IPB University Perkuat Kolaborasi Masyarakat Lewat OVOC, GNAA, dan WUNPROQ

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 10:59 WIB
Lokakarya dan Diseminasi Hasil Program Community Development Equity 2026 yang digelar IPB University di Grand Savero Hotel, Bogor, Kamis 13 Agustus 2026
Lokakarya dan Diseminasi Hasil Program Community Development Equity 2026 yang digelar IPB University di Grand Savero Hotel, Bogor, Kamis 13 Agustus 2026

RADAR BOGOR – IPB University terus memperluas kolaborasi dalam pengembangan masyarakat melalui berbagai program berbasis riset, inovasi, kewirausahaan, dan jejaring internasional.

Upaya tersebut salah satunya diwujudkan IPB University melalui Lokakarya dan Diseminasi Hasil Program Community Development Equity 2026 yang digelar di Grand Savero Hotel, Bogor, Kamis 13 Agustus 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University itu, menjadi forum untuk membagikan hasil program, pengalaman lapangan, praktik baik, sekaligus pembelajaran dari berbagai kegiatan pengembangan masyarakat.

Forum ini juga mempertemukan berbagai unsur, mulai dari akademisi, mahasiswa, petani, nelayan, pemerintah, hingga mitra perguruan tinggi dan organisasi dari sejumlah negara.

Pelaksanaan secara hybrid membuat proses berbagi pengetahuan dapat menjangkau peserta dari berbagai wilayah.

Kegiatan dibuka Kepala LPA2I IPB University, Dr. Handian Purwawangsa, S.Hut., M.Si.

Baca Juga: Honda BeAT 2026: Harga Rp19 Jutaan, Ini Speknya

Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa konsep Community Development yang dikembangkan IPB University tidak berhenti pada kegiatan pendampingan masyarakat.

Menurut Handian, program tersebut dirancang untuk membangun ekosistem yang mempertemukan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, inovator, dan jaringan internasional.

"Community Development kami tempatkan sebagai bagian dari pembangunan ekosistem kolaborasi. Di dalamnya terdapat keterhubungan antara pengetahuan, inovasi, kewirausahaan, masyarakat, pemerintah, sektor usaha, hingga jejaring global," kata Handian.

Tiga Platform Kolaborasi IPB University

Dalam lokakarya tersebut, terdapat tiga inisiatif utama yang menjadi sorotan, yakni One Village One CEO (OVOC) Internasional, Global Network for Advanced Agromaritime (GNAA), serta World University Network for Waqf Productive (WUNPROQ).

Ketiga inisiatif itu dikembangkan sebagai wadah untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat, mempercepat hilirisasi hasil riset dan inovasi agromaritim, mendorong kewirausahaan, sekaligus mendukung keberlanjutan pembangunan.

Rangkaian diseminasi diawali dengan pemaparan mengenai Best Practices Community Engagement OVOC yang disampaikan Dr. rer. pol. Mohammad Iqbal Irfany, S.E., M.App.Ec.

Sesi tersebut membahas pengalaman pelaksanaan OVOC sekaligus mengidentifikasi berbagai praktik yang dinilai dapat menjadi pembelajaran untuk mengembangkan pola pemberdayaan masyarakat yang lebih kolaboratif.

Selanjutnya, Prof. Hermanu Tri Widodo, M.Sc., memperkenalkan Global Network for Advanced Agromaritime (GNAA).

Platform tersebut menjadi ruang kolaborasi internasional yang berfokus pada riset, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat dalam bidang agromaritim.

GNAA melibatkan akademisi, petani, nelayan, dan mitra dari sejumlah negara ASEAN.

Baca Juga: Resep Cumi Sambal Bakar, Pedas Gurih Segar dengan Aroma Smokey dari Piring Tanah Liat

Dalam pengembangannya, potensi daerah serta kearifan lokal menjadi salah satu landasan untuk menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

WUNPROQ Dorong Pemanfaatan Wakaf Produktif

Selain OVOC dan GNAA, lokakarya juga menghadirkan pembahasan mengenai World University Network for Waqf Productive (WUNPROQ) yang disampaikan Prof. Dr. Alla Asmara, S.Pt., M.Si.

WUNPROQ diarahkan untuk memperkuat kerja sama perguruan tinggi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan wakaf produktif.

Skema tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif sumber dukungan pembiayaan untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, pendidikan, inovasi sosial, hingga pembangunan berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama, pengalaman pelaksanaan OVOC Internasional juga menjadi bagian dari sesi berbagi.

Pengalaman inbound dari kegiatan di Cianjur, Ciamis, dan Lampung Barat dipaparkan bersama pengalaman outbound di sejumlah negara di kawasan ASEAN, Asia, dan Eropa.

Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana pertukaran pengetahuan lintas negara dapat dimanfaatkan untuk menggali potensi komoditas lokal, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta memperluas jaringan kerja sama internasional.

Sementara itu, petani dan nelayan yang terlibat dalam GNAA turut menyampaikan pengalaman mereka mengenai proses kolaborasi riset dan inovasi agromaritim yang memanfaatkan pengetahuan serta kearifan lokal.

Keterlibatan masyarakat secara langsung dinilai penting agar inovasi yang dikembangkan tidak hanya berbasis hasil riset, tetapi juga mampu menjawab persoalan dan kebutuhan nyata di lapangan.

Melalui lokakarya dan diseminasi tersebut, IPB University berupaya menjadikan hasil program Community Development sebagai pijakan untuk membangun kolaborasi baru.

Baca Juga: Chery Q Resmi Jadi Sorotan, Mobil Listrik di Bawah Rp300 Juta Punya Fitur Rasa SUV Mewah

Tidak hanya berbagi capaian, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, memperluas jejaring, dan mencari peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

OVOC Internasional, GNAA, dan WUNPROQ pun menjadi bagian dari strategi IPB University dalam membangun ekosistem yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, serta mitra internasional.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu mendorong pengembangan masyarakat yang lebih inovatif, mandiri, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi riset dan inovasi agromaritim terhadap pembangunan. (***)

Editor : Yosep Awaludin
lokakarya riset ipb university