Work Life Balance Vs Work Life Harmony

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:34 WIB
Dr. Yane Ardian
Dr. Yane Ardian

RADAR BOGOR - Di tengah tuntutan pekerjaan dan keluarga yang berjalan bersamaan, tak sedikit ibu kerap merasa harus membagi waktu secara sempurna. 

Pekerjaan menuntut perhatian, sementara keluarga juga membutuhkan kehadiran. 

Tapi, benarkah kehidupan harus selalu dibagi secara seimbang?

Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam tulisan Dr. Yane Ardian berjudul Work Life Harmony.

Baca Juga: Resep Nasi Capcay Goreng, Comfort Food Simpel yang Lezatnya Bisa Saingan Restoran

Melalui gagasannya, Yane Ardian mengajak, para ibu melihat kembali konsep work life balance yang selama ini populer. 

Menurutnya, kehidupan tidak selalu dapat berjalan dengan pembagian waktu yang sama antara pekerjaan dan keluarga.

Bukan Soal Bagi Waktu secara Sempurna

Selama ini, work life balance kerap dianalogikan seperti timbangan. 

Pekerjaan berada di satu sisi, sedangkan keluarga di sisi lainnya. 

Idealnya, kedua sisi tersebut memiliki bobot yang sama.

Padahal, kehidupan manusia terus berubah mengikuti fase dan kebutuhan.

Ibu yang sedang mengasuh anak kecil, tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan ibu yang anaknya telah beranjak remaja. 

Begitu pula seseorang yang sedang membangun karier tidak selalu mempunyai ritme kehidupan yang sama dengan mereka yang mulai memasuki masa pensiun.

Ada waktunya pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar. 

Baca Juga: Polres Bogor Raih Juara 2 Ketahanan Pangan Polri, Inovasi Limbah Jadi Andalan

Di kesempatan lain, keluarga membutuhkan energi dan kehadiran yang lebih banyak. 

Bahkan, ada fase ketika seseorang perlu memberi ruang lebih bagi dirinya sendiri untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.

Karena itu, menurut Yane, kehidupan tidak harus selalu dipaksakan berada dalam kondisi yang benar-benar seimbang.

"Kita tidak membutuhkan kehidupan yang sempurna seimbang, kita membutuhkan kehidupan yang selaras," jelas Staf Ahli Bidang Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Pusat tersebut.

Dari Work Life Balance menuju Work Life Harmony

Perubahan cara pandang inilah yang kemudian mengarah pada konsep work-life harmony.

Work life balance, lebih menitikberatkan pada bagaimana seseorang membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Sedangkan, jelas Yane, work life harmony melihat bagaimana berbagai aspek kehidupan dapat berjalan beriringan sesuai dengan nilai yang dianggap penting.

Dengan kata lain, balance berbicara mengenai pembagian. 

Sementara, harmony lebih menekankan hubungan antaraspek kehidupan.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan gagasan Work-Family Enrichment yang dikembangkan Greenhaus dan Powell pada 2006. 

Dalam konsep ini, pekerjaan dan keluarga tidak selalu dipandang sebagai dua hal yang saling berebut energi.

Baca Juga: Pencairan Bansos PKH Tahap 3 Mulai Masuk Pada Sebagian KPM, Begini Cara Memeriksanya

Sebaliknya, pengalaman positif yang diperoleh seseorang dalam satu peran dapat memberikan manfaat bagi peran lainnya.

Keterampilan dari Pekerjaan bisa Menguatkan Keluarga

Seorang ibu yang bekerja, misalnya, dapat mengembangkan berbagai kemampuan yang kemudian bermanfaat dalam kehidupan keluarga.

Kemampuan mengatur waktu, memecahkan masalah, berkomunikasi, hingga mengambil keputusan bukan hanya berguna di lingkungan kerja. 

Keterampilan tersebut juga dapat membantu seorang ibu menjalankan berbagai peran di rumah.

Hal yang sama dapat terjadi dari arah sebaliknya.

Keluarga yang memberikan dukungan, rasa dicintai, dan kestabilan emosional dapat menjadi sumber kekuatan bagi seseorang ketika menjalankan pekerjaannya.

Dukungan tersebut dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus produktivitas.

Karena itu, kata Yane yang juga menjabat Pembina Kesekretariatan Posyandu Pusat, persoalannya bukan sekadar apakah pekerjaan mengurangi waktu untuk keluarga atau sebaliknya.

Yang lebih penting adalah bagaimana pekerjaan dan keluarga dapat berjalan dengan arah yang saling mendukung.

Tidak Harus Memilih antara Karier dan Keluarga

Gagasan work-life harmony pada akhirnya menawarkan pertanyaan yang berbeda kepada para ibu.

Bukan lagi, “Mana yang harus saya pilih?”. 

Melainkan, “Bagaimana saya menciptakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang paling penting bagi saya?”

Baca Juga: Kabar Baik Bagi KPM Pemilik KKS BNI Hari Ini Bantuan PKH Cair, Periksa Komponennya

Cara pandang ini membuat kehidupan tidak lagi dilihat sebagai persaingan antara pekerjaan, keluarga, dan kebutuhan pribadi. 

Ketiganya dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup yang saling melengkapi, meski porsinya berubah dari waktu ke waktu.

Sebab, kehidupan yang baik bukan berarti kehidupan tanpa tuntutan. 

Justru, kehidupan yang bermakna adalah ketika seseorang memahami apa yang sedang diperjuangkan, siapa yang menjadi bagian penting dalam hidupnya, sekaligus mampu menjaga dirinya sendiri selama menjalani proses tersebut.

Pesan work life harmony menjadi relevan terutama bagi ibu yang menjalankan banyak peran sekaligus. 

Tidak setiap hari harus sempurna, dan tidak semua hal harus memiliki porsi yang sama.

Baca Juga: Cuaca Panas Ekstrem Mengintai, Kenali Dampaknya bagi Kesehatan dan Cara Mencegahnya

Yang lebih penting adalah menemukan keselarasan agar pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri tetap bergerak menuju kehidupan yang sesuai dengan nilai dan prioritas yang diyakini. (*)

Editor : Siti Dewi Yanti
Work Life Harmony Work Life Balance bogor ibu yane ardian