Me Time di Mata Anak Muda Bogor, Lebih dari Sekadar Gaya Hidup

Muhamad Rifki Fauzan • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 23:29 WIB
Remaja yang tengah asik baca buku di Kafe Sejenak, Jalan Ahmad Yani, Kota Bogor (Fauzan/Radar Bogor)
Remaja yang tengah asik baca buku di Kafe Sejenak, Jalan Ahmad Yani, Kota Bogor (Fauzan/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Bagi anak muda me time bukan lagi sekadar gaya hidup. Padatnya aktivitas sehari-sehari, membuat mereka sengaja mencari waktu untuk istirahat.

Bentuk me time yang dilakukan kian beragam. Ada yang memilih duduk santai di kafe, baca buku, olahraga, hingga menikmati hamparan hijau.

Hal itu seperti yang dilakukan oleh Achmad Mahran Harawi. Pemuda asal Bogor Tengah itu rutin datang ke Puncak, hanya untuk menikmati secangkir kopi.

Setiap hari, Mahran disibukan dengan hal yang bersifat materil. Mulai dari urus usaha keluarga di rumah, hingga bekerja sebagai barista di salah satu kafe di Kota Bogor.

Baca Juga: Keluarga Almarhum Yurizal di Bogor Buka Pintu Maaf Atas Komentar Nakes yang Viral

“Jadi, pagi jam 08.00 WIB saya udah start beraktivitas untuk urus bisnis keluarga sampai jam 10.00 WIB. Jam 13.00 WIB lanjut kerja sebagai barista,” kata Mahran.

Kesibukannya itu acap kali membuat Mahran stres. Baginya meluangkan waktu atau me time sudah jadi kebutuhan yang tak bisa ditinggalkan.

“Tidak perlu ke tempat mahal, saya kadang ke Puncak aja udah cukup buat tenangin diri gitu, ngelihat pemandangan, udah terbayar lah segitu juga,” terangnya.

Dalam sepekan ia nyaris tak pernah absen untuk me time. Ia hanya butuh waktu dua sampai tiga jam saja, untuk merefresh kembali fikirannya.

“Biasanya berangkat habis Ashar paling mentok Maghrib balik. Jadi saya ngincar kayak senja gitu, langit-langit merah, sambil ngopi dan melamun,” ucapnya

Secara psikologis me time juga bagian dari upaya menjaga kesehatan mental. Menyendiri bukan lagi tanda seseorang itu kesepian.

Psikolog Rumah Cinta, Retno Lelyani Dewi, menjelaskan bagi anak muda, me time bagian dari upaya memahami perasaan sendiri tanpa adanya tekanan pihak lain.

“Jika dilakukan secara seimbang, me time dapat mendukung kesehatan mental dan perkembangan diri remaja,” kata Retno pada Radar Bogor.

Me time disebutnya juga bagian dari upaya mengatur emosi. Anak-anak muda bisa lebih kenal dengan perasaan marah, cemas sebelum merespons secara implusif.

“Setelah beristirahat dan memahami kondisi diri, remaja biasanya lebih siap berkomunikasi, dan menghadapi konflik dengan tenang,” jelasnya

Oleh karena itu, Retno berpandangan me time bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan, guna menunjang keseimbangan hidup.

“Me time digunakan sebagai  respons terhadap ritme hidup yang cepat, tuntutan pekerjaan, paparan media sosial, dan interaksi yang terus-menerus,” pungkasnya. (bay)

Editor : Eka Rahmawati
me time bogor anak muda