Rela Tekor Rp520 Juta, Dokter di Bogor Ini Tetap Beri Pengobatan Gratis untuk Anak Yatim dan Lansia

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 13:19 WIB
Dokter Anisa Charismawati saat ditemui di tempat praktiknya di Jalan Raya Cimanggu, Kota Bogor. (Foto: Fikri/Radar Bogor)
Dokter Anisa Charismawati saat ditemui di tempat praktiknya di Jalan Raya Cimanggu, Kota Bogor. (Foto: Fikri/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Kepedulian terhadap warga kurang mampu membuat Dokter Anisa Charismawati memilih menjalankan praktik kesehatan dengan konsep berbeda.

Di tempat praktiknya di Kota Bogor, Dokter Anisa memberikan pengobatan gratis bagi anak yatim dan lansia dari keluarga tidak mampu, meski harus menanggung defisit operasional hingga sekitar Rp520 juta.

Tempat praktik yang berada di Jalan Raya Cimanggu, RT 05/RW 04, Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, tersebut dirintis Dokter Anisa bersama suaminya, Ma’ruf Washil Latif, sejak 2015.

Seiring berjalannya waktu, tempat praktik itu tidak hanya menjadi fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga berkembang menjadi ruang pelayanan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dokter Anisa bersama suaminya menyediakan layanan pengobatan tanpa biaya bagi anak yatim dan lansia yang berasal dari keluarga tidak mampu. 

Sementara masyarakat umum tetap mendapatkan keringanan dengan subsidi biaya pengobatan sebesar 40 persen.

Baca Juga: Danesh Dario Tembus 4 Besar Klasemen Nasional Autokhana 2026, Selisih 5 Poin dari Puncak

Dengan skema tersebut, warga yang datang untuk berobat tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan dengan biaya yang lebih ringan.

Namun, konsep pelayanan sosial itu membuat tempat praktik tersebut harus menghadapi beban operasional yang cukup besar.

Berdasarkan catatan keuangan yang dimiliki Anisa, defisit operasional sejak 2021 hingga sekarang telah mencapai sekitar Rp520 juta.

Defisit itu berasal dari berbagai kebutuhan, termasuk biaya pelayanan pasien serta penyusutan peralatan medis yang digunakan dalam kegiatan praktik.

Dokter Anisa menyebut kebutuhan tersebut selama ini ditopang dari keuntungan bisnis yang dijalankan bersama suaminya. 

Selain itu, mereka juga mendapatkan dukungan dari para donatur yang ikut membantu keberlangsungan program sosial tersebut.

Saat ditemui Radar Bogor pada Sabtu 8 Agustus 2026, Dokter Anisa menjelaskan bahwa apabila dihitung berdasarkan pembukuan finansial secara murni, tempat praktik kesehatan tersebut memang mengalami kerugian.

Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan pelayanan.

Menurut perempuan kelahiran Berau, 12 November 1987, itu, keberadaan tempat praktik tersebut telah memberikan manfaat nyata bagi banyak orang.

Dokter Anisa mengatakan, selama bisnis utama yang dijalankan bersama suaminya masih mampu menopang kebutuhan, pelayanan kesehatan sosial itu akan terus dipertahankan.

Baca Juga: KKS Mandiri Cair Masif di 40 Daerah, Ini Bukti Struk Bansos Terupdate

Ia memandang kegiatan tersebut sebagai bagian dari ibadah sekaligus bentuk kontribusi kepada sesama.

Berawal dari Pengalaman Pasien Tak Punya Uang untuk Makan

Keputusan Anisa memberikan pengobatan gratis berawal dari pengalaman yang dialaminya saat melihat kondisi pasien di sekitar tempat praktik.

Pada 2017, Anisa dan suaminya pernah mendapati seorang pasien yang sebenarnya masih mampu membayar biaya pemeriksaan.

Namun, setelah membeli obat, uang yang tersisa tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Pengalaman tersebut membuat keduanya berpikir untuk mencari pola pelayanan yang tidak semakin membebani masyarakat dengan kondisi ekonomi terbatas.

