RADAR BOGOR - Menjadi ibu di tengah tuntutan kehidupan modern, bukan perkara sederhana.
Dalam satu hari, seorang ibu bisa menjalankan banyak peran sekaligus.
Ya, mulai dari mengurus keluarga, mendampingi anak, menjaga rumah, hingga menyelesaikan pekerjaan profesional.
Di balik rutinitas tersebut, ada tekanan yang kerap tak terlihat.
Sebagian ibu merasa harus selalu kuat, sabar, produktif, dan mampu menyelesaikan seluruh tanggung jawab tanpa menunjukkan kelelahan.
Baca Juga: Asyik, Saldo Bansos PKH BPNT Tahap 3 Mulai Masuk KKS BNI dan BSI, Segini Nominalnya
Fenomena tersebut, dikenal dengan istilah Supermom Syndrome.
Dalam tulisannya berjudul Work Life Harmony, Dr. Yane Ardian, menyoroti bagaimana tuntutan menjadi ibu yang serba bisa dapat memengaruhi keseimbangan kehidupan keluarga dan pekerjaan.
Ketika Menjadi Ibu Identik dengan Harus Serba Bisa
Istilah Supermom Syndrome tidak menggambarkan sosok ibu yang benar-benar memiliki kemampuan luar biasa.
Sebaliknya, istilah ini menggambarkan kondisi ketika seorang ibu merasa dirinya harus mampu mengendalikan dan menyelesaikan hampir seluruh urusan dalam kehidupan sehari-hari.
Ekspektasi tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk.
Menurut Yane, seorang ibu merasa harus memberikan perhatian penuh kepada anak, menjadi pasangan yang baik.
Selain itu, menjalankan pekerjaan secara profesional, memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi, sekaligus menjaga kesehatan dan kondisi emosionalnya.
Masalahnya, tuntutan tersebut sering kali disertai anggapan bahwa ibu yang baik adalah sosok yang tidak boleh mengeluh dan sebisa mungkin tidak memperlihatkan rasa lelah.
Padahal, kata Yane, kemampuan manusia memiliki batas. Waktu, energi, dukungan, dan kesempatan untuk beristirahat tidak selalu tersedia dalam jumlah yang sama setiap hari.
Rutinitas Panjang yang Kerap Tidak Terlihat
Gambaran sederhana dapat terlihat dari keseharian seorang ibu bekerja.
Pagi dimulai dengan menyiapkan berbagai kebutuhan keluarga. Anak harus bersiap ke sekolah, urusan rumah perlu diselesaikan, sebelum akhirnya ibu beralih ke tanggung jawab di tempat kerja.
Baca Juga: Aksi Bergizi SMK Kesehatan Triple J Bogor, Siswa Diajak Cegah Anemia dan Terapkan Pola Hidup Sehat
Di lingkungan profesional, ia kembali dituntut untuk fokus, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memenuhi target.
Namun, ketika jam kerja berakhir, tanggung jawab belum tentu ikut berhenti.
Di rumah masih ada anak yang membutuhkan perhatian, keluarga yang perlu didampingi, serta pekerjaan domestik yang harus diselesaikan.
Tak jarang, ketika rumah mulai tenang dan anggota keluarga lainnya telah beristirahat, seorang ibu justru baru memiliki kesempatan untuk bertanya kepada dirinya sendiri.
“Apakah hari ini saya sudah melakukan semuanya dengan baik?,” ungkap Pembina Kesekretariatan Posyandu Pusat itu.
Pertanyaan sederhana itu, dapat menjadi sumber tekanan apabila seorang ibu terus-menerus menilai dirinya berdasarkan standar kesempurnaan.
Banyak Peran Bukan Masalah, Standar Sempurna yang Bisa Melelahkan
Menurut Dr. Yane Ardian, menjalankan berbagai peran sebenarnya bukan sesuatu yang harus dipandang sebagai beban.
Menjadi ibu, pasangan, pekerja, sekaligus bagian dari lingkungan sosial dapat memberikan makna tersendiri.
Persoalan muncul, ketika semua peran tersebut harus dijalankan secara sempurna dalam waktu bersamaan.
Baca Juga: KKS BRI, BSI dan Mandiri Segera Ramai Pencairan? Ini Update PKH dan BPNT Tahap 3 2026
“Ibu yang baik bukan ibu yang tidak pernah lelah. Ibu yang baik bukan ibu yang selalu bisa menyelesaikan semuanya sendiri,” jelas Staf Ahli Bidang Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga TP PKK Pusat tersebut.
Pandangan tersebut, menjadi penting karena tekanan yang dirasakan seseorang tidak selalu ditentukan oleh banyaknya peran yang dijalankan.
Konflik di antara berbagai peran dan tuntutan, untuk selalu memenuhi standar tinggi justru dapat menjadi persoalan yang lebih berat.
Ketika tuntutan kehidupan sehari-hari jauh melebihi sumber daya yang tersedia, risiko kelelahan emosional pun dapat meningkat.
Belajar Menentukan Prioritas dan Menerima Dukungan
Karena itu, diperlukan perubahan cara pandang mengenai seperti apa sosok ibu yang ideal.
Seorang ibu tidak harus membuktikan kasih sayangnya dengan mengerjakan semuanya seorang diri.
Memahami keterbatasan diri, berani meminta bantuan, dan menentukan prioritas merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan kehidupan.
Yane Ardian menekankan, pentingnya memahami bahwa keluarga tidak membutuhkan sosok ibu yang harus selalu tampil sempurna seperti pahlawan super.
“Keluarga membutuhkan seorang ibu yang hadir dengan hati yang sehat,” kata istri Wamendagri, Bima Arya tersebut.
Baca Juga: Bansos BPNT Tahap 3 Cair Bertahap, Ini Langkah Amannya Sebelum Cek Saldo KKS
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga diri bukan bentuk keegoisan.
Ketika seorang ibu memiliki ruang untuk beristirahat, memperoleh dukungan, dan mengelola tuntutan dengan lebih realistis, kualitas kehadirannya bagi keluarga juga dapat terjaga.
Pada akhirnya, sambung Yane, menjadi ibu bukan tentang seberapa banyak pekerjaan yang mampu diselesaikan dalam satu hari.
Lebih dari itu, peran tersebut berkaitan dengan bagaimana seorang ibu dapat hadir bagi keluarganya tanpa kehilangan dirinya sendiri. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti