Program Taleus Bogor, Andalam Pemkot Tekan Angka Stunting

Muhamad Rifki Fauzan • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 14:55 WIB
Kepala Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena saat menyampaikan keterangan soal program Taleus Bogor untuk mengatasi masalah stunting. (Fikri/Radar Bogor)
Kepala Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena saat menyampaikan keterangan soal program Taleus Bogor untuk mengatasi masalah stunting. (Fikri/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Upaya percepatan penurunan angka stunting di Kota Bogor terus diperkuat. Salah satunya melalui inovasi Tanggap Leungitkeun Stunting atau Taleus Bogor.

Inovasi Taleus Bogor ini mengintegrasikan berbagai program dan melibatkan lintas sektor dalam penanganan stunting secara terpadu.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erna Nuraena mengatakan, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. 

Menurutnya, diperlukan kolaborasi berbagai pihak agar intervensi yang dilakukan dapat berjalan optimal. Sebab permaslahan stuntung ini disebut sangat kompleks.

"Permasalahan stunting sangat kompleks sehingga intervensinya harus dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu melalui kolaborasi lintas sektor," ujar Erna.

Ia menjelaskan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). 

Baca Juga: Harimau dan Badak Sumatera Terancam Punah, Ini 4 Faktor Penyebabnya 

Kondisi tersebut berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif hingga meningkatkan risiko penyakit tidak menular saat dewasa.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting yang ada di Kota Bogor tercatat sebesar 18,2 persen. 

Sementara berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angkanya mencapai 21,2 persen.

Meski demikian, hasil Bulan Penimbangan Balita (BPB) menunjukkan tren penurunan.

Pada Agustus 2023 terdapat 1.849 balita atau 2,59 persen dari 71.421 balita yang ditimbang terindikasi stunting. 

Sementara pada Agustus 2024 jumlahnya turun menjadi 1.588 balita atau 2,32 persen dari 68.320 balita yang ditimbang.

Melalui inovasi Taleus Bogor, Pemkot Bogor menerapkan strategi kolaborasi multisektor yang dilakukan secara terpadu dan berjenjang mulai dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan hingga RW. 

Intervensi juga dilakukan dengan pendekatan continuum of care yang menyasar remaja, calon pengantin, ibu hamil, bayi, balita hingga anak sekolah.

Program tersebut dijalankan melalui tiga pendekatan, yakni peningkatan kualitas layanan kesehatan, perbaikan status gizi masyarakat, serta promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, Dinkes Kota Bogor juga menghadirkan inovasi Penting Beres atau Penanganan Stunting Bersama Rujukan Efektif dan Sistematis. 

Baca Juga: Indonesia Dalam Bahaya, 2.432 Spesies di Ambang Kepunahan

Program ini memanfaatkan layanan telekonseling bersama dokter spesialis anak bagi balita stunting yang mengalami kendala untuk dirujuk ke rumah sakit.

"Ada berbagai kendala saat proses rujukan, mulai dari orang tua yang enggan ke rumah sakit hingga tidak memiliki jaminan kesehatan. Melalui telekonseling, balita dapat diperiksa di puskesmas dengan pendampingan nutrisionis dan konsultasi dokter spesialis anak," jelas Erna.

Ia menyebut, sejak diluncurkan pada 2025, inovasi Penting Beres telah memfasilitasi telekonseling terhadap 438 balita stunting.

Erna menambahkan, percepatan penurunan stunting di Kota Bogor juga mendapat dukungan dari Wali Kota Bogor, Wakil Wali Kota, TP-PKK, Bunda Peduli Stunting.

"Dengan kolaborasi semua pihak, kami optimistis upaya percepatan penurunan stunting di Kota Bogor dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan," pungkasnya. (bay)

Editor : Yosep Awaludin
Taleus Bogor kota bogor stunting