Kulit Lansia Makin Kering, Ini Cara Menjaganya Tetap Sehat

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:43 WIB
Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi RSUD Kota Bogor, dr. Marsita Endy Dhamayanti, Sp.DV (kiri) saat memberikan penjelasan. (Yt RSUD Kota Bogor Daily)
Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi RSUD Kota Bogor, dr. Marsita Endy Dhamayanti, Sp.DV (kiri) saat memberikan penjelasan. (Yt RSUD Kota Bogor Daily)

RADAR BOGOR - Perubahan pada kulit merupakan bagian alami dari proses penuaan. 

Memasuki usia lanjut, kulit umumnya menjadi lebih tipis, kering, sensitif, dan lebih mudah mengalami iritasi. 

Namun, kondisi tersebut bukan berarti tidak dapat dirawat.

Justru, kebiasaan merawat kulit sejak usia muda dapat membantu mengurangi berbagai masalah kulit ketika memasuki usia lanjut.

Baca Juga: Tour de Malasari Dipastikan Jadi Agenda Tahunan, Bupati Bogor Dorong Sport Tourism di Nanggung

Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi RSUD Kota Bogor, dr. Marsita Endy Dhamayanti, Sp.DV mengatakan, proses penuaan membuat sejumlah komponen penting pada kulit mengalami perubahan.

“Dengan bertambahnya usia, kulit akan menjadi lebih kering dan sensitif karena hidrasi serta lemak di bawah kulit semakin berkurang,” ujar dr. Marsita dikutip dari Youtube RSUD Kota Bogor Daily.

Mengapa Kulit Lansia Lebih Mudah Kering?

Seiring bertambahnya usia, kadar air dan lemak pada kulit mengalami penurunan.

Kondisi tersebut membuat kulit lebih mudah kehilangan kelembapan.

Selain itu, sistem pertahanan kulit juga ikut melemah.

Akibatnya, kulit lansia lebih rentan mengalami gatal, iritasi, hingga luka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Perubahan juga dapat terlihat dari berkurangnya elastisitas kulit.

Penurunan produksi kolagen dan berkurangnya jaringan lemak di bawah kulit, membuat wajah serta bagian tubuh tertentu tampak lebih kendur.

Baca Juga: Bukan Lagi Lawan Penjajah, Sekda Jabar Ajak Pemkot Bogor Bergerilya Lawan Kemiskinan

Karena itu, perawatan kulit sebaiknya tidak baru dimulai ketika seseorang memasuki usia lanjut.

Menurut dr. Marsita, merawat kulit sejak muda merupakan bentuk investasi untuk menjaga kesehatan kulit di masa mendatang.

Bukan Sekadar Masalah Usia

Penuaan kulit memang tidak dapat dihindari. Namun, kecepatannya dapat dipengaruhi berbagai faktor.

Paparan sinar matahari menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan.

Selain itu, kebiasaan merokok, polusi, pola makan, serta konsumsi makanan tinggi gula juga dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi kulit.

Kebiasaan sehari-hari yang tampak sederhana ternyata turut menentukan kondisi kulit dalam jangka panjang.

“Yang penting adalah pola hidup. Lingkungan sekitar dan apa yang kita konsumsi juga berpengaruh terhadap kulit,” kata dr. Marsita.

Paparan asap rokok, misalnya, dapat mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan.

Begitu pula konsumsi gula secara berlebihan, terutama pada orang yang memiliki masalah metabolisme tertentu.

Sunscreen Bukan Hanya untuk Anak Muda

Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah menganggap sunscreen hanya diperlukan ketika seseorang masih muda atau sering beraktivitas di luar ruangan.

Padahal, perlindungan terhadap sinar matahari tetap diperlukan ketika memasuki usia lanjut.

Baca Juga: Hepatitis B Diam-Diam Merusak Hati, Kenali si Silent Killer

dr. Marsita menyarankan penggunaan sunscreen dengan perlindungan spektrum luas dan SPF minimal 30.

Penggunaannya juga perlu diulang secara berkala, terutama apabila seseorang banyak berkeringat atau terpapar matahari.

Bahkan ketika berada di dalam rumah, perlindungan kulit tetap perlu diperhatikan karena paparan cahaya matahari masih dapat masuk melalui jendela.

Bagi orang yang beraktivitas di dapur, perhatian terhadap paparan panas dan asap juga tidak boleh diabaikan.

“Sedini mungkin kita mulai menggunakan sunscreen. Jangan menunggu sampai tua,” ujarnya.

Pelembap Wajib untuk Kulit Lansia

Selain sunscreen, pelembap menjadi bagian penting dalam perawatan kulit, terutama pada lansia yang cenderung memiliki kulit sangat kering.

