Kisah Pengrajin Sagu Tertua di Kota Bogor, Bertahan Sejak Sebelum Indonesia Merdeka

Muhamad Rifki Fauzan • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 10:49 WIB
Hamparan sagu yang tengah di jemur di Kampung Slawi, Kelurahan Tanah Baru, Kota Bogor. (Foto : Fauzan/Radar Bogor)
Hamparan sagu yang tengah di jemur di Kampung Slawi, Kelurahan Tanah Baru, Kota Bogor. (Foto : Fauzan/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Di tengah pesatnya perkembangan industri modern, sebuah usaha pengolahan sagu tradisional di Kota Bogor masih mampu bertahan lintas generasi.

Berlokasi di Kampung Slawi, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Barat, usaha keluarga milik Madropi menjadi salah satu pengrajin sagu yang telah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka.

Suara mesin produksi yang terdengar hampir setiap hari sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar.

Bagi warga Kampung Slawi, bunyi tersebut bukan sekadar penanda aktivitas usaha, tetapi juga sumber mata pencaharian karena beberapa warga turut bekerja di tempat pengolahan sagu tersebut.

Sedikitnya lima orang menggantungkan penghasilan mereka dari usaha yang telah diwariskan secara turun-temurun itu.

Di halaman rumah Madropi, hamparan sagu tampak dijemur di bawah terik matahari. Proses pengeringan masih mengandalkan cuaca agar kualitas sagu tetap terjaga sebelum dipasarkan.

Baca Juga: Garland Barnville, Kafe Instagramable Bergaya Amerika dengan Nuansa Pegunungan

Tak jauh dari lokasi penjemuran berdiri bangunan sederhana yang menjadi tempat penyimpanan hasil produksi.

Tumpukan sagu di dalamnya telah disiapkan untuk didistribusikan ke sejumlah pasar tradisional.

Madropi mengungkapkan usaha tersebut merupakan peninggalan keluarganya yang telah diwariskan selama beberapa generasi.

Meski tidak mengetahui secara pasti kapan usaha itu pertama kali dirintis, ia memastikan bisnis tersebut sudah ada jauh sebelum Indonesia meraih kemerdekaan.

"Usaha ini diwariskan dari generasi ke generasi. Berawal dari kakek buyut, kemudian diteruskan oleh ayah, hingga sekarang saya yang menjalankannya. Yang jelas, usaha ini sudah berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka," ujar Madropi.

Pada masa awal berdiri, seluruh proses produksi masih dilakukan secara sederhana dengan peralatan seadanya. Bahkan, distribusi hasil produksi ke luar daerah hanya mengandalkan tenaga manusia.

"Dulu belum ada kendaraan untuk mengirim barang. Sagu dipikul sendiri, bahkan sampai dikirim ke wilayah Jakarta," kenangnya.

Seiring perkembangan zaman, proses produksi kini memanfaatkan mesin berbahan bakar biosolar sehingga kapasitas produksi menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Setiap hari, mesin pengolah sagu terus beroperasi. Para pekerja terlihat memotong batang pohon aren yang kemudian dimasukkan ke dalam mesin untuk diolah menjadi tepung sagu.

Dalam sehari, usaha tersebut mampu mengolah lebih dari dua ton batang pohon aren yang didatangkan dari wilayah Banten. Dari jumlah bahan baku tersebut, dihasilkan sekitar empat kuintal sagu siap jual.

Baca Juga: Mengenal PORIS, Kolektif Rap Asal Tangerang yang Viral Berkat Gaya Musik Trap Berkarakter

"Batang aren kami datangkan dari Banten. Dalam sehari bahan baku yang diolah bisa lebih dari dua ton, sedangkan hasil akhirnya sekitar empat kuintal sagu," jelasnya.

Menariknya, produk sagu buatan Madropi dipasarkan tanpa menggunakan merek dagang.

Selama puluhan tahun, para pelanggan tetap mengandalkan kualitas produk dan kepercayaan yang telah dibangun keluarga tersebut.

Hasil produksinya dipasarkan ke berbagai pasar tradisional, di antaranya Pasar Anyar Bogor, Pasar Leuwiliang, hingga Pasar Parung.

"Kami memang tidak memakai merek khusus. Produk langsung dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional karena pelanggan sudah mengenal kualitasnya," tutur Madropi.

Selain memasok dalam jumlah besar ke pedagang pasar, Madropi juga melayani pembelian eceran. Konsumen dapat memesan untuk diantar ataupun datang langsung ke lokasi produksi.

"Pembeli bebas memilih, mau diantar atau datang langsung. Ada juga yang membeli hanya satu kilogram. Untuk pembelian eceran harganya sekitar Rp10 ribu per kilogram, sedangkan yang ke pasar biasanya dalam kemasan karung," pungkasnya. (bay)

Editor : Yosep Awaludin
kota bogor sagu pengrajin