Remaja di Tanah Baru Kota Bogor Berjenis Kelamin Ganda, Butuh Bantuan Biaya Pengobatan

Muhamad Rifki Fauzan • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 17:04 WIB
Remaja berinisial AD (19) warga Kampung Slawi Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara bersama sang ibu. (Fauzan/Radar Bogor)
Remaja berinisial AD (19) warga Kampung Slawi Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara bersama sang ibu. (Fauzan/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Seorang remaja berinisial AD (19) warga Kampung Slawi Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor berjenis kelamin ganda.

Sang ibunda, Yayah (48) menceritakan bahwa kondisi tersebut sudah dialami sejak anaknya lahir dan saat itu sempat dilarikan ke rumah sakit.

“Sudah dari lahir, kata dokter ada masalah di kelaminnya, jadi si kelaminnya ada dua cowo sama cewe,” kata Yayah saat ditemui Radar Bogor, Kamis, 6 Agustus 2026.

Saat itu medis tidak bisa berbuat banyak. Sebab penanganan baru bisa dilakukan ketika AD sudah memasuki usia 7 hingga 8 tahun.

Baca Juga: Sempat Viral karena Rusak Parah, SDN Tegal Benteng Cariu Bogor Kini Tampil Baru

“Pas lahir sempat dibawa ke rumah sakit, terus kata rumah sakitnya tidak bisa harus nunggu tujuh tahun, umur delapan tahun belum lagi,” ujar Yayah.

Seiring berjalannya waktu, AD masuk ke bangku sekolah. Ia beraktivitas seperti manusia pada umumnya. Memasuki usia remaja AD mulai minder dengan kondisinya.

“Jadi dia sekolah cuma sampai SD saja, tidak lanjut ke SMP, kalau sekarang keseharian di rumah aja, di kamar jarang keluar,” terang Yayah.

Upaya pengobatan sudah dilakukan oleh Yayah. Satu tahun silam AD sempat dilakukan penanganan operasi di RSUD Kota Bogor.

“Cuma baru sebelah aja. Tidak bisa dilanjut lagi dan harus dirujuk ke rumah sakit yang ada di Jakarta,” ucap Yayah dikonfirmasi lebih lanjut.

Rekomendasi itu sempat ia lakoni. Yayah membawa sang buah hatinya ke salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta untuk pertemuan pertama.

“Sudah waktu itu pernah kontrol, katanya harus operasi lagi. Untuk biayanya sendiri sebenarnya ditanggung sama BPJS,” kata Yayah.

Namun jaminan BPJS itu belum cukup. Jarak dari tempat tinggal ke rumah sakit rujukan yang jauh, membuatnya butuh biaya operasional.

“Karena kalau operasi lagi butuh biaya banyak, buat ongkosnya ke rumah sakit terus makan, transportasi,” keluh Yayah.

AD sebetulnya dijadwalkan bertemu dokter di Jakarta pada pekan depan. Namun, saat ini Yayah dan keluarga kelimpungan untuk menanggung biaya operasional.

Ayahnya hanya bekerja sebagai buruh di tempat pembuatan aci. Dalam sehari, ia hanya dibayar Rp50 ribu sementara Yayah sendiri mencari rongsokan.

“Kalau harapannya pingin sembuh, kasihan melihat anak kaya gitu kan, kepingin normal, supaya bisa lanjut sekolah terus anak juga pingin kerja,” pungkasnya.(bay)

Editor : Eka Rahmawati
bogor remaja kelamin ganda