertukar gagasan bagi masyarakat, khususnya anak muda.

Koordinator Bogor Book Party (BBP), Siti Fatimah menilai fenomena tersebut bukan sekadar tren sesaat.

Menurutnya, munculnya ruang literasi alternatif merupakan bentuk respons masyarakat terhadap ruang literasi yang semakin terbatas.

“Menurut saya ini bukan sekadar tren, tetapi bentuk respons masyarakat terhadap ruang-ruang literasi yang rasanya semakin menyempit,” kata Fatimah saat dihubungi Radar Bogor, Jumat 24 Juli 2026.

Menurutnya, masyarakat mulai menciptakan ruangnya sendiri ketika akses literasi tidak cukup hanya mengandalkan lembaga formal.

Baca Juga: KNPI Parungpanjang Bogor Siapkan 7 Program Demi Kemajuan Pemuda

Hal itu terlihat dari munculnya perpustakaan independen, kedai kopi dengan fasilitas buku, toko buku alternatif, hingga komunitas membaca yang tumbuh dari inisiatif warga.

“Pada akhirnya mereka menciptakan ruangnya sendiri. Hadirlah perpustakaan independen, kedai buku, coffee shop yang ada bukunya, sampai komunitas-komunitas baca yang tumbuh dari gotong royong masyarakat,” ujarnya.

Fatimah menyebut fenomena ini sebenarnya bukan hal baru di Kota Bogor. Komunitas literasi sudah bergerak sejak beberapa tahun lalu.

Namun, pertumbuhannya kini semakin terasa karena semakin banyak masyarakat yang melihat pentingnya ruang alternatif untuk membaca dan berdiskusi.

“Yang berbeda sekarang adalah pertumbuhannya terasa semakin nyata dan semakin banyak,” jelasnya.

Menurut dia, masyarakat mulai memahami bahwa akses terhadap buku dan ruang diskusi tidak hanya bergantung pada perpustakaan formal.

Warga mulai mengambil peran dengan membuka ruang baca mandiri, mengadakan diskusi rutin, hingga menjadikan toko buku sebagai ruang pertemuan.

Fatimah menilai kemunculan ruang literasi alternatif menjadi kabar baik bagi perkembangan budaya baca di Bogor.

Namun, kondisi tersebut juga menunjukkan masih adanya tantangan dalam penyediaan akses literasi.

“Ini ironi, tetapi juga harapan. Negara seharusnya menjadi pihak yang paling bertanggung jawab menghadirkan akses pengetahuan. Tetapi saat ini masyarakat sipil juga bekerja menjaga literasi melalui komunitas, toko buku, dan ruang-ruang kecil,” katanya.

Baca Juga: Aksinya Jadi Sorotan, Fajar Sad Boy Asyik Joget saat DJ Panda Tampil di Atas Panggung

Berdasarkan catatan Pemerintah Kota Bogor, Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Kota Bogor mencapai 91,79 poin pada 2024. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Jawa Barat.

Selain perpustakaan daerah, perkembangan literasi di Bogor juga terlihat dari tumbuhnya komunitas baca dan ruang alternatif.

Berdasarkan penelusuran komunitas, terdapat lebih dari 10 komunitas literasi serta taman baca masyarakat di wilayah Bogor.

Sejumlah kedai kopi juga mulai berkolaborasi dengan komunitas literasi. Bogor Book Party mencatat setidaknya tujuh kedai kopi telah menyediakan fasilitas buku dan ruang kegiatan literasi bersama.

Fatimah mengatakan keberadaan ruang-ruang tersebut mulai memengaruhi kebiasaan membaca anak muda.

Meski belum sepenuhnya terlihat melalui angka statistik, perubahan perilaku dapat dilihat dari meningkatnya partisipasi dalam kegiatan membaca dan diskusi.

“Ruang ini menjadi alat pancingan. Dampaknya memang belum bisa diukur secara statistik, tetapi bisa dilihat dari ramainya peminat kegiatan literasi di berbagai komunitas yang ada di Bogor,” ujarnya.

Ia mencontohkan aktivitas BBP yang dalam dua tahun terakhir berupaya mengubah pandangan bahwa membaca merupakan kegiatan yang membosankan atau eksklusif.

“Ketika literasi dikemas lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, lebih santai, dan inklusif, anak muda menjadi lebih mudah tertarik datang. Dari awalnya hanya ikut teman, kemudian mulai membaca, berdiskusi, bahkan ikut membuat kegiatan,” kata Fatimah.

Namun, menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi membuat orang bisa membaca, melainkan menjaga agar masyarakat mau terus membaca.

Baca Juga: Pantai Cibuaya Ujung Genteng, Hidden Gem yang Cocok untuk Liburan Akhir Pekan dari Bogor

Arus informasi digital yang cepat membuat kebiasaan membaca buku menghadapi tantangan.

Anak muda setiap hari berhadapan dengan berbagai konten singkat yang berebut perhatian.

“Baca buku membutuhkan waktu, fokus, dan kesabaran. Hal itu sering kali terasa kalah menarik dibandingkan konten yang serba cepat,” ungkapnya.

Selain minat baca, keberlanjutan ruang literasi alternatif juga menjadi tantangan. Banyak komunitas masih bergantung pada relawan, pendanaan swadaya, serta fasilitas terbatas.

“Kita tahu budaya baca tidak bisa dibangun melalui kegiatan yang sifatnya sesaat. Dibutuhkan ruang yang terus hidup dan konsisten,” katanya.

Fatimah berharap pemerintah melihat literasi sebagai bagian penting dalam pembangunan manusia.

Menurutnya, penguatan perpustakaan, perluasan akses buku, serta dukungan terhadap komunitas perlu menjadi perhatian.

“Membangun jalan, jembatan, atau infrastruktur memang penting. Tetapi membangun manusia yang berpikir kritis dan berpengetahuan juga tidak kalah penting,” ujarnya.

Ia juga berharap masyarakat tidak sepenuhnya menyerahkan persoalan literasi kepada pemerintah.

Sebab, budaya baca tumbuh dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas.

Baca Juga: Wajib Tahu Nih Warga Bogor, FMP 2026 Ungkap Keberhasilan Tanam Alpukat di Rumah Ibadah jadi Pendapatan

Salah satu contoh ruang literasi alternatif yang berkembang di Kota Bogor adalah Rumah Baca Anjangsana di Jalan Pondok Tajur Indah, Bogor Timur.

Rumah baca tersebut dikelola pasangan Ryan Rinaldy dan Nadia Pratiwi. Berada dekat aliran Sungai Ciliwung, tempat itu menghadirkan konsep perpustakaan rumahan yang dipadukan dengan toko buku dan ruang interaksi warga.

Ryan mengatakan Rumah Baca Anjangsana lahir dari keinginan menghadirkan ruang yang membuat masyarakat lebih dekat dengan buku.

“Tim kami di sini sangat kecil, hanya saya dan istri yang mengelola. Kami menyebut tempat ini sebagai perpustakaan dan toko buku rumahan,” kata Ryan.

Sekitar 1.500 buku tersedia di Rumah Baca Anjangsana. Koleksinya beragam, mulai dari komik, novel, buku nonfiksi, hingga buku anak.

Selain membaca, pengunjung juga dapat membeli buku dan menikmati makanan serta minuman yang tersedia.

Tempat tersebut juga menjadi ruang pertemuan bagi pengunjung yang ingin berdiskusi dan bertukar cerita.

Rumah Baca Anjangsana resmi dibuka untuk umum pada 25 Oktober 2025. Awalnya hanya beroperasi saat akhir pekan, tetapi tingginya minat pengunjung membuat tempat itu kini buka lima hari dalam sepekan.

Baca Juga: Resep Nasi Wangi Fish dan Chicken Nugget: Praktis dengan Minyak Bawang Merah yang Bisa Distok

Pengunjung datang tidak hanya dari Bogor, tetapi juga dari sejumlah daerah seperti Sukabumi, Karawang, hingga wilayah Jabodetabek.

Bagi Ryan, rumah baca tersebut bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang untuk mempertemukan orang dengan cerita dan pengalaman baru.

Ke depan, ia berharap semakin banyak ruang literasi serupa hadir di Bogor sehingga ekosistem membaca dapat terus berkembang. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
literasi perpustakaan kota bogor