Sering Merasa Jadi Ibu yang Kurang Baik? Ini Pesan Dr. Yane Ardian

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 06:40 WIB
Dr. Yane Ardian
Dr. Yane Ardian

RADAR BOGOR - Di tengah tuntutan pekerjaan dan keluarga yang datang bersamaan, banyak ibu bekerja diam-diam menghadapi pertanyaan yang sama yakni apakah dirinya sudah cukup baik?

Pertanyaan itu kerap muncul pada momen-momen sederhana. 

Saat pekerjaan membuat seorang ibu pulang lebih larut dan mendapati anaknya sudah tertidur. 

Baca Juga: PKH Tahap 3 Cair di Bank BNI dan BSI, Ini Wilayah dan Nominal yang Terkonfirmasi

Atau ketika tubuh sudah berada di rumah, tetapi pikiran masih sibuk memikirkan tugas kantor yang belum selesai.

Ada pula saat seorang ibu melihat perempuan lain yang dianggap mampu menjalankan berbagai peran dengan baik. 

Tanpa disadari, perbandingan itu dapat memunculkan perasaan bersalah dan membuat seorang ibu merasa dirinya belum melakukan cukup banyak.

Rasa Bersalah Lahir dari Kepedulian

Dalam tulisannya bertajuk Work Life Harmony, Dr. Yane Ardian mengajak para ibu melihat persoalan tersebut dari sudut pandang yang berbeda. 

Menurutnya, rasa bersalah yang muncul tidak selalu menandakan bahwa seorang ibu gagal menjalankan perannya.

Malah, perasaan tersebut dapat muncul karena seorang ibu memiliki kepedulian besar terhadap berbagai hal dalam kehidupannya.

"Justru rasa bersalah sering muncul karena seorang ibu sangat peduli," jelas Yane.

Seorang ibu ingin memberikan yang terbaik di tempat kerja, menjadi pasangan yang baik, hadir untuk anak dan keluarga, sekaligus tetap memiliki kesempatan untuk mengembangkan dirinya.

Keinginan menjalankan seluruh peran tersebut pada dasarnya merupakan hal positif. 

Baca Juga: Ibu Hebat Tak Harus Sempurna, Ini Makna Work Life Harmony

Namun, ketika berbagai tuntutan hadir dalam waktu yang bersamaan, seorang ibu dapat terjebak dalam perasaan bahwa dirinya selalu memiliki kekurangan.

Di satu sisi, ia merasa kurang hadir untuk keluarga. 

Di sisi lain, pekerjaan juga terasa belum maksimal. 

Ketika kedua hal itu terus berjalan, waktu untuk beristirahat dan merawat diri sendiri sering kali menjadi bagian yang paling mudah dikorbankan.

Lelah Bukan Berarti Gagal

Yane Ardian menekankan, rasa lelah tidak selalu menjadi tanda kegagalan. 

Kelelahan bisa menjadi sinyal, seseorang sedang menjalankan terlalu banyak tanggung jawab tanpa dukungan dan kesempatan yang cukup untuk memulihkan diri.

Karena itu, persoalan ibu bekerja seharusnya tidak hanya dilihat dari kemampuan mengatur waktu atau meningkatkan produktivitas.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana berbagai tuntutan dalam kehidupan dapat dijalani dengan dukungan yang memadai, kata dia, memiliki ruang untuk menentukan prioritas, serta tetap memenuhi kebutuhan psikologis diri.

Cara pandang tersebut, menggeser pertanyaan yang selama ini sering diberikan kepada ibu bekerja. 

Bukan lagi soal bagaimana seorang ibu mampu mengerjakan seluruh tanggung jawab sekaligus, melainkan bagaimana ia dapat menjalankan hal-hal yang benar-benar penting dengan cara yang lebih sehat.

Work Life Harmony, bukan Tuntutan Untuk Melakukan Semuanya

Gagasan work-life harmony yang disampaikan Yane Ardian, pada akhirnya bukan tentang menciptakan kehidupan yang selalu seimbang setiap saat.

Ada masa ketika pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. 

Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Tahap 3 Disalurkan Agustus 2026, Ini Pesan Kemensos

Ada pula waktu ketika keluarga menjadi prioritas utama. 

Yang penting adalah kemampuan mengenali apa yang perlu didahulukan tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri.

Ibu juga tidak harus memenuhi standar kesempurnaan yang dibangun oleh lingkungan maupun dirinya sendiri.

Sebab, keluarga tidak membutuhkan sosok ibu yang selalu mampu melakukan segala sesuatu tanpa kesalahan. 

Yang jauh lebih penting adalah memiliki ibu yang tetap hadir sebagai pribadi yang utuh, mampu mengenali batas dirinya, mendapatkan dukungan, dan memiliki ruang untuk bertumbuh.

Pesan tersebut, jelas Yane, menjadi pengingat bahwa menjadi ibu sekaligus profesional bukanlah perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling mampu mengerjakan semuanya.

Ada kalanya mengatakan cukup, meminta bantuan, beristirahat, atau memilih satu hal yang paling penting justru menjadi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan keluarga. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
Work Life Harmony ibu yane ardian