Mental Load Ibu, Beban Tak Terlihat yang Sering Terabaikan

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 06:46 WIB
Dr. Yane Ardian
Dr. Yane Ardian

RADAR BOGOR - Bukan hanya pekerjaan rumah dan urusan kantor, yang membuat seorang ibu kelelahan. 

Ada beban pikiran yang terus bekerja, bahkan ketika tubuh sedang beristirahat.

Inilah yang dikenal sebagai mental load.

Ketika tubuh berhenti, pikiran ibu belum tentu ikut beristirahat

Baca Juga: Cuaca Panas Ekstrem Mengintai, Kenali Dampaknya bagi Kesehatan dan Cara Mencegahnya

Seorang ibu bisa saja terlihat sedang duduk santai setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. 

Namun, di dalam pikirannya masih ada banyak hal yang harus dipikirkan yakni menu makanan keluarga, kebutuhan anak. 

Tak hanya itu, jadwal sekolah, pekerjaan kantor, hingga berbagai keperluan rumah tangga yang belum selesai.

Kondisi tersebut menggambarkan fenomena mental load, yakni beban kognitif yang muncul karena seseorang harus terus mengingat. 

Termasuk merencanakan, mengantisipasi, sekaligus memastikan berbagai urusan berjalan dengan baik.

Staf Ahli Bidang Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Pusat, Dr. Yane Ardian mengangkat persoalan tersebut dalam tulisannya berjudul Work Life Harmony.

Menurut Yane, kelelahan seorang ibu kerap hanya dinilai dari pekerjaan yang terlihat secara fisik. Padahal, ada pekerjaan lain yang berlangsung terus-menerus di dalam pikiran.

“Ketika kita berbicara tentang kelelahan seorang ibu, sering kali yang terlihat hanyalah apa yang dilakukan secara fisik,” jelas Yane Ardian yang juga Pembina Kesekretariatan Posyandu Pusat.

Baca Juga: Asyik, Saldo Bansos PKH BPNT Tahap 3 Mulai Masuk KKS BNI dan BSI, Segini Nominalnya

Ia menjelaskan, masyarakat mungkin melihat seorang ibu memasak, mengantar anak, membersihkan rumah, atau bekerja di kantor. 

Namun, tidak semua orang melihat proses berpikir yang menyertai setiap aktivitas tersebut.

Mental load bukan sekadar banyak pekerjaan

Beban mental muncul, kata Yane, ketika seseorang tidak hanya harus mengerjakan sesuatu, tetapi juga menjadi pihak yang terus memikirkan apa yang harus dilakukan berikutnya.

Misalnya, urusan makan anak bukan sekadar memastikan anak sudah makan hari ini. 

Di baliknya, sambung Yane, ada pertanyaan lain yang harus dijawab yaitu menu apa yang akan disiapkan untuk beberapa hari ke depan, apakah kebutuhan gizinya terpenuhi, dan apakah bahan makanan masih tersedia di rumah.

Begitu pula dengan urusan sekolah. 

Tugas seorang ibu tidak berhenti pada mengantar anak ke sekolah. 

Ada jadwal kegiatan yang perlu diketahui, seragam yang harus disiapkan, tugas sekolah yang harus dipantau, hingga perlengkapan yang perlu dibawa.

Hal serupa terjadi dalam pengelolaan rumah tangga. 

Kebutuhan keluarga harus diperhitungkan, daftar belanja perlu dibuat, serta berbagai keperluan rumah harus dipersiapkan sebelum benar-benar dibutuhkan.

Baca Juga: Aksi Bergizi SMK Kesehatan Triple J Bogor, Siswa Diajak Cegah Anemia dan Terapkan Pola Hidup Sehat

Dalam kondisi seperti ini, tutur Yane, seorang ibu sering kali berperan layaknya manajer keluarga. 

Ia bukan hanya mengerjakan berbagai tugas, tetapi juga menjadi orang yang mengingat banyak hal agar kehidupan keluarga tetap berjalan.

Beban Pikiran yang Tidak Mengenal Jam Kerja

Salah satu bagian yang paling melelahkan dari mental load adalah tidak adanya batas waktu yang tegas.

