RADAR BOGOR - Harapan tiga warga Kota Bogor untuk mendapatkan pekerjaan sebagai anak buah kapal (ABK) kapal cumi berubah menjadi pengalaman yang traumatis.
Mereka mengaku menjadi korban dugaan pemerasan setelah mendatangi sebuah rumah penampungan calon ABK di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu.
Korban berinisial W (36), I (27), dan RP (16). W datang bersama I dan ibunya, DN. Sementara RP datang didampingi ibunya, DA (44). Mereka berangkat Minggu, 2 Agustus 2026 setelah menerima tawaran pekerjaan sebagai ABK melalui jaringan yang mereka temukan di grup Facebook.
Baca Juga: Miniarta Masih Mengaspal di Kota Bogor, Sopir Ungkap Alasannya
Namun, sesampainya di lokasi, seluruh janji yang disampaikan sebelum keberangkatan disebut berubah. Mereka mengaku tidak hanya gagal mendapatkan pekerjaan, tetapi juga dipaksa membayar uang agar bisa meninggalkan rumah penampungan.
"Kami dijanjikan kasbon Rp4 juta saat briefing di Bogor katanya hanya ada potongan Rp500 ribu dan biaya travel Rp300 ribu. Sampai di sana semuanya berubah, ongkos travel tiba-tiba jadi Rp1 juta, lalu muncul lagi biaya-biaya lain yang tidak pernah disepakati," ujar W kepada Radar Bogor.
Menurut W, dirinya bersama korban lain kemudian terlantar di penampungan karena uang kasbon yang dijanjikan tak kunjung diberikan. Bekal yang dibawa pun habis sehingga mereka mengaku harus menahan lapar selama berada di lokasi.
"Kami berlima terlunta-lunta, saya cuma bawa Rp10 ribu yang langsung habis buat beli roti dan air. Sehari semalam kami tidak makan, makanan di penampungan ternyata dihitung utang dengan harga yang mahal," tuturnya.
Situasi semakin mencekam ketika mereka memutuskan membatalkan keberangkatan, W mengaku mereka justru dilarang pulang dan diminta membayar uang tebusan Rp2 juta.
"Saat kami mau pulang, mereka bilang harus bayar tebusan, kami sempat bersitegang karena merasa diperas," katanya.
DA, ibu dari RP, mengaku ikut mengantar anaknya karena dijanjikan bisa bekerja sebagai ABK. Namun, setibanya di penampungan, RP disebut ditolak karena masih di bawah umur.
Alih-alih dipersilakan pulang, mereka justru mengaku ditahan dan diminta membayar ganti rugi.
"Mereka bilang kami tidak bisa pulang kalau tidak bayar, selama dua hari saya tidak bisa tidur karena ketakutan. Kami juga kelaparan, waktu akhirnya bisa keluar, saya hampir pingsan dan sempat jatuh dua kali di jalan karena sudah sangat lemas," ungkapnya.
Keluarga di Bogor akhirnya menggadaikan sepeda motor untuk mengumpulkan uang. Sebesar Rp1,2 juta kemudian ditransfer agar mereka dapat keluar dari penampungan.
"Saking ingin cepat pulang, keluarga sampai menggadaikan motor, selain itu, ponsel anak saya juga diambil sebagai tambahan. Setelah uang ditransfer, baru kami diizinkan keluar," ujarnya.
Meski telah berhasil keluar, penderitaan mereka belum berakhir. Mereka mengaku tidak memiliki uang untuk kembali ke Bogor sehingga terpaksa meminta bantuan warga di sekitar.
"Kami cuma bisa duduk di pinggir jalan sambil menangis, tidak punya uang sama sekali buat pulang, akhirnya kami mengemis kepada warga dan tukang ojek, ada yang memberi Rp10 ribu sampai Rp20 ribu," kata DA.
Dalam kondisi kebingungan, rombongan itu kemudian menemukan sebuah masjid dan bertemu dengan seorang pengurus yang membantu mereka. Mereka diberi makan, dipersilakan beristirahat, serta dibantu mencari kendaraan untuk kembali ke Bogor.
"Pak Haji di situ memberi kami makan dan tempat istirahat, beliau juga membantu mencarikan mobil untuk pulang. Kami akhirnya bisa meninggalkan daerah itu meski harus dua kali berganti kendaraan sampai tiba di Bogor," tuturnya.
Selain itu, para korban mengaku sempat bertemu dengan pihak kecamatan dan seorang anggota kepolisian setempat. Namun, mereka justru diminta agar W dan I tetap melanjutkan pekerjaan sebagai ABK meski keluarga sudah menyatakan ingin pulang.
"Kami sudah bilang tidak mau melanjutkan karena merasa ditipu dan diperas, tapi kami malah diminta agar anak saya tetap bekerja," ujar DA.
Mereka pun berhasil kembali ke rumah pada Senin malam setelah dua hari menjalani kejadian yang traumatis. Walau kehilangan uang dan handphone mereka tetap bersyukur bisa kembali dengan selamat.
Peristiwa tersebut meninggalkan trauma bagi para korban. W mengaku sebelumnya sudah beberapa kali bekerja sebagai ABK sejak 2021 tanpa mengalami persoalan serupa.
Ia menduga dirinya menjadi korban sindikat penipuan berkedok lowongan kerja setelah mencoba mencari agen melalui Facebook.
"Saya sudah lima kali melaut, baru kali ini mengalami kejadian seperti ini. Sekarang saya memilih mencari pekerjaan di darat dulu sambil menunggu teman lama yang memang sudah terpercaya," pungkasnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati