RADAR BOGOR - Hepatitis kerap identik dengan penyakit yang membuat tubuh menguning.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Salah satu jenis hepatitis justru dapat berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun hingga menimbulkan kerusakan hati serius.
Kondisi tersebut menjadi alasan hepatitis B kerap disebut sebagai “silent killer”.
Baca Juga: Penyaluran Bansos Tahap 3 Makin Dekat, Ini Daftar Daerah yang Berpotensi Cair Lebih Dulu
Virus ini dapat berada di dalam tubuh tanpa menimbulkan keluhan berarti, tetapi perlahan memicu peradangan dan kerusakan hati.
Dikutip dari YouTube RSUD Kota Bogor, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Kota Bogor, dr. Gerry Setiawan, Sp.PD menjelaskan, hepatitis secara sederhana merupakan kondisi peradangan pada hati.
Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi virus hingga faktor noninfeksi.
Hepatitis Tak Hanya Satu Jenis
Secara umum, hepatitis akibat virus terbagi menjadi lima kelompok utama, yakni hepatitis A, B, C, D, dan E.
Masing-masing memiliki karakteristik dan jalur penularan yang berbeda.
Hepatitis A, misalnya, umumnya menyebar melalui jalur fekal-oral.
Virus dapat masuk ke tubuh ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi.
Menurut dr. Gerry, hepatitis A pada umumnya dapat sembuh dengan sendirinya, terutama ketika sistem kekebalan tubuh mampu mengatasi infeksi tersebut.
Sementara itu, hepatitis B dan C memiliki pola penularan yang berbeda.
Keduanya dapat ditularkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu.
Baca Juga: PKH BPNT Tahap 3 Resmi Cair, Ini Cara Mudah Ajukan Usulan Penerima Bansos 2026
Hepatitis D juga berkaitan erat dengan infeksi hepatitis B, sedangkan hepatitis E memiliki karakteristik penularan yang mirip dengan hepatitis A.
Hepatitis E perlu mendapat perhatian khusus pada ibu hamil karena infeksinya dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Mengapa Hepatitis B Disebut Silent Killer?
Berbeda dengan hepatitis akut yang dapat menimbulkan gejala jelas, hepatitis B kronis sering kali tidak memberikan tanda pada tahap awal.
“Masalahnya, hepatitis B bisa tidak menimbulkan gejala,” jelas dr. Gerry.
Kondisi inilah yang membuat seseorang dapat merasa sehat meskipun virus masih berada di dalam tubuh.
Peradangan pada hati dapat berlangsung perlahan selama bertahun-tahun tanpa disadari.
Ketika kerusakan hati semakin berat, barulah berbagai tanda komplikasi dapat muncul. Pada tahap tersebut, penanganan menjadi jauh lebih kompleks.
Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah sirosis hati, yaitu kondisi ketika jaringan hati mengalami kerusakan dan berubah menjadi jaringan parut.
Pasien dengan sirosis dapat mengalami penumpukan cairan di dalam perut atau asites.
Gejala lain yang dapat muncul antara lain telapak tangan kemerahan, pembuluh darah kecil yang tampak seperti jaring laba-laba pada kulit, hingga pembesaran payudara pada pria akibat perubahan metabolisme hormon.
Baca Juga: CFD Kota Bogor Segera Comeback! Pemkot Cari Lokasi Baru agar Tak Ganggu Aktivitas Warga
Pada kondisi yang lebih berat, pasien bahkan dapat mengalami muntah darah.
Hal tersebut dapat terjadi akibat peningkatan tekanan pada pembuluh darah di sekitar hati yang kemudian menyebabkan pelebaran pembuluh darah di saluran cerna.
Tidak Selalu Membuat Tubuh Menjadi Kuning
Selama ini, masyarakat mungkin lebih mengenal hepatitis melalui gejala berupa kulit dan mata yang menguning.
Namun, kondisi tersebut tidak selalu muncul pada penderita hepatitis B.
Menurut dr. Gerry, hepatitis B dapat berada dalam fase tidak aktif dan sewaktu-waktu kembali aktif.
