RADAR BOGOR – Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengingatkan para orang tua agar tidak melampiaskan tekanan hidup kepada anak.
Menurutnya, anak yang menjadi korban kekerasan di rumah berpotensi menjadi pelaku perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Pesan itu disampaikan Dedie saat menghadiri puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tingkat Kota Bogor di Alun-Alun Kota Bogor, Sabtu 25 Juli 2026.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.000 peserta yang terdiri atas anak-anak, orang tua, guru, Forum Anak, serta berbagai organisasi dan komunitas.
Dalam sambutannya, Dedie menyampaikan tiga pesan utama kepada orang tua, guru, dan anak-anak.
Kepada para orang tua, ia meminta agar anak dibesarkan dengan kasih sayang, perlindungan, dan perhatian penuh.
Baca Juga: Prediksi Persib vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Susunan Pemain hingga Misi Maung Bandung
"Sayangi anak-anak sepenuh hati. Memiliki anak bukan sekadar hasil dari pernikahan, tetapi tanggung jawab lahir dan batin sampai mereka mandiri," ujarnya.
Dedie menilai masih ada orang tua yang melampiaskan persoalan ekonomi maupun tekanan hidup kepada anak.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak.
"Kalau rezekinya belum banyak, kita harus introspeksi. Jangan sampai beban kita dilampiaskan kepada anak-anak. Anak-anak ini harus disejahterakan," tegasnya.
Kepada para guru, Dedie meminta sekolah tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Pendidikan karakter dan pembentukan adab harus menjadi perhatian utama.
Ia mengaku kerap menemukan kasus perundungan di sekolah yang berawal dari persoalan di lingkungan keluarga.
Saat berdialog dengan siswa, ia menemukan sebagian pelaku bullying ternyata mengalami kekerasan di rumah.
"Saya tanya, kenapa suka membully? Setelah saya bicara, ternyata di rumah sering dicubit, ditempeleng, bahkan dijambak oleh orang tuanya. Hal seperti ini banyak saya temukan," ungkapnya.
Karena itu, ia meminta guru lebih peka terhadap kondisi psikologis peserta didik. Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
"Guru tidak hanya mengajarkan akademik, tetapi juga harus mengisi relung jiwa anak-anak. Seni, budaya, dan ruang berekspresi juga penting agar mereka tumbuh dengan sehat," katanya.
Baca Juga: Tim PPK ORMAWA HMA Unpak Kenalkan Budidaya Cabai Jawa kepada Poktan Desa Pancawati
Sementara kepada anak-anak, Dedie berpesan agar mencintai orang tua, berani menyampaikan pendapat, dan terus mengembangkan potensi yang dimiliki.
Ia mencontohkan salah seorang peserta bernama Freya yang mulai belajar bernyanyi sejak usia lima tahun dengan dukungan penuh dari kedua orang tuanya.
Menurut Dedie, dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam mengembangkan bakat anak.
"Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang hebat ketika diberi kesempatan berbicara, didengar, dan didukung untuk mengembangkan potensinya," tutupnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bogor, Rakhmawati mengatakan, peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi sekaligus menampilkan kreativitas mereka.
Menurutnya, rangkaian HAN telah dimulai sejak awal Juli melalui pembentukan Forum Anak Kota Bogor dan penjaringan aspirasi yang berhasil menghimpun lebih dari 1.000 suara anak.
Selain itu, DP3A juga menggelar berbagai kegiatan seperti nonton bersama anak yatim dan anak disabilitas,
Bermain Bersama Anak Panti (Berbati), hingga Senam Anak Sehat, Anak Hebat yang diikuti seluruh SD dan SMP di Kota Bogor.
Baca Juga: Hari Sungai Nasional, Warga dan Pemkot Bogor Bersihkan Ciliwung di Lebak Kantin
"Puncaknya hari ini kami menghadirkan sekitar 800 anak, ditambah para pendamping dan peserta lainnya sehingga total sekitar 1.000 orang. Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga memiliki ruang untuk didengar dan menunjukkan bakatnya," ujar Rakhmawati.
Ia menambahkan, seluruh penampilan pada acara puncak berasal dari anak-anak Kota Bogor, termasuk Forum Anak, anak disabilitas, perwakilan sekolah, dan berbagai komunitas.
Melalui kegiatan tersebut, DP3A berharap semakin banyak anak yang berani berekspresi, mengembangkan bakat, dan berpartisipasi dalam pembangunan Kota Bogor. (uma)
Editor : Yosep Awaludin