Posyandu: Menjaga Semangat Gotong Royong, Menguatkan Peran dan Apresiasi Kader di Era Modern

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 20:15 WIB
Pembina Kesekretariatan Posyandu Pusat, Dr. Yane Ardian.
Pembina Kesekretariatan Posyandu Pusat, Dr. Yane Ardian.

RADAR BOGOR - Posyandu merupakan salah satu wujud nyata semangat gotong royong masyarakat Indonesia, dalam membangun kesehatan dari tingkat yang paling dekat dengan keluarga dan lingkungan.

Sejak awal perkembangannya, Posyandu tidak hanya hadir sebagai tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai ruang kebersamaan yang mempertemukan masyarakat, kader, dan tenaga kesehatan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Keberadaan Posyandu menunjukkan, pembangunan kesehatan tidak dapat hanya mengandalkan fasilitas kesehatan formal, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai bagian penting dari solusi.

Baca Juga: Gebyar Parungpanjang 2026 Perdana Dibanjiri Warga Bogor, UMKM hingga Layanan Publik Jadi Magnet

Di balik keberlangsungan Posyandu terdapat peran penting para kader.

Mereka berasal dari masyarakat, mengenal lingkungan dan warganya, memahami kondisi keluarga di sekitarnya, serta menjadi salah satu penghubung terdekat antara masyarakat dengan layanan kesehatan.

Dengan penuh kepedulian, kader meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu berbagai kegiatan, mulai dari pemantauan pertumbuhan anak, edukasi kesehatan dan gizi, pendampingan keluarga, pendataan, hingga mendukung berbagai program kesehatan masyarakat.

Ketika seorang kader membantu seorang ibu memahami kondisi kesehatan anaknya, mengingatkan keluarga untuk datang ke Posyandu, melakukan pendataan, atau mengarahkan masyarakat memperoleh layanan yang dibutuhkan, sesungguhnya ia tidak sekadar menjalankan sebuah kegiatan.

Ia sedang menjalankan nilai kepedulian sosial dan gotong royong yang telah menjadi salah satu kekuatan masyarakat Indonesia.

Namun, masyarakat terus berubah. Kebutuhan terhadap pelayanan dasar semakin kompleks dan tantangan pembangunan semakin beragam.

Posyandu pun tidak dapat berhenti pada bentuk pelayanan sebagaimana yang dikenal pada masa lalu.

Posyandu perlu bertransformasi agar tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Jika sebelumnya Posyandu lebih dikenal sebagai wadah pelayanan kesehatan, kini perannya berkembang menjadi enam bidang pelayanan dasar. 

Transformasi Posyandu berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2024 merupakan perubahan peran Posyandu dari yang semula berfokus pada pelayanan ibu dan anak menjadi pelayanan masyarakat sepanjang siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi dan balita, anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia.

Baca Juga: TB Laten Bisa Diam-Diam Aktif, Kenali Risikonya Sebelum Terlambat

Posyandu kini mendukung pemenuhan 6 bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM), yaitu (1) kesehatan, (2) pendidikan, (3) pekerjaan umum, (4) perumahan rakyat, (5) ketenteraman dan ketertiban umum, serta (6) sosial, sehingga Posyandu tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan dan integrasi pelayanan dasar masyarakat di tingkat desa/kelurahan.

Transformasi ini merupakan langkah penting agar masyarakat dapat memperoleh berbagai layanan dasar secara lebih dekat, terpadu, dan mudah dijangkau.

Posyandu tidak lagi hanya menjadi ruang pelayanan kesehatan, tetapi berkembang menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat secara lebih luas.

Tujuannya tentu sangat baik: mendekatkan layanan kepada masyarakat dan memastikan masyarakat dapat memperoleh sedikitnya enam layanan dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Posyandu diharapkan semakin hadir sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan masyarakat yang dekat, mudah diakses, dan mampu menjawab kebutuhan keluarga secara lebih menyeluruh.

Namun, di balik semakin luasnya cakupan pelayanan, ada konsekuensi yang perlu mendapatkan perhatian. Ketika layanan bertambah, peran dan tanggung jawab kader pun ikut bertambah.

Kader tidak lagi hanya membantu kegiatan penimbangan atau pelayanan kesehatan rutin.

Mereka perlu memahami berbagai layanan yang tersedia, memberikan informasi kepada masyarakat, membantu pendataan, mengenali kebutuhan keluarga, mengidentifikasi masyarakat yang membutuhkan layanan tertentu, melakukan komunikasi dan edukasi, serta menjadi penghubung antara masyarakat dengan berbagai layanan dasar lainnya.

Dengan kata lain, transformasi Posyandu bukan hanya transformasi jenis layanan, tetapi juga transformasi peran kader.

Masyarakat memperoleh manfaat melalui layanan yang semakin lengkap dan dekat, sementara kader menjadi salah satu pihak yang berada di garis depan untuk memastikan transformasi tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Karena itu, semakin luas peran Posyandu, semakin besar pula kebutuhan terhadap kapasitas dan dukungan bagi kader.

Kader membutuhkan pengetahuan, keterampilan, pelatihan, fasilitas, informasi, pendampingan, dan dukungan yang memadai agar mampu menjalankan peran yang semakin kompleks.

Semangat untuk membantu masyarakat tetap menjadi fondasi, tetapi semangat tersebut perlu diperkuat dengan sistem dukungan yang baik.

Di sinilah apresiasi kepada kader menjadi penting.

Memberikan apresiasi bukan berarti menghilangkan semangat sukarela atau mengubah gotong royong menjadi hubungan yang semata-mata transaksional. 

Sebaliknya, apresiasi merupakan bentuk penghormatan atas waktu, tenaga, pengetahuan, dan kepedulian yang telah diberikan kader untuk kepentingan masyarakat.

Apresiasi dapat hadir dalam berbagai bentuk.

Insentif merupakan salah satunya, tetapi bukan satu-satunya.

Pelatihan yang berkelanjutan, peningkatan kapasitas, dukungan fasilitas, alat kerja yang memadai, pendampingan, akses terhadap informasi, serta penghargaan sosial juga merupakan bentuk perhatian yang penting.

Yang paling utama adalah adanya pesan bahwa kader tidak bekerja sendirian dan bahwa kontribusi mereka dilihat, dihargai, serta didukung.

Apresiasi juga memiliki makna yang lebih luas bagi keberlanjutan Posyandu.

Ketika seorang kader dihargai, masyarakat menunjukkan bahwa pengabdian dan kontribusi sosial memiliki nilai. 

Hal ini penting untuk menjaga motivasi kader sekaligus mendorong regenerasi.

Generasi muda perlu melihat bahwa keterlibatan dalam kegiatan masyarakat bukan sekadar tambahan pekerjaan tanpa penghargaan, tetapi merupakan bentuk kontribusi yang bermakna dan terhormat.

Gotong royong dan apresiasi bukanlah dua hal yang bertentangan.

Baca Juga: Gunung Gede Kembali Terbakar, Api Muncul di Kawah Wadon dan Picu Pengerahan 80 Personel

Gotong royong adalah jiwa yang menghidupkan Posyandu, sementara apresiasi menjadi energi yang menjaganya tetap tumbuh. 

Gotong royong memberikan dasar nilai, sedangkan apresiasi dan dukungan memberikan kekuatan agar mereka yang menjalankan nilai tersebut dapat terus berkontribusi.

Karena itu, transformasi Posyandu perlu diikuti dengan transformasi cara kita memandang dan memperlakukan kader.

Ketika Posyandu berkembang dari pelayanan kesehatan menuju enam bidang pelayanan dasar, maka dukungan terhadap kader juga perlu berkembang.

Semakin strategis peran kader, semakin penting pula memastikan mereka memiliki kemampuan, waktu, fasilitas, dan penghargaan yang memadai.

Posyandu mengajarkan bahwa pembangunan masyarakat tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.

Ia dapat tumbuh dari kepedulian sederhana: seorang kader yang hadir, seorang ibu yang mendapatkan informasi, seorang anak yang dipantau pertumbuhannya, sebuah keluarga yang mendapatkan pendampingan, dan masyarakat yang saling membantu.

Di balik setiap layanan, ada manusia yang bekerja.

Baca Juga: Bansos Rp600 Ribu Cair di Wilayah Jawa Barat, Cek Saldo KKS di Mesin ATM

Di balik transformasi Posyandu, ada kader yang belajar menyesuaikan diri dengan perubahan. 

Dan di balik keberhasilan pelayanan kepada masyarakat, ada semangat gotong royong yang perlu terus dijaga.

Karena itu, menjaga Posyandu bukan sekadar menjaga sebuah program. Menjaga Posyandu berarti menjaga semangat kebersamaan yang telah tumbuh di tengah masyarakat.

Menguatkan kader berarti memastikan transformasi pelayanan dapat berjalan.

Dan menghargai kader berarti menghargai mereka yang selama ini hadir di tengah masyarakat untuk membantu menjaga kesehatan dan kesejahteraan keluarga Indonesia.

Gotong royong adalah jiwa Posyandu. Transformasi adalah langkahnya. Apresiasi adalah kekuatan untuk menjaganya tetap hidup dan tumbuh di tengah perubahan zaman. (*)

Dr. Yane Ardian
Pembina Kesekretariatan Posyandu Pusat

Editor : Siti Dewi Yanti
kader yane ardian posyandu