RADAR BOGOR - Tidak semua orang yang terinfeksi tuberkulosis (TB) langsung mengalami batuk berkepanjangan atau gejala khas lainnya.
Ada kondisi yang disebut TB laten, ketika bakteri penyebab TB berada di dalam tubuh tetapi masih dikendalikan oleh sistem kekebalan.
Meski tidak menimbulkan gejala, TB laten tetap perlu diperhatikan.
Dalam kondisi tertentu, infeksi yang sebelumnya “tidur” dapat berkembang menjadi TB aktif ketika daya tahan tubuh menurun.
Baca Juga: Bansos Rp600 Ribu Cair di Wilayah Jawa Barat, Cek Saldo KKS di Mesin ATM
Dokter Spesialis Paru RSUD Kota Bogor, dr. Felly Iswa, Sp.P menjelaskan, TB laten merupakan kondisi ketika seseorang telah terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis, tetapi sistem imun masih mampu menahan perkembangan bakteri tersebut.
“Bakterinya ada, tetapi seperti tertidur atau dalam kondisi dorman,” jelas Felly dikutip dari YouTube RSUD Kota Bogor Daily.
TB Laten Dapat Berkembang jadi TB Aktif
Menurut Felly, tidak semua orang dengan TB laten akan mengalami TB aktif.
Namun, terdapat risiko sekitar 5–10 persen TB laten berkembang menjadi TB aktif pada sebagian kasus.
Perubahan tersebut bahkan dapat terjadi beberapa tahun setelah seseorang pertama kali terinfeksi.
Kondisi sistem kekebalan tubuh menjadi salah satu faktor penting.
Ketika imun masih mampu mengendalikan bakteri, infeksi dapat tetap berada dalam kondisi laten.
Sebaliknya, ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri dapat kembali berkembang dan menyebabkan penyakit TB aktif.
Karena itu, seseorang yang merasa sehat belum tentu benar-benar terbebas dari risiko TB.
Tidak Bergejala dan Hasil Pemeriksaan Bisa Normal
Salah satu hal yang membuat TB laten sulit dikenali adalah minimnya gejala.
Pada TB laten, seseorang umumnya tidak mengalami keluhan klinis yang khas.
Baca Juga: KKS Terisi Lagi! Cek Daftar Wilayah Penerima Bansos PKH BPNT Tahap 3
Pemeriksaan dahak juga dapat menunjukkan hasil negatif, sementara foto rontgen dada bisa tampak normal.
Untuk mendeteksi infeksi TB laten, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan seperti tes tuberkulin atau Mantoux Test maupun Interferon-Gamma Release Assay (IGRA).
Pemeriksaan tersebut menjadi semakin penting pada orang yang memiliki risiko tinggi terpapar TB.
Siapa yang Perlu Menjalani Skrining TB Laten?
Riwayat kontak erat dengan pasien TB aktif menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TB aktif, misalnya, dianjurkan menjalani pemeriksaan atau skrining.
Selain itu, terdapat kelompok tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti orang dengan HIV, tenaga kesehatan yang sering berkontak dengan pasien TB, petugas laboratorium mikrobiologi, serta orang yang tinggal di lingkungan padat atau hunian bersama.
Di tingkat pelayanan kesehatan, investigasi kontak dapat dilakukan untuk menemukan orang yang kemungkinan telah terpapar TB.
“Kalau ada pasien TB aktif di dalam satu rumah, anggota keluarga lainnya perlu dilakukan skrining,” kata Felly.
TB Laten Bisa Dicegah Berkembang Menjadi Aktif
Kabar baiknya, TB laten dapat ditangani melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada orang yang memenuhi kriteria.
TPT bertujuan mencegah infeksi TB laten berkembang menjadi TB aktif.
Regimen pengobatan dapat berbeda sesuai kondisi pasien, usia, kehamilan, penyakit penyerta, serta pertimbangan medis lainnya.
Karena itu, pemilihan obat dan lama pengobatan tidak sebaiknya dilakukan sendiri.
Pasien perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan regimen yang sesuai.
Pada kelompok tertentu, seperti orang dengan HIV atau mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TB, dokter dapat mempertimbangkan pemberian TPT sesuai hasil skrining dan kondisi klinis.
Jangan Abaikan Daya Tahan Tubuh
Sistem kekebalan memiliki peran penting dalam menjaga bakteri TB tetap terkendali.
Ketika kondisi imun melemah, risiko infeksi laten berkembang menjadi TB aktif dapat meningkat.
Karena itu, menjaga kondisi tubuh tetap sehat menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Pola makan bergizi, aktivitas fisik secara teratur, serta menerapkan perilaku hidup sehat dapat membantu menjaga daya tahan tubuh.
Bagi orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB, langkah yang lebih penting adalah segera melakukan skrining daripada menunggu munculnya gejala.
TB Paru Aktif Beda dengan TB Laten
TB laten tidak sama dengan TB aktif.
Pada TB laten, bakteri berada dalam kondisi terkendali sehingga penderita umumnya tidak menunjukkan gejala dan tidak mengalami kondisi seperti TB paru aktif.
Sementara itu, TB aktif dapat menimbulkan berbagai keluhan.
Pada TB paru, misalnya, batuk yang berlangsung lama menjadi salah satu gejala yang umum. Keluhan lain dapat berupa sesak, demam, berkeringat pada malam hari, hingga penurunan berat badan.
TB juga tidak selalu menyerang paru.
Infeksi dapat mengenai organ lain, seperti kelenjar getah bening, tulang, usus, maupun otak.
Kondisi tersebut dikenal sebagai TB ekstra paru.
Alat Makan Tidak Perlu Dipisahkan
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul ketika ada anggota keluarga terkena TB adalah penggunaan peralatan makan bersama.
Menurut Felly, alat makan tidak harus dipisahkan selama dicuci dan dibersihkan dengan baik.
Penularan TB terutama terjadi melalui udara ketika pasien TB aktif, khususnya TB paru atau TB laring, mengeluarkan droplet atau aerosol saat batuk dan bersin.
Karena itu, perhatian utama sebaiknya diarahkan pada sirkulasi udara, penggunaan masker, serta mengurangi paparan dekat dengan pasien yang masih berisiko menularkan.
Pasien TB Tetap Bisa Sembuh
TB bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.
Dengan pengobatan yang tepat dan kepatuhan menjalani terapi hingga selesai, pasien TB memiliki peluang untuk sembuh.
Masalah muncul ketika pasien menghentikan obat secara sepihak setelah merasa kondisinya membaik.
Pengobatan yang terputus dapat membuat bakteri masih bertahan di dalam tubuh.
Selain meningkatkan risiko penyakit kembali, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko penularan dan menimbulkan persoalan resistansi obat.
Karena itu, pasien yang mengalami efek samping obat tidak dianjurkan langsung menghentikan pengobatan.
Konsultasi dengan dokter diperlukan agar regimen, dosis, atau jenis obat dapat disesuaikan secara aman.
Bagaimana dengan Ibu Menyusui?
Ibu yang sedang menjalani pengobatan TB tetap dapat menyusui dalam kondisi yang sesuai dengan penilaian dokter.
Pengobatan TB bukan alasan otomatis untuk menghentikan pemberian ASI.
Namun, apabila ibu mengalami TB aktif yang masih menular, langkah pencegahan penularan tetap perlu diperhatikan, terutama penggunaan masker dan menjaga sirkulasi udara.
Baca Juga: Tour de Malasari Dipastikan Jadi Agenda Tahunan, Bupati Bogor Dorong Sport Tourism di Nanggung
Untuk anggota keluarga yang memiliki kontak dengan pasien TB, termasuk ibu hamil atau menyusui, pemberian TPT perlu ditentukan berdasarkan hasil skrining dan kondisi masing-masing.
TB Tulang Memiliki Risiko Penularan Rendah
TB ekstra paru, seperti TB tulang atau TB kelenjar, umumnya memiliki risiko penularan yang jauh lebih rendah dibandingkan TB paru aktif.
Penularan terutama berkaitan dengan TB yang menyerang saluran pernapasan, terutama ketika pasien mengalami batuk atau bersin yang dapat menyebarkan bakteri melalui udara.
Namun, jika seseorang mengalami TB ekstra paru sekaligus TB paru, risiko penularan tetap perlu diperhitungkan.
Kapan Pasien TB Sebaiknya Tidak Satu Kamar?
Pasien TB aktif yang hasil pemeriksaan dahaknya masih positif memiliki risiko menularkan kepada orang lain.
Dalam kondisi tersebut, anggota keluarga yang sehat sebaiknya menghindari kontak dekat dan mempertimbangkan tidur di kamar terpisah untuk sementara.
Perbaikan ventilasi rumah juga penting agar sirkulasi udara lebih baik.
Setelah menjalani pengobatan dan hasil evaluasi menunjukkan kondisi yang membaik, dokter dapat menentukan kapan pembatasan tersebut sudah tidak diperlukan.
TB Laten Jangan Dianggap Sepele
Felly menekankan, tidak adanya gejala bukan berarti seseorang sepenuhnya bebas dari risiko TB.
TB laten dapat berada dalam tubuh tanpa menimbulkan keluhan selama sistem imun masih mampu mengendalikan bakteri.
Karena itu, orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB, termasuk mereka yang tinggal serumah, sebaiknya tidak menunggu sampai muncul gejala untuk melakukan pemeriksaan.
Skrining dengan metode yang sesuai, seperti tes tuberkulin atau IGRA, dapat membantu mengidentifikasi infeksi TB laten pada kelompok yang memang memiliki indikasi.
“Orang yang tidak bergejala belum tentu sehat,” tegas Felly.
Baca Juga: Penyaluran Bansos Tahap 3 Makin Dekat, Ini Daftar Daerah yang Berpotensi Cair Lebih Dulu
Menurutnya, deteksi lebih awal dan penanganan yang tepat dapat membantu mencegah TB laten berkembang menjadi TB aktif.
Pada akhirnya, pencegahan tidak hanya bergantung pada pemeriksaan.
Menggunakan masker ketika diperlukan, menjaga ventilasi, menerapkan pola hidup sehat, serta menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran dokter menjadi bagian penting untuk memutus risiko penularan dan mencegah TB berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti