Merah Putih yang Menyatukan Kita

Siti Dewi Yanti • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 11:35 WIB
Pemred radarbogor.jawapos.com, Lucky Lukman Nul Hakim
Pemred radarbogor.jawapos.com, Lucky Lukman Nul Hakim.

RADAR BOGOR - Jumat, 14 Agustus 2026, waktu sudah menunjukkan pukul 06.24 WIB. 

Ya, pagi ini saya sudah berada di kawasan Tugu Kujang, Kota Bogor.

Ada suasana yang berbeda.

Biasanya, pagi di kawasan ini dipenuhi aktivitas warga yang bergegas memulai pekerjaan. 

Namun, kali ini Merah Putih menjadi alasan banyak orang datang lebih awal. 

Baca Juga: Bansos PKH Tahap 3 Sudah Cair di KKS Bank Mandiri, Cek Daftar Wilayahnya

Saya bersama rekan-rekan Radar Bogor, Pramuka dan berbagai lapisan masyarakat lainnya berdiri bersama. 

Menunggu satu momen penuh makna, yakni pengibaran bendera Merah Putih tepat pukul 07.00 WIB.

Tidak ada jarak.

Tidak ada sekat.

Yang ada, hanya orang-orang yang berdiri dalam satu barisan, dengan warna yang sama di hadapan mata yaitu Merah Putih.

Pengibaran bendera itu, merupakan bagian dari rangkaian Festival Merah Putih (FMP) Kota Bogor. 

Sebuah perhelatan yang menurut saya, bukan sekadar festival tahunan untuk memeriahkan bulan kemerdekaan.

Anggota Pramuka mengibarkan bendera merah putih di kawasan Tugu Kujang, Kota Bogor, Jumat 14 Agustus 2026.
Anggota Pramuka mengibarkan bendera merah putih di kawasan Tugu Kujang, Kota Bogor, Jumat 14 Agustus 2026.

Lebih dari itu, FMP menjadi ruang perjumpaan.

Ruang ketika masyarakat, TNI, Polri, pemerintah, komunitas, pelaku usaha, pemuda, hingga keluarga-keluarga di Kota Bogor bisa berkumpul tanpa membawa sekat masing-masing.

Baca Juga: Saldo Bansos PKH Tahap 3 Tembus 1,5 Juta Cair Hari Ini, Cek KKS Mandiri Sekarang

Dan mungkin, di tengah kehidupan kita yang semakin sibuk dengan urusan sendiri, ruang seperti inilah yang justru semakin kita butuhkan.

Saya merasakan itu, ketika mengikuti Kirab Merah Putih pada Minggu, 9 Agustus 2026 lalu.

Lebih dari 3.500 orang turun ke jalan. 

Dari kawasan Tugu Kujang, kami berjalan kaki menuju sekitar Pusdikzi di Jalan Jenderal Sudirman.

Ribuan langkah menjadi satu irama.

Di sepanjang perjalanan, saya melihat wajah-wajah yang beragam. 

Ada pejabat, anggota TNI dan Polri, komunitas, anak-anak muda, orang tua, hingga warga yang sengaja membawa serta keluarganya.

Tidak ada yang bertanya siapa yang paling penting.

Tidak ada yang merasa paling tinggi.

Semua berjalan bersama.

Baca Juga: Ayam Tehnik Pakuan, Kuliner Murah Favorit Mahasiswa Unpak Bogor Mulai Rp15 Ribu

Yang muda berdampingan dengan yang tua. 

Warga berdampingan dengan pejabat.

Aparat berdiri bersama masyarakat. 

Semua membawa semangat yang sama, yaitu Merah Putih.

Yang paling mengesankan, justru bukan kemeriahannya.

Tetapi ketulusan masyarakat yang hadir.

Sejak pagi hingga siang, ribuan warga tetap antusias mengikuti rangkaian kegiatan. 

Mereka datang bukan karena paksaan.

Mereka datang karena ingin menjadi bagian dari sebuah perayaan yang menyatukan.

Itulah mengapa Festival Merah Putih terasa istimewa.

Sejak Juli hingga Agustus 2026, berbagai kegiatan digelar. 

Mulai donor darah, tanam pohon alpukat di tempat ibadah, Kirab Merah Putih, Padel Championship, Festival Kopi Legendaris, Wisata Kebangsaan.

Ada juga Lomba Ketangkasan Baris-Berbaris (LKBB), doa lintas agama, berbagai kegiatan lainnya hingga rangkaian penutup yang akan dihelat di Lanud Atang Sendjaja.

Bentuk kegiatannya memang berbeda-beda.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Mengemudi yang Bisa Bikin Mobil Cepat Rusak, Nomor 3 Sering Diabaikan

Tetapi ruhnya sama.

Kebersamaan.

Gotong royong.

Persaudaraan.

Dan kecintaan kepada Indonesia.

Di situlah saya merasa, kemerdekaan ternyata bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan puluhan tahun lalu.

Kemerdekaan juga tentang bagaimana kita hari ini menjaga persatuan.

Tentang bagaimana kita masih mau berjalan bersama meski berbeda pilihan, profesi, latar belakang, dan cara pandang.

Tentang bagaimana Merah Putih tidak berhenti sebagai kain yang dikibarkan di tiang bendera, tetapi menjadi simbol bahwa kita memiliki rumah yang sama.

Indonesia.

Bogor adalah kota yang penuh keberagaman. 

Karena itu, kegiatan seperti Festival Merah Putih memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar seremoni.

FMP mengingatkan kita, perbedaan tidak selalu harus menjadi alasan untuk berjauhan.

Sebaliknya, perbedaan bisa menjadi kekuatan ketika kita memiliki tujuan yang sama.

Pagi itu di Tugu Kujang, saya kembali melihat wajah Indonesia dalam bentuk yang sederhana.

Orang-orang berdiri bersama.

Menatap bendera yang perlahan naik.

Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah sebuah upacara.

Namun bagi saya, ada pesan yang jauh lebih dalam.

Bahwa, Merah Putih masih mampu membuat kita berhenti sejenak dari kesibukan masing-masing.

Membuat kita datang.

Membuat kita berjalan bersama.

Membuat kita saling menyapa.

Dan yang paling penting, membuat kita kembali ingat bahwa kita adalah bagian dari bangsa yang sama.

Festival Merah Putih pada akhirnya bukan hanya tentang merah dan putih.

FMP adalah tentang kita.

Tentang kebersamaan yang harus terus dirawat.

Tentang persaudaraan yang jangan sampai hilang oleh perbedaan.

Tentang Indonesia yang akan selalu kuat, jika rakyatnya memilih untuk berjalan bersama.

Sebab, Merah Putih akan selalu berkibar tinggi.

Baca Juga: Bansos PKH Tahap 3 Cair Merata di KKS Bank Mandiri, Nominalnya Segini

Tetapi tugas kita adalah, memastikan semangat yang ada di baliknya juga tetap hidup di dalam hati.

Dari Bogor, mari terus rawat persatuan.

Mari terus jaga kebersamaan.

Karena selama kita masih mau berdiri dan berjalan bersama di bawah Merah Putih, Indonesia akan selalu punya alasan untuk optimistis. (*)

Lucky Lukman Nul Hakim - (Pemimpin Redaksi radarbogor.jawapos.com)

Editor : Siti Dewi Yanti
bogor Lucky Lukman Nul Hakim merah putih FMP