Ketika terjadi peradangan yang meningkat atau flare, pasien dapat mengalami keluhan yang menyerupai hepatitis akut, seperti demam dan tubuh menguning.
Karena gejalanya tidak khas, pemeriksaan menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.
“Kalau ada faktor risiko, sebaiknya diperiksa secara berkala,” ujarnya.
Siapa yang Berisiko Terinfeksi Hepatitis B?
Salah satu jalur penularan hepatitis B yang penting adalah dari ibu kepada anak.
Penularan juga dapat terjadi melalui paparan darah yang terkontaminasi serta hubungan badan.
Risiko juga perlu diperhatikan pada orang yang menggunakan jarum suntik secara bergantian maupun tenaga kesehatan yang berpotensi mengalami paparan darah saat bekerja.
Riwayat keluarga juga menjadi hal yang patut diperhatikan.
Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat hepatitis B atau penyakit hati berat sebaiknya berkonsultasi dan mempertimbangkan pemeriksaan.
Selain itu, penggunaan alat pribadi yang berpotensi menyebabkan luka, seperti alat cukur, juga sebaiknya tidak dilakukan secara bergantian.
Jika alat tersebut terkontaminasi darah dan digunakan pada orang lain yang memiliki luka, penularan secara teori dapat terjadi.
Skrining Penting Meski Tidak Ada Gejala
Karena hepatitis B sering tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal, pemeriksaan atau skrining menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui status infeksi.
Hasil HBsAg positif menunjukkan adanya infeksi hepatitis B dan perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, menurut dr. Gerry, tidak semua orang dengan hasil positif langsung mendapatkan terapi antivirus.
Dokter perlu melihat kondisi hati serta parameter lain, termasuk tingkat kerusakan hati dan jumlah virus, untuk menentukan apakah pengobatan diperlukan.
Pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan untuk mengetahui apakah hati telah mengalami fibrosis atau sirosis.
Di RSUD Kota Bogor, pemeriksaan kondisi fibrosis hati juga dapat dilakukan menggunakan FibroScan, sesuai kebutuhan medis pasien.
Bagi tenaga kesehatan yang mengalami kejadian seperti tertusuk jarum dan berisiko terkena paparan darah, pemeriksaan awal dapat menjadi pembanding.
Baca Juga: Layanan Bayi Tabung Pertama di Kota Bogor hadir di RS Azra, Gandeng Morula IVF Indonesia
Pemeriksaan lanjutan kemudian dilakukan sesuai protokol keselamatan kerja dan penilaian dokter.
Hepatitis B Bisa Berkembang Menjadi Kanker Hati
Bahaya hepatitis B tidak berhenti pada kerusakan hati.
Infeksi kronis yang terus menyebabkan peradangan dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker hati.
Hepatitis B dan hepatitis C merupakan dua jenis hepatitis virus kronis yang dikenal dapat berkaitan dengan perkembangan kanker hati.
Proses tersebut umumnya tidak terjadi dalam hitungan hari atau minggu.
Kerusakan berkembang dalam waktu panjang, terutama apabila infeksi kronis tidak terdeteksi dan tidak mendapatkan pemantauan yang tepat.
Inilah alasan hepatitis B tidak boleh dianggap sepele hanya karena penderitanya tidak merasakan sakit.
Infeksi Saat Bayi Lebih Berisiko Menjadi Kronis
Usia saat seseorang terinfeksi juga berpengaruh terhadap perjalanan hepatitis B.
Pada orang dewasa, sistem kekebalan tubuh umumnya mampu memberikan respons terhadap virus sehingga sebagian infeksi dapat teratasi.
Namun, infeksi yang terjadi sejak masa bayi memiliki risiko lebih besar untuk berkembang menjadi infeksi kronis.
Karena itu, pencegahan penularan dari ibu kepada bayi menjadi bagian penting dalam pengendalian hepatitis B.
Jika seorang ibu diketahui terinfeksi hepatitis B, bayi membutuhkan penanganan segera setelah lahir sesuai protokol medis, termasuk pemberian vaksin hepatitis B dan imunoglobulin pada kondisi yang memenuhi indikasi.
