CKG SMART Jadi Senjata Deteksi Dini TBC di Kota Bogor, 23.200 Warga Dibidik

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:39 WIB
Masyarakat saat menjalani CKG SMART di Kota Bogor. (Fikri/Radar Bogor)
Masyarakat saat menjalani CKG SMART di Kota Bogor. (Fikri/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor mengembangkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi CKG Sasaran, Mobile, Adaptif, Responsif, dan Terintegrasi (SMART).

Pengembangan ini agar CKG tak lagi sekadar pemeriksaan sesaat, tetapi menjadi sistem deteksi dini yang terintegrasi dan berkelanjutan, termasuk untuk menemukan kasus Tuberkulosis (TBC).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erna Nuraena, mengatakan tracing TBC akan diintegrasikan dengan CKG SMART. Pelaksanaannya direncanakan mulai awal Agustus hingga November 2026 dengan sasaran 23.200 orang yang tersebar di 68 kelurahan. Pemeriksaan dilakukan di 232 lokasi khusus dengan target sekitar 100 orang per lokasi.

Menurut Erna, kolaborasi jajaran kesehatan, aparatur wilayah, kader kesehatan dan pihak terkait menjadi kunci agar penemuan kasus aktif TBC melalui CKG berjalan optimal.

“Kolaborasi dan kerja sama semua pihak, jajaran kesehatan, aparatur wilayah, para kader kesehatan serta pihak terkait lainnya agar penemuan kasus aktif TBC terintegrasi dengan CKG dapat berjalan dengan sukses,” ujar Erna, Kamis, 13 Agustus 2026.

Baca Juga: Pemkot Bogor Memperluas Layanan Jemput Bola Melalui Program CKG SMART

Erna menyebut penanggulangan TBC di Kota Bogor masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya koordinasi investigasi kontak yang belum optimal, tindak lanjut pasien dari luar Kota Bogor, keterbatasan SDM, sarana prasarana dan kader, serta edukasi masyarakat yang masih rendah. 

Stigma terhadap pasien TBC juga menjadi tantangan. Karena itu, penguatan peran puskesmas, kelurahan, kader, dan aparatur kewilayahan diperlukan agar masyarakat yang memiliki risiko maupun kontak erat pasien dapat diperiksa dan memperoleh tindak lanjut.

Pengembangan CKG SMART ditopang capaian CKG yang cukup besar. Pada 2025, program tersebut menjangkau hampir 530 ribu penduduk atau sekitar 49 persen target, melampaui target awal 36 persen. Untuk 2026, cakupan ditargetkan 46 persen dan hingga awal Juli telah mencapai 39 persen.

Hasil skrining juga menunjukkan persoalan kesehatan lain. Sebanyak 92 persen peserta tercatat kurang aktivitas fisik, sementara penyakit tidak menular yang banyak ditemukan antara lain hipertensi, diabetes melitus dan obesitas.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan data hasil CKG dapat menjadi dasar pemerintah dalam menentukan kebijakan kesehatan. Semakin banyak warga diperiksa, semakin lengkap pula gambaran kondisi kesehatan masyarakat.

“CKG SMART ini bisa terintegrasi dengan digital. Bisa dijadikan sebagai bahan atau dasar kebijakan Pemerintah Kota Bogor di bidang kesehatan. Jadi, semakin banyak dan semakin lengkap masyarakat Kota Bogor melaksanakan pemeriksaan kesehatan gratis, maka datanya akan lebih lengkap,” ujar Dedie.

Sistem tersebut akan terhubung dengan data berbasis NIK dengan tetap menjaga keamanan dan kerahasiaan rekam medis. Pemkot juga memperluas layanan secara jemput bola ke sekolah, rumah, posyandu, kampus, kantor, pondok pesantren hingga majelis taklim.

Penguatan pemeriksaan TBC melalui CKG mendapat apresiasi Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) dr. Benjamin Paulus Octavianus.

Benjamin menilai pemeriksaan harus menyasar kontak erat pasien, terutama anggota keluarga yang tinggal serumah.

“TBC merupakan penyakit menular, untuk itu orang yang satu rumah dengan penderita TBC harus dicek. Selama ini yang diobati hanya yang sakit sementara yang tidak sakit tidak diperiksa, padahal bisa jadi ini calon yang sakit di tahun depan,” ujarnya saat mengunjungi Kota Bogor, Selasa, 28 Juli 2026 lalu.

Di Jawa Barat terdapat 10.930 lokasi CKG, dengan sekitar 400 lokasi berada di Kota Bogor. Warga yang memenuhi kriteria dapat menjalani Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) sebanyak 12 kali untuk menekan risiko berkembangnya infeksi menjadi penyakit aktif.

Untuk mendukung pemeriksaan, Kota Bogor membutuhkan sekitar empat hingga lima unit X-Ray dengan target pemeriksaan dapat diselesaikan dalam 100 hari.

Benjamin menegaskan kenaikan temuan TBC tahun depan tidak selalu berarti kondisi memburuk. Angka dapat meningkat karena lebih banyak kasus berhasil ditemukan secara aktif, sebelum kemudian ditekan melalui pengobatan dan terapi pencegahan.

“Yang terpenting camat dan lurah mampu mendatangkan masyarakat yang tertular dan keluarganya untuk dicek. Untuk lebih optimal dapat melibatkan pihak swasta agar CKG di 400 lokasi di Kota Bogor terlaksana,” tuturnya. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
ckg smart bogor tbc