RADAR BOGOR - Pilihan antara keluarga dan karier kerap dianggap sebagai dilema bagi ibu.
Padahal, keduanya dapat berjalan beriringan ketika peran, dukungan, dan ekspektasi dibangun secara sehat.
Ketika Ibu Dihadapkan pada Pilihan yang Seolah tak Punya Jalan Tengah
Menjadi ibu sekaligus menjalani karier sering kali menghadirkan pertanyaan yang tidak sederhana.
Ketika seorang ibu bekerja, muncul kekhawatiran apakah perhatian kepada keluarga akan berkurang.
Sebaliknya, ketika lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, belum tentu seluruh kebutuhan emosional keluarga otomatis terpenuhi.
Baca Juga: Polres Bogor Raih Juara 2 Ketahanan Pangan Polri, Inovasi Limbah Jadi Andalan
Pertanyaan seperti apakah ibu harus memilih keluarga atau karier? akhirnya menjadi tekanan tersendiri bagi banyak perempuan.
Persoalan tersebut menjadi bagian yang dibahas Dr. Yane Ardian, dalam tulisannya berjudul Work Life Harmony.
Menurut Yane, pandangan tentang ibu bekerja perlu dilihat kembali. Kehadiran seorang ibu di dalam keluarga tidak semata-mata ditentukan oleh berapa banyak waktu yang dihabiskan di rumah.
Ibu Bekerja Bukan Berarti Kurang Hadir
Salah satu anggapan yang perlu diluruskan adalah bahwa ibu yang bekerja berarti kurang memberikan perhatian kepada anak dan keluarga.
Padahal, kualitas hubungan tidak selalu ditentukan oleh durasi kebersamaan. Seorang ibu yang bekerja tetap dapat membangun hubungan yang dekat, hangat, aman, dan penuh kasih dengan anak-anaknya.
Dalam tulisannya, Dr. Yane Ardian menjelaskan bahwa makna kehadiran dalam keluarga jauh lebih luas daripada sekadar keberadaan secara fisik.
“Ibu yang bekerja berarti ibu yang kurang hadir. Tidak selalu,” tegas Staf Ahli Bidang Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Pusat itu.
Baca Juga: Pencairan Bansos PKH Tahap 3 Mulai Masuk Pada Sebagian KPM, Begini Cara Memeriksanya
Bagi seorang anak, perhatian ketika berbicara, kesediaan mendengarkan cerita, memberikan rasa aman, serta hadir ketika benar-benar dibutuhkan dapat menjadi bagian penting dalam membangun kedekatan emosional.
Dengan demikian, bekerja tidak otomatis membuat seorang ibu kehilangan perannya dalam keluarga.
Ibu tak Harus Mengerjakan Semuanya Sendirian
Tekanan lain yang kerap muncul adalah anggapan bahwa ibu yang baik harus mampu menangani seluruh urusan keluarga sendiri.
Mulai dari mengurus anak, pekerjaan rumah, kebutuhan keluarga, hingga pekerjaan profesional seolah menjadi tanggung jawab yang harus diselesaikan tanpa banyak meminta bantuan.
Pandangan seperti ini justru dapat membuat beban seorang ibu semakin berat.
Menurut Dr. Yane Ardian, keluarga yang sehat tidak dibangun oleh satu orang yang selalu mampu dan selalu kuat. Dibutuhkan sistem dukungan yang memungkinkan setiap anggota keluarga mengambil bagian.
Dukungan tersebut dapat datang dari pasangan, keluarga besar, maupun lingkungan sekitar yang memberikan kesempatan bagi seorang ibu untuk berkembang tanpa merasa bersalah.
“Keluarga yang sehat bukan dibangun oleh satu orang yang selalu kuat. Keluarga yang sehat dibangun oleh sistem dukungan,” tutur Pembina Kesekretariatan Posyandu Pusat tersebut.
Karier dan Kebahagiaan Keluarga Tidak Harus Berlawanan
Mitos lainnya adalah anggapan bahwa keberhasilan seorang ibu dalam kehidupan profesional akan berbanding terbalik dengan kebahagiaan keluarganya.
Padahal, seseorang yang memiliki kesempatan untuk berkembang, menjalani aktivitas yang bermakna, dan memperoleh dukungan dapat memiliki energi positif yang kemudian turut memengaruhi hubungan di dalam keluarga.
Baca Juga: Kabar Baik Bagi KPM Pemilik KKS BNI Hari Ini Bantuan PKH Cair, Periksa Komponennya
Karena itu, keberhasilan seorang ibu dalam pekerjaan tidak semestinya langsung dipandang sebagai ancaman bagi keharmonisan rumah tangga.
Yang lebih penting, bagaimana keluarga membangun pola kehidupan yang memungkinkan setiap anggota menjalankan perannya secara seimbang dan saling mendukung.
Bukan Lagi Memilih Keluarga atau Karier
Perspektif mengenai ibu bekerja pun dinilai perlu bergeser. Pertanyaannya bukan lagi apakah seorang ibu harus memilih antara keluarga dan karier.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana menciptakan kehidupan yang membuat pekerjaan dan keluarga dapat berjalan beriringan.
Di sinilah konsep work-life harmony menjadi penting.
Berbeda dengan gagasan work-life balance yang sering dipahami sebagai upaya membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, harmoni lebih menekankan bagaimana berbagai peran dalam kehidupan dapat berjalan berdampingan tanpa harus selalu dipertentangkan.
Dalam kehidupan nyata, batas antara pekerjaan dan keluarga memang tidak selalu bisa dibuat secara sempurna.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan kehidupan yang serba ideal, melainkan pola yang lebih sehat, realistis, dan bermakna.
Ibu tak Perlu Mengecilkan Diri Demi Keluarga
Menjalani peran sebagai ibu tidak seharusnya membuat seorang perempuan merasa harus menghilangkan cita-cita, pendidikan, pekerjaan, maupun ruang untuk berkembang.
Pada saat yang sama, mengejar karier juga tidak berarti seorang ibu harus mengabaikan keluarga.
Baca Juga: Cuaca Panas Ekstrem Mengintai, Kenali Dampaknya bagi Kesehatan dan Cara Mencegahnya
Keduanya dapat berjalan bersama ketika ada komunikasi, pembagian tanggung jawab, serta dukungan yang memadai dari lingkungan terdekat.
Yane Ardian menekankan, tujuan akhirnya bukan memaksa ibu memilih salah satu peran, melainkan menemukan bentuk kehidupan yang memungkinkan keluarga dan karier saling menguatkan.
“Seorang ibu tidak harus mengecilkan dirinya agar keluarganya bahagia. Dan seorang ibu juga tidak harus mengorbankan keluarganya untuk bisa bertumbuh,” beber Yane Ardian.
Pada akhirnya, persoalan ibu bekerja bukan semata-mata tentang berapa banyak waktu yang diberikan untuk keluarga atau pekerjaan.
Lebih dari itu, sambung Yane, bagaimana setiap peran dijalani dengan dukungan, kesadaran, dan pembagian tanggung jawab yang sehat.
Sebab, keluarga yang harmonis bukan keluarga yang menuntut seorang ibu menjadi sempurna.
Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang memberi ruang bagi setiap anggotanya untuk hadir, bertumbuh, dan saling mendukung. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti