Limbah Ternak Tak Lagi Terbuang, IPB University Sulap Jadi Pupuk di Ciharashas Bogor

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 14:59 WIB
Sosialisasi sistem pertanian terpadu atau Integrated Farming System (IFS) yang dibangun tim dosen IPB University Bogor. Foto: Fikri/Radar Bogor
Sosialisasi sistem pertanian terpadu atau Integrated Farming System (IFS) yang dibangun tim dosen IPB University Bogor. Foto: Fikri/Radar Bogor

RADAR BOGOR – Limbah ternak dan sisa panen di Kelompok Wanita Tani (KWT) Ciharashas, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, kini mulai dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku pupuk organik, yang dikembangkan IPB University.

Inovasi tersebut menjadi bagian dari penerapan Integrated Farming System (IFS) atau sistem pertanian terpadu yang dikembangkan tim dosen IPB University Bogor melalui program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA 2026.

Penerapan sistem tersebut diwujudkan tim dosen IPB University Bogor melalui pembangunan demplot di lahan produktif KWT Ciharashas, RT 06 RW 01 Kampung Ciharashas, Rabu, 19 Agustus 2026.

Baca Juga: Parkir Depan Pemkab Bogor Kini Berbayar, Dishub: Setorannya Masuk PAD

Ketua Tim Pelaksana Pengabdian dari Program Studi Manajemen Agribisnis IPB University, Dr. Doni Sahat Tua Manalu, mengatakan demplot IFS menjadi langkah penting dalam membangun pola pertanian berbasis ekonomi sirkular.

“Di sini kita bersama-sama mewujudkan integrasi fisik antar-subsistem, mulai dari penataan tanaman hortikultura, kolam perikanan, hingga kandang ternak dan pengolahan limbah,” ujar Doni.

Sisa Panen dan Kotoran Ternak Diolah Jadi Kompos

Melalui konsep tersebut, limbah pertanian dan peternakan tidak lagi langsung dibuang. Tim IPB University mengajak anggota KWT mengolah sisa tanaman serta kotoran ternak menggunakan bin composter untuk menghasilkan pupuk kompos.

Baca Juga: Hampir 100 Lapak PKL di Jalan Cifor Bogor Ditertibkan, Eks Area Dagang Bakal Jadi Pedestrian

Anggota tim pengabdian, Agief Julio Pratama, menjelaskan pengolahan limbah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan kelompok terhadap pasokan pupuk dari luar.

“Melalui unit dekomposisi tertutup metode bin composter ini, seluruh sisa hasil panen sayuran dan kotoran ternak diolah kembali menjadi pupuk kompos,” katanya.

Sistem pertanian terpadu ini tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah. Budidaya ikan dan tanaman hortikultura juga diintegrasikan dalam satu kawasan.

Tim memasang kolam terpal yang dilengkapi teknologi nanobubble untuk menjaga kadar oksigen terlarut di dalam air. Air kolam yang mengandung unsur hara nantinya dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

Baca Juga: Bansos PKH-BPNT Tahap 3 Cair Melimpah di KKS BNI Capai Rp1,5 Juta, Daerah Kamu Termasuk? 

Anggota tim pengabdian, Dr.Eng. Henry Kasmanhadi Saputra, mengatakan teknologi tersebut dirancang untuk menjaga sirkulasi air sekaligus mendukung keterpaduan antara sektor perikanan dan pertanian.

“Penerapan kolam terpadu dengan dukungan mesin nanobubble ini dirancang khusus agar sirkulasi air tetap kaya oksigen terlarut. Air kolam yang kaya unsur hara nantinya juga dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi penyiraman tanaman hortikultura,” jelasnya.

Di area demplot, anggota KWT juga mulai menata bedengan untuk menanam berbagai komoditas hortikultura seperti pakcoy, selada, dan cabai. Kandang unggas serta kolam terpal turut disiapkan sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu.

Diharapkan Jadi Percontohan

Baca Juga: Menembus Ombak dan Jalur Terjal, Mantri BRI Antar Layanan Perbankan ke Pelosok Maluku Utara

Ketua KWT Ciharashas, Umi, menyambut positif penerapan sistem tersebut. Menurutnya, konsep IFS membuat lahan kelompok menjadi lebih tertata sekaligus membuka peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi kegiatan pertanian.

“Kami sangat bersyukur dan bersemangat melihat lahan kami kini telah tertata rapi dalam sistem terpadu. Kami berkomitmen menjaga, merawat, dan mengembangkan demplot IFS ini agar memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi keluarga anggota,” ungkap Umi.

Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) Kelurahan Mulyaharja, Agus Faisal, menilai keberadaan demplot dapat menjadi ruang belajar bagi para petani binaan.

Menurutnya, konsep tersebut memberikan contoh langsung mengenai pemanfaatan teknologi, pengelolaan limbah, hingga integrasi berbagai sektor pertanian dalam satu kawasan.

Baca Juga: Produk Karya Siswa SMK SMAK Bogor Dipakai SPPG Tanah Baru 3, Dorong Pembelajaran Berbasis Industri

“Demplot IFS ini memberikan sarana belajar praktik yang sangat aplikatif dan mudah diadopsi oleh petani binaan kami,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Lurah Mulyaharja, Taufik Hidayat, berharap demplot IFS KWT Ciharashas dapat berkembang menjadi model pertanian yang bisa diterapkan di wilayah lainnya.

“Kami berharap demplot ini terus dirawat bersama dan menjadi model percontohan yang siap ditularkan ke seluruh RW di Mulyaharja,” katanya.

Melalui penerapan IFS, IPB University mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya secara lebih berkelanjutan. Sistem ini menghubungkan sektor tanaman, perikanan, peternakan, hingga pengolahan limbah dalam satu siklus produksi sehingga limbah dari satu kegiatan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lainnya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
limbah ternak bogor pupuk ipb university