Langkah tersebut bertujuan, menurunkan kemungkinan bayi mengalami infeksi hepatitis B yang menetap hingga dewasa.
Suami Terinfeksi Hepatitis B, Apakah Istri dan Anak Bisa Tertular?
Pertanyaan mengenai penularan dalam keluarga menjadi salah satu hal yang sering membuat masyarakat khawatir.
dr. Gerry menjelaskan, pasangan dari penderita hepatitis B tetap memiliki kemungkinan tertular.
Karena itu, status hepatitis B pasangan perlu diketahui melalui pemeriksaan dan vaksinasi dapat menjadi bagian penting dari upaya perlindungan apabila belum memiliki kekebalan.
Jika seorang ibu tidak terinfeksi, risiko penularan hepatitis B kepada anak melalui ibu tentu dapat ditekan.
Namun, jika ibu juga terinfeksi, diperlukan penanganan medis untuk menilai kondisi dan jumlah virus serta menentukan langkah yang tepat selama kehamilan dan setelah persalinan.
Pengobatan pada penderita hepatitis B juga perlu dilakukan berdasarkan evaluasi dokter.
Terapi bertujuan mengendalikan virus dan menurunkan risiko terjadinya kerusakan hati serta komplikasi.
Tidak Semua Obat Merusak Hati
Dalam sesi konsultasi, muncul pula pertanyaan mengenai anggapan bahwa terlalu banyak mengonsumsi obat dapat menyebabkan hepatitis atau kerusakan hati.
dr. Gerry menjelaskan, tidak semua obat memiliki efek merusak hati.
Namun, memang terdapat obat tertentu yang bersifat hepatotoksik dan dapat menyebabkan gangguan hati apabila digunakan secara tidak tepat, terutama dalam dosis atau durasi yang tidak sesuai.
Karena itu, obat untuk penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes tidak seharusnya dihentikan sendiri hanya karena khawatir merusak hati atau ginjal.
Penggunaan obat sesuai dosis, aturan pakai, serta pengawasan dokter pada dasarnya merupakan bagian penting dari pengobatan yang aman.
Justru, penyakit kronis yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko kerusakan berbagai organ tubuh.
Pernah Hepatitis B Saat Kecil? Jangan Dianggap Sudah Selesai
Seseorang yang pernah mengalami hepatitis B ketika masih kecil, juga sebaiknya tidak langsung menganggap infeksinya telah benar-benar hilang.
Status infeksi saat ini perlu diketahui melalui pemeriksaan. Dokter dapat menilai apakah virus berada dalam kondisi tidak aktif atau justru sudah memberikan dampak terhadap fungsi dan struktur hati.
Hal tersebut penting karena hepatitis B dapat berlangsung tanpa gejala dalam waktu panjang.
Jangan Menunggu Sampai Gejala Muncul
Hepatitis B menjadi berbahaya bukan semata-mata karena virusnya, melainkan karena kemampuannya bertahan tanpa memberikan tanda yang jelas.
Ketika gejala seperti perut membesar, muntah darah, atau tanda sirosis mulai muncul, kerusakan hati bisa saja sudah berada pada tahap lanjut.
Karena itu, masyarakat yang memiliki faktor risiko sebaiknya tidak menunggu sampai tubuh menunjukkan gejala untuk melakukan pemeriksaan.
“Lebih baik diperiksa dan didiskusikan dengan ahlinya,” kata dr. Gerry.
Bagi masyarakat yang ingin berkonsultasi mengenai hepatitis B dan penyakit dalam lainnya, dr. Gerry Setiawan, Sp.PD praktik di RSUD Kota Bogor pada Senin, Selasa, Rabu, dan Sabtu.
Pemeriksaan dan konsultasi dapat dilakukan untuk menentukan kebutuhan skrining maupun pemantauan kondisi hati.
Pada akhirnya, mengenali hepatitis B sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah perjalanan penyakit menuju sirosis hingga kanker hati.
Sebab, ketika sebuah penyakit mampu berkembang tanpa gejala, pemeriksaan dini menjadi salah satu cara terbaik untuk tidak terlambat mengetahuinya. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti