Manajemen RSUD Kota Bogor Masih Dibayangi Beban Operasional, Direksi Baru Diminta Terus Berbenah

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 15:49 WIB
Upacara kesiapsiagaan sekaligus peringatan hari jadi ke-12 RSUD Kota Bogor. (Dok. Humas Pemkot Bogor)
Upacara kesiapsiagaan sekaligus peringatan hari jadi ke-12 RSUD Kota Bogor. (Dok. Humas Pemkot Bogor)

RADAR BOGOR – Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor masih menjadi perhatian Pemerintah Kota Bogor. Rumah sakit milik Pemkot Bogor itu dinilai perlu terus membenahi tata kelola agar pelayanan tetap optimal dan beban operasional ke depan tidak semakin berat.

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi, masih terdapat sejumlah aspek manajemen RSUD Kota Bogor yang perlu ditingkatkan. Pembenahan itu menjadi pekerjaan bagi jajaran direksi baru di bawah kepemimpinan Direktur Utama Sri Nowo Retno.

Meski demikian, Dedie melihat sejumlah perbaikan mulai terlihat selama tujuh bulan kepemimpinan direksi baru.

“Alhamdulillah perbaikan dari sisi manajemen juga sudah terlihat ya, perbaikan-perbaikannya,” kata Dedie saat ditemui di RSUD Kota Bogor, Jumat, 7 Agustus 2026.

Dedie meminta seluruh jajaran, baik manajemen maupun tenaga kesehatan, mendukung proses pembenahan tersebut. Menurut dia, penguatan manajemen diperlukan agar rumah sakit dapat memberikan pelayanan yang lebih baik sekaligus menjaga beban operasional tetap terkendali.

Baca Juga: Sumur Bor Warga Blok Asem Rusak, BPBD Kota Bogor Bolak-Balik Salurkan Air Bersih

Beban pelayanan RSUD Kota Bogor juga cukup besar, Dedie menyebut hampir 60 persen pasien yang datang saat ini berasal dari luar Kota Bogor.

Kondisi tersebut membuat peningkatan profesionalisme menjadi kebutuhan. Terlebih, RSUD Kota Bogor merupakan rumah sakit tipe A yang memiliki fasilitas, tenaga dokter, dan komite medik untuk menangani pelayanan rujukan.

“Jadi mau tidak mau, ya kita harus meningkatkan profesionalisme. Jadi yang namanya pasien harus diterima dengan langkah yang lebih profesional,” ujarnya.

Persoalan keuangan RSUD Kota Bogor sebelumnya juga menjadi sorotan DPRD. Pada April 2026, Komisi IV DPRD Kota Bogor dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) mengungkap kondisi keuangan RSUD sempat mengalami krisis pada 2025. Saat itu, total utang rumah sakit disebut mencapai sekitar Rp93 miliar.

Manajemen baru kemudian disebut mulai melakukan penyehatan keuangan pada triwulan pertama 2026. Langkah tersebut antara lain dilakukan dengan menjaga kerja sama dengan vendor obat dan memperbaiki penagihan kepada BPJS. DPRD juga menyebut RSUD telah mencicil sekitar Rp35 miliar dari utang tersebut.

Ketua DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil turut mendorong RSUD Kota Bogor terus meningkatkan kualitas pelayanan. Menurutnya, pembenahan perlu mencakup pelayanan, sumber daya manusia, hingga fasilitas kesehatan.

“Selamat ulang tahun ke-12 untuk RSUD Kota Bogor. Mudah-mudahan di usia yang ke-12 ini pelayanan semakin baik, semakin berkualitas, dan semakin optimal dalam melayani masyarakat Kota Bogor,” ujar Adityawarman.

Ia menegaskan, DPRD Kota Bogor mendukung pengembangan RSUD agar mampu memberikan pelayanan yang cepat, nyaman, dan berkualitas. Sinergi antara Pemkot Bogor, DPRD, dan manajemen rumah sakit juga perlu diperkuat untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.

Di sisi pelayanan, RSUD Kota Bogor mulai memperbaiki respons terhadap kebutuhan dan keluhan pasien. Salah satunya melalui peluncuran call center 24 jam yang terhubung dengan layanan kegawatdaruratan Kota Bogor.

Masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut untuk memperoleh informasi jadwal dokter, ketersediaan kamar, maupun menyampaikan keluhan pelayanan.

Direktur Utama RSUD Kota Bogor Sri Nowo Retno mengatakan, call center tersebut dibangun untuk mempercepat respons rumah sakit terhadap kebutuhan masyarakat.

“Jadi setiap pertanyaan bisa langsung direspons. Jadi ada masukan yang ditujukan kepada rumah sakit bahwa sebelumnya itu mungkin slow response, jadi dengan call center ini bisa cepat direspons,” katanya.

Sri mengatakan, pembenahan juga dilakukan melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Bogor. RSUD tidak hanya memberikan pelayanan di dalam rumah sakit, tetapi ikut menjalankan upaya promotif dan preventif melalui edukasi serta sosialisasi kesehatan.

Sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), Sri menyebut pengelolaan RSUD harus terus ditingkatkan. Pengelolaan tersebut diarahkan untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat.

“Karena pelayanan pengabdian masyarakat itu jadi utama kita,” tegasnya. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
manajemen RSUD Kota Bogor