Penggunaan pelembap sebaiknya dilakukan segera setelah mandi. Menurut dr. Marsita, waktu terbaik mengoleskan pelembap adalah beberapa menit setelah kulit terkena air.

Tujuannya agar kelembapan yang masih tersisa pada kulit dapat dipertahankan lebih lama.

Pelembap juga dapat kembali digunakan setelah mencuci tangan atau berwudu ketika kulit terasa kering.

Untuk memilih produk, masyarakat tidak harus mencari pelembap dengan harga mahal.

Yang lebih penting adalah memperhatikan kandungannya.

Baca Juga: Penyaluran Bansos Tahap 3 Makin Dekat, Ini Daftar Daerah yang Berpotensi Cair Lebih Dulu

Bahan seperti ceramide dan petroleum jelly dapat membantu menjaga serta mengunci kelembapan kulit.

Untuk kulit yang sangat kering, sediaan berbentuk krim cenderung memberikan kelembapan lebih lama dibandingkan lotion sehingga tidak perlu terlalu sering diaplikasikan.

Jangan Sembarangan Mandi dengan Air Panas

Kebiasaan mandi menggunakan air panas memang terasa nyaman, terutama bagi lansia.

Namun, terlalu sering menggunakan air panas dapat membuat kulit semakin kering.

Begitu pula dengan penggunaan sabun yang terlalu keras, mengandung banyak pewangi, atau antiseptik tanpa kebutuhan khusus.

dr. Marsita menyarankan lansia menggunakan sabun yang lembut dan tidak berlebihan saat mandi.

Waktu mandi pun tidak perlu terlalu lama.

Mandi sekitar lima hingga sepuluh menit sudah cukup untuk menjaga kebersihan tubuh tanpa membuat kulit kehilangan terlalu banyak kelembapan.

“Jangan terlalu sering mandi dan jangan menggosok kulit terlalu kuat karena justru bisa membuat kulit semakin kering,” jelasnya.

Gatal pada Lansia Jangan Selalu Dianggap Sepele

Kulit kering memang dapat menyebabkan rasa gatal. Namun, gatal yang berlangsung terus-menerus tidak selalu disebabkan oleh kulit kering.

Jika keluhan tidak membaik setelah penggunaan pelembap atau perawatan sederhana, sebaiknya kondisi tersebut diperiksakan ke dokter.

Menurut dr. Marsita, dokter perlu memastikan apakah keluhan benar-benar hanya akibat kulit kering atau terdapat penyebab lain.

Pada beberapa kasus, rasa gatal dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu, termasuk gangguan metabolisme.

Karena itu, lansia sebaiknya tidak terus-menerus mengoleskan berbagai produk tanpa mengetahui penyebab keluhannya.

Flek Hitam dan Bintik pada Kulit, Apakah Berbahaya?

Bertambahnya usia juga dapat disertai munculnya berbagai perubahan warna maupun bentuk pada kulit.

Salah satunya adalah keratosis seboroik, yaitu bercak atau benjolan pada kulit yang umumnya bersifat jinak dan lebih sering ditemukan seiring pertambahan usia.

Ada pula cherry angioma, berupa titik atau benjolan kecil berwarna merah yang berkaitan dengan pembuluh darah.

Kondisi tersebut umumnya tidak berbahaya apabila tidak disertai keluhan lain.

Sementara itu, bercak kecokelatan akibat paparan sinar matahari dapat berupa lentigo solaris.

Meski banyak perubahan kulit pada lansia bersifat jinak, pemeriksaan dokter tetap diperlukan apabila terdapat perubahan yang mencurigakan, berkembang cepat, mudah berdarah, atau menimbulkan keluhan.

Melasma Bisa Dipengaruhi Faktor Genetik

Masalah lain yang kerap dikeluhkan adalah flek atau melasma pada wajah.

dr. Marsita menjelaskan melasma dapat dipengaruhi faktor genetik.

Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa dapat memiliki kecenderungan lebih besar mengalami masalah tersebut.

Paparan sinar matahari juga menjadi faktor penting.

Selain itu, perubahan hormonal, termasuk yang berkaitan dengan penggunaan kontrasepsi, dapat berperan dalam munculnya melasma.

Karena penyebabnya beragam, penanganan melasma sebaiknya tidak dilakukan sembarangan.

Beberapa bahan aktif memang dapat digunakan dalam terapi melasma, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dan dipantau oleh dokter.

Penggunaan produk secara terus-menerus tanpa pengawasan, justru dapat menimbulkan efek samping dan membuat masalah pigmentasi semakin sulit ditangani.

