RADAR BOGOR – Penyakit katastropik masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk Kota Bogor.
Penyakit tidak menular yang membutuhkan penanganan jangka panjang dan biaya pengobatan besar itu masih menunjukkan tren peningkatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erna Nuraena mengatakan, penyakit katastropik bukan hanya berdampak pada kondisi kesehatan penderitanya.
Penyakit tersebut juga memengaruhi kualitas hidup keluarga hingga meningkatkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan.
Secara nasional, BPJS Kesehatan mencatat sepanjang 2025 terdapat sekitar 59,94 juta kasus layanan penyakit katastropik dengan total pembiayaan mencapai Rp50,28 triliun.
Baca Juga: Mengulik Asal Usul Nama Gunung Putri Bogor, dari Gunung yang Kini Tinggal Bukit
Penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, hingga stroke menjadi kelompok penyakit dengan biaya penanganan terbesar dalam hal ini.
Di Kota Bogor, kondisi serupa juga menjadi perhatian. Berdasarkan data tahun 2024, tercatat sebanyak 7.103 kasus penyakit jantung dengan 309 kematian. Sementara itu, kasus stroke mencapai 4.084 dengan 221 kematian.
"Data tersebut menunjukkan penyakit katastropik masih menjadi tantangan besar yang harus ditangani secara serius melalui pengendalian faktor risiko dan deteksi dini sejak di tingkat masyarakat," ujar Erna.
Kasus penyakit ginjal kronis juga terus mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022 terdapat 1.408 kasus, kemudian naik menjadi 1.895 kasus pada 2023 dan kembali meningkat menjadi 2.014 kasus pada 2024.
Tak hanya itu, jumlah penderita kanker di Kota Bogor juga tercatat menunjukkan tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada 2021 tercatat sebanyak 821 kasus, meningkat menjadi 994 kasus pada 2022, kemudian 1.220 kasus pada 2023, naik menjadi 1.711 kasus pada 2024, hingga mencapai 1.951 kasus pada 2025 dengan 103 kematian.
Jenis kanker yang paling banyak ditemukan meliputi kanker payudara, kanker leher rahim, kanker kolorektal, kanker prostat, kanker paru, leukemia, serta beberapa jenis kanker lainnya.
Menurut Erna, meningkatnya kasus penyakit katastropik erat kaitannya dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini.
Hipertensi, diabetes melitus, kebiasaan merokok, pola makan tinggi gula, garam, dan lemak, obesitas, hingga kurangnya aktivitas fisik menjadi penyebab utama munculnya berbagai penyakit tersebut.
"Dalam banyak kasus, penyakit baru diketahui ketika sudah berada pada stadium lanjut atau telah menimbulkan komplikasi. Kondisi itu membuat penanganan menjadi lebih kompleks dan biaya pengobatan semakin besar," jelasnya.
Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Bogor terus memperkuat upaya pengendalian penyakit katastropik melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif.
Langkah yang dilakukan di antaranya edukasi kesehatan kepada masyarakat, skrining faktor risiko penyakit tidak menular, deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan, penguatan kapasitas tenaga kesehatan, peningkatan sistem rujukan, hingga memperluas pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis.
Khusus pada pencegahan kanker, Dinas Kesehatan juga terus mendorong masyarakat memanfaatkan layanan skrining, pemeriksaan IVA, pemeriksaan payudara klinis, serta vaksinasi HPV bagi anak perempuan usia sekolah.
Sementara itu, pencegahan penyakit jantung, stroke, dan ginjal kronis difokuskan pada pengendalian tekanan darah, gula darah, pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala, penghentian kebiasaan merokok, peningkatan aktivitas fisik, serta penerapan pola makan sehat.
"Masyarakat perlu memahami bahwa penyakit katastropik tidak muncul secara tiba-tiba. Penyakit ini berkembang perlahan melalui faktor risiko yang tidak terkendali. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala dan penerapan perilaku CERDIK sangat penting untuk menemukan penyakit lebih awal," ungkap Erna.
Ia pun mengajak masyarakat Kota Bogor untuk lebih peduli terhadap kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat, memanfaatkan layanan deteksi dini di puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya, serta segera memeriksakan diri apabila memiliki faktor risiko atau mulai merasakan gejala penyakit.
"Dengan keterlibatan aktif masyarakat, kami berharap beban penyakit katastropik di Kota Bogor dapat ditekan sehingga kualitas hidup masyarakat semakin baik dan pelayanan kesehatan menjadi lebih efektif," pungkasnya (bay)
Editor : Eka Rahmawati