Dari situlah program pengobatan gratis mulai dijalankan. Awalnya, layanan tanpa biaya diberikan setiap Jumat, termasuk untuk jasa dokter dan obat-obatan.

Menurut Anisa, program yang dimulai pada 2017 itu secara perlahan menunjukkan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat.

Seiring waktu, penerima manfaat diperluas. Tidak hanya masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi, program tersebut secara khusus menyasar anak yatim serta lansia dari keluarga tidak mampu.

Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, pengelola menerapkan mekanisme verifikasi bagi calon penerima layanan gratis.

Pasien atau pihak yang mewakilinya perlu menyiapkan sejumlah dokumen administrasi.

Baca Juga: Nostalgia di Saung Lebak Hejo Karawang, Wisata Alam dan Kuliner Sunda dengan Permainan Tradisional

Di antaranya identitas diri atau kartu keluarga, dokumen yang menunjukkan status yatim atau kehilangan pasangan, serta Surat Keterangan Tidak Mampu yang dikeluarkan melalui RT/RW dan kelurahan.

Bagi anak yatim, pengelola juga meminta rapor sekolah terakhir sebagai salah satu bahan verifikasi.

Sementara itu, apabila calon penerima layanan berasal dari panti asuhan atau yayasan yang telah menjadi mitra, proses pemeriksaan administrasi dapat dilakukan secara kolektif melalui penanggung jawab yayasan.

Sistem tersebut diterapkan untuk memastikan fasilitas pengobatan gratis benar-benar diterima masyarakat yang memenuhi kriteria.

Pasien Umum Dapat Subsidi 40 Persen

Tidak hanya menyediakan layanan gratis, tempat praktik tersebut juga memberikan keringanan kepada pasien umum.

Setiap pasien umum secara otomatis mendapatkan subsidi sebesar 40 persen dari biaya pengobatan.

Sebagai contoh, apabila total biaya pengobatan mencapai Rp100 ribu, pasien hanya perlu membayar sekitar Rp60 ribu.

Selain subsidi, pengelola juga menyediakan kotak donasi sukarela bagi pasien yang ingin ikut membantu.

Konsep tersebut dibuat agar masyarakat yang pernah mendapatkan manfaat dari layanan kesehatan dapat turut membantu pasien lainnya sesuai kemampuan masing-masing.

Dokter Anisa menyebut mekanisme itu sebagai konsep “dari pasien untuk pasien”. Dalam satu bulan, tempat praktik tersebut dapat melayani lebih dari 100 pasien. Pelayanan sosial yang diberikan juga tidak sebatas pengobatan.

Baca Juga: Perkuat Komunikasi Publik, DPRD Banten Jadikan Radar Bogor Benchmark Bangun Kemitraan Media

Anisa bersama suaminya secara berkala memberikan bantuan lain kepada anak-anak yatim, seperti parsel serta perlengkapan alat tulis untuk kebutuhan sekolah.

Cita-Cita Bangun Rumah Sakit untuk Anak Yatim

Keinginan Anisa untuk membantu anak yatim dan kaum dhuafa ternyata telah tumbuh sejak dirinya masih kecil.

Ia mengaku dibesarkan di wilayah pelosok Kalimantan dalam keluarga sederhana. Kedua orang tuanya diketahui berprofesi sebagai guru di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Latar belakang keluarga tersebut ikut membentuk keinginannya untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Sejak kecil, Anisa bahkan telah memiliki cita-cita untuk suatu hari dapat mendirikan rumah sakit yang diperuntukkan bagi anak yatim dan masyarakat dhuafa.

Cita-cita itu kemudian membawanya menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada 2006.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan menikah pada 2015, Anisa bersama suaminya memutuskan pindah dari Jakarta ke Bogor.

Di Kota Bogor, keduanya menemukan sebuah bangunan yang kemudian dijadikan tempat praktik kesehatan.

Bangunan tersebut sebelumnya merupakan gudang yang sudah tidak digunakan selama kurang lebih 32 tahun. Kondisinya ketika ditemukan bahkan hampir roboh.

Anisa dan suaminya kemudian melakukan renovasi secara bertahap terhadap bangunan dua lantai tersebut hingga dapat digunakan untuk pelayanan kesehatan.

Baca Juga: Rezeki KPM, Bansos Tahap 3 Cair Plus 2 Bantuan Tambahan Hari Ini 10 Agustus 2026

Saat ini, bagian depan bangunan digunakan sebagai apotek, sedangkan area tengah dimanfaatkan sebagai ruang praktik.

Bisnis Skincare Jadi Penopang Operasional

Untuk membiayai keberlangsungan tempat praktik tersebut, Anisa kemudian mengembangkan sumber pendapatan lain.

Pada 2017, ia mulai menjalankan bisnis di bidang estetika dan skincare secara daring.

Usaha tersebut kemudian berkembang dan menghasilkan keuntungan yang sebagian digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional tempat praktik kesehatan.

Selain mengandalkan bisnis bersama suaminya, Anisa juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berdonasi.

Ia juga tetap menjalankan praktik kedokteran di lokasi lain yang letaknya tidak jauh dari tempat pelayanan kesehatan sosial tersebut.

Perjalanan mempertahankan pelayanan sosial itu bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar terjadi ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020 hingga 2021.

Pada masa tersebut, salah satu dokter pengganti yang bertugas di tempat praktik tersebut terpapar Covid-19 dan kemudian meninggal dunia.

Kondisi semakin berat karena tempat praktik masih berstatus sebagai bangunan kontrakan dan sejak awal memang tidak dirancang untuk mengejar keuntungan finansial.

Anisa dan suaminya sempat mempertimbangkan kemungkinan untuk menghentikan pelayanan.

Baca Juga: SDN Lumpang 01 Parungpanjang Bogor 4 Kali Dibobol Maling, Kerugian Capai Rp70 Juta

Namun, pada akhirnya keduanya memilih tetap mempertahankan sekaligus memperluas program sosial tersebut.

Kontrak Berakhir September 2026

Saat ini, keberlanjutan tempat praktik tersebut kembali menghadapi tantangan. Bangunan yang digunakan berstatus kontrakan dengan masa sewa lima tahun sejak 2021.

Masa kontrak tersebut akan berakhir pada September 2026. Meski menghadapi persoalan finansial dan ketidakpastian mengenai tempat, Anisa menyatakan keinginannya untuk tetap mempertahankan pelayanan kesehatan tersebut.

Ia berharap tempat praktik itu dapat terus menjadi akses layanan kesehatan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi, terutama anak yatim dan lansia tidak mampu.

Bagi Anisa, mempertahankan layanan tersebut bukan sekadar persoalan bisnis. Ia melihatnya sebagai bagian dari ikhtiar membangun amal jariyah yang manfaatnya dapat terus dirasakan orang lain.

Menurutnya, kondisi defisit yang terjadi menjadi ujian tersendiri untuk melihat apakah niat membantu masyarakat tetap dapat dipertahankan ketika berhadapan dengan persoalan finansial.

Anisa menegaskan bahwa tempat praktik tersebut sejak awal tidak mengambil keuntungan dari pelayanan kesehatan sosial yang diberikan.

Selama bisnis utama yang dijalankan bersama suaminya masih berjalan, keuntungan usaha tersebut akan tetap dialokasikan untuk membantu menopang biaya operasional tempat praktik.

Baca Juga: Lalin Simpang Jalan Mawar Kota Bogor Dikaji Ulang, dari RSUD Bisa Langsung ke Pasar Merdeka

Ia berharap pelayanan kesehatan gratis bagi anak yatim dan masyarakat kurang mampu di Kota Bogor dapat terus berjalan sehingga semakin banyak warga yang memperoleh manfaat.

Dokter Anisa juga menegaskan komitmennya untuk mempertahankan program tersebut selama sumber pendanaan dari bisnis utama masih memungkinkan.

Baginya, keberlanjutan layanan kesehatan itu bukan hanya tentang mempertahankan sebuah tempat praktik, melainkan menjaga kesempatan masyarakat kurang mampu untuk mendapatkan pengobatan secara layak. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
kota bogor dokter pengobatan gratis