Eksfoliasi Boleh, tetapi Jangan Berlebihan

Pengelupasan sel kulit mati atau eksfoliasi dapat membantu mengangkat penumpukan sel kulit mati yang membuat kulit terlihat kusam.

Namun, pada kulit lansia yang cenderung lebih kering dan sensitif, eksfoliasi tidak boleh dilakukan secara berlebihan.

dr. Marsita menyebut eksfoliasi dapat dilakukan sekitar dua kali dalam seminggu, dengan tetap memperhatikan kondisi kulit.

Setelah eksfoliasi, penggunaan pelembap tetap penting agar kulit tidak semakin kering atau mengalami iritasi.

Perawatan Kulit Pria dan Wanita Sama Pentingnya

Merawat kulit bukan hanya kebutuhan perempuan. Pria juga membutuhkan pelembap dan sunscreen untuk menjaga kesehatan kulit.

Perubahan lingkungan, polusi, paparan sinar matahari, serta gaya hidup membuat perlindungan kulit semakin penting bagi siapa saja.

Tidak perlu menggunakan banyak produk. Rutinitas dasar yang konsisten justru lebih penting.

Untuk perawatan wajah, dr. Marsita menyarankan rutinitas sederhana berupa mencuci wajah, menggunakan pelembap, kemudian mengaplikasikan sunscreen pada pagi atau siang hari.

Penggunaan produk kosmetik yang terlalu berat setiap hari juga sebaiknya tidak berlebihan, terutama bagi kulit yang mudah berminyak atau sensitif.

Tidak Harus Produk Mahal

Harga produk perawatan kulit bukan jaminan bahwa produk tersebut paling sesuai.

Yang lebih penting adalah memilih produk berdasarkan kebutuhan kulit dan kandungan di dalamnya.

Untuk kulit lansia yang kering, pelembap dengan kandungan yang membantu memperbaiki dan mempertahankan skin barrier dapat menjadi pilihan.

“Tidak harus mahal. Yang penting kandungannya sesuai dengan kebutuhan kulit,” kata dr. Marsita.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu mengejar produk dengan harga tinggi apabila produk yang lebih sederhana sudah memenuhi kebutuhan kulit.

Makanan Tetap Menjadi Bagian dari Perawatan

Perawatan kulit tidak hanya dilakukan dari luar. Asupan makanan juga berperan dalam menjaga kondisi tubuh dan kulit.

dr. Marsita menyarankan lansia tetap mengutamakan makanan bergizi, terutama sumber protein seperti ikan dan daging, serta makanan seperti kacang-kacangan dan alpukat.

Sementara itu, konsumsi suplemen kolagen tidak selalu menjadi kebutuhan utama apabila asupan nutrisi sehari-hari sudah tercukupi.

Jika ingin mengonsumsi produk kolagen, penggunaannya tetap perlu memperhatikan kandungan dan kondisi kesehatan.

Produk minuman kolagen, misalnya, dapat mengandung gula cukup tinggi sehingga perlu diperhatikan, khususnya bagi lansia.

Intinya, makanan bergizi dan pola hidup sehat tetap menjadi fondasi utama.

Empat Kebiasaan Sederhana untuk Kulit Lansia

Dari berbagai penjelasan tersebut, menjaga kesehatan kulit sebenarnya tidak harus rumit.

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dimulai sejak sekarang, yaitu:

  1. Cukupi kebutuhan cairan sesuai kondisi kesehatan masing-masing.
  2. Gunakan pelembap secara rutin, terutama setelah mandi atau kulit terkena air.
  3. Gunakan sunscreen minimal SPF 30 dan aplikasikan kembali secara berkala.
  4. Pilih produk pembersih yang lembut serta hindari mandi terlalu lama dengan air panas.
  5. Yang tidak kalah penting adalah menjaga pola makan, menghindari rokok dan paparan asap, serta segera memeriksakan keluhan kulit yang tidak kunjung membaik.

Penuaan memang merupakan proses alami.

Namun, bagaimana kondisi kulit ketika memasuki usia senja sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang dilakukan sejak jauh sebelumnya.

Dengan perawatan yang konsisten, tanda-tanda penuaan mungkin tetap muncul, tetapi berbagai masalah kulit dapat diminimalkan.

Bagi masyarakat yang memiliki keluhan kulit, kelamin, maupun masalah estetika, dr. Marsita Endy Dhamayanti, Sp.DV melayani konsultasi di RSUD Kota Bogor pada Selasa hingga Sabtu.

“Yang paling penting, rawat kulit sejak dini. Jangan menunggu sampai muncul masalah,” pungkas dr. Marsita.

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor kulit lansia RSUD Kota Bogor