Berbeda dengan pekerjaan di kantor yang umumnya memiliki jam masuk dan jam pulang, tanggung jawab keluarga dapat terus memenuhi pikiran seseorang sepanjang hari. 

Bahkan, ketika tubuh sudah berada di tempat tidur, pikiran masih sibuk memikirkan kebutuhan keluarga untuk esok hari.

Karena itu, rasa lelah yang muncul tidak selalu sebanding dengan aktivitas fisik yang dilakukan. 

Baca Juga: KKS BRI, BSI dan Mandiri Segera Ramai Pencairan? Ini Update PKH dan BPNT Tahap 3 2026

Seseorang dapat merasa sangat terkuras meskipun sebagian pekerjaannya tidak terlihat oleh orang lain.

Dalam tulisannya, Dr. Yane Ardian menekankan, persoalan tersebut berkaitan dengan tuntutan kognitif dan emosional yang berlangsung terus-menerus dalam kehidupan keluarga.

Ketika beban tersebut tidak dibagi secara adil dan seseorang tidak memperoleh dukungan yang cukup, tekanan dapat semakin berat dan berpotensi memicu stres serta kelelahan emosional.

Mental Load Bukan Alasan Ibu harus Berhenti Bekerja

Pembahasan mengenai mental load bukan berarti perempuan, khususnya ibu, harus berhenti bekerja atau mengurangi perannya dalam aktivitas di luar rumah.

Sebaliknya, persoalan ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab keluarga seharusnya tidak dibebankan kepada satu orang saja.

Dr. Yane Ardian menegaskan, keluarga perlu dipandang sebagai sebuah tim. Setiap anggota keluarga dapat mengambil bagian sesuai kemampuan dan perannya masing-masing.

“Namun ada hal penting yang perlu kita pahami: Mental load bukan berarti ibu harus berhenti bekerja. Mental load juga bukan berarti ibu harus menanggung semuanya dengan lebih kuat,” papar Yane Ardian.

Baca Juga: Bansos BPNT Tahap 3 Cair Bertahap, Ini Langkah Amannya Sebelum Cek Saldo KKS

Menurut Yane, pembagian tanggung jawab menjadi bagian penting dalam menciptakan kehidupan keluarga yang lebih sehat dan seimbang. 

Pasangan, anak, maupun anggota keluarga lainnya dapat berkontribusi dalam berbagai urusan rumah tangga.

Keluarga yang Kuat Bukan tentang Siapa yang Paling Mampu

Ketika pekerjaan domestik dan tanggung jawab keluarga dibagi bersama, seorang ibu tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang harus mengingat dan memastikan semuanya berjalan.

Dukungan sederhana dari anggota keluarga dapat membuat perbedaan besar. Membantu menyiapkan kebutuhan anak, mengambil bagian dalam pekerjaan rumah, atau ikut merencanakan kebutuhan keluarga merupakan bentuk kontribusi yang dapat mengurangi beban mental.

Pada akhirnya, keharmonisan keluarga tidak ditentukan oleh kemampuan satu orang untuk menangani semuanya seorang diri.

“Keluarga adalah sebuah tim. Tanggung jawab keluarga bukan milik satu orang saja,” jelas Yane Ardian.

Ia juga menekankan, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang memiliki satu anggota yang sanggup melakukan semua pekerjaan. 

Justru, sambung Yane, kekuatan keluarga terlihat ketika setiap anggotanya bersedia saling membantu dan menopang.

Baca Juga: Bansos PKH Tahap 3 2026 Cair, KPM Diminta Cek KKS BNI Hari Ini

Dengan memahami mental load, keluarga diharapkan tidak hanya memperhatikan pekerjaan yang terlihat, tetapi juga menghargai beban pikiran yang selama ini sering luput dari perhatian.

Sebab, membangun work life harmony bukan tentang membuat satu orang semakin kuat menanggung semuanya. 

Melainkan, menurut Yane, menciptakan pembagian peran yang lebih adil agar setiap anggota keluarga dapat tumbuh, bekerja, dan beristirahat tanpa merasa harus memikul seluruh beban sendirian. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
Work Life Harmony Mental Load bogor yane ardian