Dorong Kemandirian Ekonomi, FMP Mulai Program Wakaf Alpukat ke Rumah Ibadah se-Kota Bogor

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 15:08 WIB
Penanaman perdana pohon alpukat di Masjid Agung Kota Bogor. (Foto: Panitia for Radar Bogor)
Penanaman perdana pohon alpukat di Masjid Agung Kota Bogor. (Foto: Panitia for Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Festival Merah Putih (FMP) 2026 mulai menjalankan program wakaf pohon alpukat untuk rumah ibadah dan fasilitas sosial di Kota Bogor.

Program wakaf alpukat tersebut diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi rumah ibadah melalui hasil panen.

Ketua Panitia FMP 2026, Syahril M. Said, mengatakan program wakaf alpukat tersebut menjadi bagian dari rangkaian FMP tahun ke-11. 

Penanaman perdana dilakukan secara seremonial di Masjid Agung Kota Bogor, Jumat 8 Agustus 2026

Menurut Syahril, program wakaf pohon alpukat akan berlangsung hingga 31 Agustus 2026.

Pengurus rumah ibadah dan fasilitas sosial yang berminat dapat mendaftarkan lokasinya kepada panitia.

Baca Juga: Status SI Sudah Berubah, Ini Fakta di Balik Ramainya Struk Pencairan Bansos Tahap 3

Panitia kemudian akan melakukan survei teknis untuk memastikan kondisi lahan sesuai bagi tanaman alpukat.

“Kami tidak sekadar memberikan pohon untuk ditanam sendiri oleh warga. Kami yang akan menanamnya setelah melihat kondisi sekitar lahan,” kata Syahril.

Ia menjelaskan, pemilihan alpukat mempertimbangkan kondisi iklim dan ketinggian wilayah Kota Bogor.

Berdasarkan pengalaman penanaman di sejumlah lokasi, pohon alpukat berusia 6 hingga 7 tahun dapat menghasilkan buah hingga 500 kilogram.

Untuk tahap awal, FMP menyasar sekitar 30 persen dari lebih dari 990 rumah ibadah yang tercatat di Kota Bogor.

Program tersebut akan dilakukan secara berkelanjutan setiap tahun. FMP juga akan memantau pertumbuhan pohon yang ditanam dan memberikan penghargaan kepada rumah ibadah yang mampu merawat pohonnya dengan baik.

Syahril mengatakan, seluruh hasil panen nantinya menjadi hak rumah ibadah tempat pohon tersebut ditanam. FMP tidak mengambil hasil panen.

“Konsep kebermanfaatannya adalah, setelah kita tanam di tempat ibadah, seluruh hasil panennya akan menjadi milik rumah ibadah tersebut,” ujarnya.

Jika rumah ibadah mengalami kendala dalam perawatan, panitia juga menyiapkan dukungan, termasuk suplai pupuk.

Jenis alpukat yang dipilih untuk program tahun ini yakni alpukat Miki. Syahril menyebut varietas tersebut dinilai cocok dengan karakter iklim di Kota Bogor dan memiliki nilai ekonomi.

Baca Juga: Kirab Merah Putih FMP 2026 Makin Panjang, 3.400 Peserta Siap Ramaikan Jalanan Kota Bogor

Ia mencontohkan, harga alpukat Miki di tingkat supermarket dapat mencapai Rp70 ribu per kilogram.

Dengan asumsi harga di tingkat petani sekitar Rp35 ribu per kilogram, satu pohon dewasa dengan produksi 200 hingga 300 kilogram berpotensi menghasilkan sekitar Rp7 juta hingga Rp10,5 juta.

Sementara itu, pohon alpukat mulai dapat berbuah sejak usia sekitar dua tahun.

Berdasarkan pengalaman panitia, pohon usia dua tahun dapat menghasilkan hingga 50 kilogram buah.

Syahril berharap program tersebut tidak berhenti pada penanaman pohon. Rumah ibadah diharapkan dapat mengelola hasil panen sebagai salah satu sumber pendapatan untuk mendukung kegiatan dan kebutuhan sosial.

“Ini adalah bentuk hibah kami kepada rumah-rumah ibadah. Kami menghibahkan tongkat dan pancingnya, bukan sekadar memberikan ikannya,” katanya. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
kota bogor alpukat festival merah putih masjid agung