RADAR BOGOR - Hortikultura didorong menjadi konsep pembangunan kota berkelanjutan. Hal itu jadi pembehasan di Internation Lecture Series, Selasa 28 Juli 2026.
Event tersebut dilaksanakan di Griya Anggrek Kebun Raya Bogor. Tema yang diangkat Horticulture as Living Infrastructure for Sustainable Landscapes.
Ketua Panitia, Wiwiek Murdiastuti mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan mengubah cara pandang terhadap hortikultura.
Menurutnya, tanaman tidak lagi hanya menjadi pelengkap desain, tetapi memiliki fungsi ekologis yang mendukung keberlanjutan lingkungan.
"Tanaman bukan hanya sebagai pelengkap sebuah desain, melainkan sebagai elemen hidup yang memberi fungsi ekologis, memperkuat karakter lanskap, dan menghadirkan keberlanjutan bagi lingkungan," ujar Wiwiek.
Ia menilai pembangunan lanskap yang berkualitas tidak dapat dilakukan oleh satu profesi saja.
Baca Juga: Modus Game Online Terlarang Sasar Anak-Anak di Kota Bogor, Jangkauan Pencegahan Diperluas
Indonesia memiliki kekayaan tanaman tropis dan industri hortikultura yang terus berkembang.
Di sisi lain, arsitek lanskap memiliki kemampuan merancang ruang yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga fungsional dan berkelanjutan.
"Ketika kedua kekuatan ini dipadukan, kita tidak hanya menghasilkan lanskap yang menarik secara visual, tetapi juga menciptakan ruang yang lebih sehat, lebih tangguh, dan lebih bermakna bagi masyarakat," katanya.
Wiwiek berharap forum tersebut menjadi wadah bertukar pengetahuan, berbagi pengalaman, memperluas jejaring profesional.
Sekaligus membuka peluang kolaborasi antara industri hortikultura dan profesi arsitek lanskap, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti mengatakan tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks.
Karena itu, pembangunan tidak lagi hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menciptakan ruang hidup yang berkelanjutan dan selaras dengan lingkungan.
"Tantangan pembangunan ini semakin kompleks. Pendekatan pembangunan tidak lagi sekadar membangun fisiknya saja, tetapi harus mengarah kepada penciptaan ruang hidup yang bermakna, berkelanjutan, inklusif, dan juga selaras dengan lingkungan," ujarnya.
Menurut Diana, pembangunan infrastruktur harus bertumpu pada tiga pilar, yakni kualitas, keberlanjutan lingkungan, dan estetika.
Baca Juga: Bikin Anak Lahap Makan! Ini Rahasia Masak Kentang dan Sayap Ayam ala Restoran
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga vegetasi dalam setiap proyek pembangunan. Tidak semua pohon mesti dipangkas untuk mendukung proyek.
"Kalau membangun, jangan menebangi seluruh pohon. Yang terdampak bangunan saja yang dipangkas. Jadi yang lainnya biarkan saja," katanya.
Selain itu, ia menegaskan prinsip keberlanjutan harus diterapkan sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan infrastruktur, termasuk dalam penggunaan material ramah lingkungan.
"Keberlanjutan ini tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi harus diterapkan sepanjang siklus hidup infrastruktur. Material ini yang mestinya harus kita pilih yang ramah lingkungan," pungkasnya. (bay)
Editor : Yosep Awaludin