RADAR BOGOR - Musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Kota Bogor tidak hanya menyebabkan berkurangnya pasokan air bersih, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran dan gangguan kesehatan. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengambil berbagai langkah, mulai dari penanganan krisis air hingga mengintensifkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya cuaca panas ekstrem.
Salah satu ancaman kesehatan yang menjadi perhatian adalah heat stroke, yakni kondisi darurat medis ketika suhu tubuh meningkat hingga melampaui 40 derajat Celsius.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erna Nuraena, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat memicu gangguan kesadaran, seperti kebingungan, kejang, hingga pingsan, dan berpotensi mengancam nyawa apabila tidak segera mendapat penanganan medis.
Ia menerangkan bahwa heat stroke berbeda dengan demam akibat infeksi. Kondisi tersebut umumnya dipicu oleh aktivitas fisik dalam lingkungan bersuhu tinggi sehingga tubuh tidak mampu mengatur suhu secara normal. Karena itu, penderita harus segera memperoleh penanganan di fasilitas kesehatan.
Baca Juga: Resmi Dikukuhkan di Bogor, PEWIRA Bidik Penguatan Pengembang Kewirausahaan di Daerah
“Heat Stroke termasuk kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera di fasilitas kesehatan,” ujar Erna.
Menurut Erna, kelompok yang paling rentan mengalami heat stroke meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang penyakit kronis, serta para pekerja yang banyak beraktivitas di ruang terbuka, seperti pedagang kaki lima, juru parkir, pengemudi, maupun masyarakat yang terpapar sinar matahari dalam waktu lama.
Ia mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal, antara lain suhu tubuh yang meningkat drastis, kulit terasa panas, sakit kepala, serta mual. Pada kondisi yang lebih berat, penderita dapat mengalami jantung berdebar, napas menjadi cepat, kesulitan berbicara, kebingungan, hingga perubahan perilaku.
Apabila gejala tersebut muncul, warga diminta segera mencari pertolongan medis agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Sebagai langkah pencegahan, masyarakat juga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB saat paparan sinar matahari berada pada intensitas tertinggi.
Warga disarankan memilih waktu pagi atau sore untuk beraktivitas, mengenakan pakaian yang longgar, menggunakan topi maupun payung, memperbanyak konsumsi air putih, serta beristirahat secara berkala di tempat yang teduh apabila bekerja di luar ruangan.
Erna juga menjelaskan bahwa apabila menemukan seseorang yang diduga mengalami heat stroke, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memindahkan korban ke lokasi yang lebih sejuk dan terlindung dari sinar matahari langsung sebelum memperoleh bantuan tenaga kesehatan.
Selain berdampak pada kesehatan, musim kemarau juga menyebabkan sejumlah wilayah mengalami krisis air bersih. Di RT 004 RW 007, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara, sekitar 50 kepala keluarga terdampak setelah sumber mata air dan sumur warga mengering.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor menyalurkan sekitar 4.000 liter air bersih guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor, Dimas Tiko Prahadisasongko, menjelaskan bahwa laporan kekeringan diterima melalui media sosial pada 13 Juli 2026. Setelah menerima informasi tersebut, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) segera diterjunkan untuk melakukan asesmen, berkoordinasi dengan pemerintah wilayah setempat, sekaligus mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga.
Kondisi serupa juga terjadi di RT 01 RW 12, Kelurahan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat. BPBD kembali mengirimkan bantuan berupa 8.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan.
"Setelah menerima laporan, personel langsung melakukan asesmen, berkoordinasi dengan pihak kelurahan, kecamatan, serta RT/RW setempat, jami juga menyalurkan sekitar 4.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga," jelas Dimas.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kekeringan dipicu oleh mengeringnya sumber mata air dan sumur milik warga sehingga puluhan keluarga mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Selain mendata dampak yang terjadi, BPBD memastikan distribusi bantuan telah diselesaikan, sementara pemantauan akan terus dilakukan apabila musim kemarau berlangsung lebih lama dan memicu kekeringan di wilayah lainnya.
BPBD juga mengajak masyarakat agar segera melaporkan apabila menemukan kawasan yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Laporan tersebut akan menjadi dasar bagi petugas untuk melakukan asesmen sekaligus menyalurkan bantuan secepat mungkin.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, mendorong Perumda Tirta Pakuan untuk memperluas jaringan distribusi air bersih sebagai solusi jangka panjang menghadapi kekeringan.
Menurutnya, kapasitas pasokan air baku di Kota Bogor masih mencukupi kebutuhan sebagian besar masyarakat, namun cakupan jaringan perpipaan belum menjangkau seluruh wilayah.
Ia menyebutkan bahwa hingga saat ini layanan Perumda Tirta Pakuan baru mencakup sekitar 75,46 persen penduduk, sementara target pembangunan berkelanjutan (SDGs) menargetkan cakupan layanan mencapai 90 persen.
Karena itu, perluasan jaringan dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sumur yang rentan mengering saat musim kemarau.
Jenal juga meminta Perumda Tirta Pakuan melakukan pendataan di wilayah Kedunghalang untuk memastikan apakah warga telah terlayani jaringan perpipaan atau masih bergantung pada sumur.
Apabila belum terjangkau, kawasan tersebut diharapkan masuk dalam prioritas pengembangan jaringan distribusi air bersih. Selama proses tersebut berlangsung, pemerintah memastikan pasokan air melalui mobil tangki tetap disiapkan sebagai solusi sementara.
Di sisi lain, masyarakat yang terdampak kekeringan diminta segera menyampaikan laporan melalui layanan Si Badra maupun aparatur wilayah seperti lurah dan camat.
Pemerintah daerah juga meminta seluruh perangkat wilayah bersikap proaktif dalam memetakan titik-titik rawan kekeringan agar penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat sasaran, serta mampu menghadirkan solusi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
“Lurah, camat, saya harap proaktif mencari informasi titik mana yang kekeringan, Pemkot harus hadir, Pemkot harus memberikan solusi baik jangka pendek maupun jangka panjang,” kata Jenal.
Editor : Eka Rahmawati