RADAR BOGOR - Nama Kota Bogor kembali berkibar di panggung internasional. Moses Hasiholan Siregar, putra Bogor, terpilih menjadi salah satu dari lima delegasi resmi Indonesia dalam forum G20 Youth Summit (Y20) di Washington DC, Amerika Serikat.
Forum kepemudaan negara-negara G20 tersebut berlangsung pada 14-16 Agustus 2026. Moses hadir sebagai salah satu juru bicara pemuda Indonesia dan terlibat dalam pembahasan Track 3: Innovation and Digital Transformation.
Kiprah Moses di forum tersebut tidak diraih dengan mudah. Ia harus melewati proses seleksi nasional yang diikuti ribuan kandidat dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari proses tersebut, Moses akhirnya terpilih bersama empat delegasi lainnya untuk membawa suara pemuda Indonesia ke forum internasional.
Dengan latar belakang akademik sebagai mahasiswa program doktoral di London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris, Moses mendapat kesempatan untuk menyuarakan berbagai gagasan mengenai masa depan teknologi dan transformasi digital.
Baca Juga: Lapis Bobar Diluncurkan, Warga Bogor Barat Bisa Cek Data Bansos hingga Urus Administrasi di WhatsApp
“Inovasi teknologi dan kecerdasan buatan sejatinya hadir untuk mengabdi pada kemanusiaan. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa transformasi digital dunia berjalan secara adil, etis, dan memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak bangsa,” ujar Moses.
Dalam forum Y20 di Washington DC, Moses menyoroti pentingnya membangun ekosistem digital yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga inklusif dan berkeadilan.
Salah satu isu yang didorong ialah pemerataan akses internet hingga wilayah pedesaan dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Menurutnya, transformasi digital tidak boleh hanya dinikmati oleh kelompok yang sudah memiliki akses dan kemampuan teknologi.
Moses juga mendorong penguatan pembelajaran sepanjang hayat atau lifelong learning. Hal itu dapat dilakukan melalui penyediaan inkubator teknologi, makerspaces, serta penguatan kemampuan berpikir kritis yang terintegrasi dengan standar kompetensi digital UNESCO.
Selain persoalan akses, pembahasan juga menyentuh perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat.
Dalam forum tersebut, para delegasi mendorong adanya tata kelola AI yang lebih transparan melalui evaluasi dampak algoritma secara independen. Langkah itu dinilai penting untuk mengantisipasi berbagai risiko, mulai dari bias algoritma, disinformasi hingga menurunnya kepercayaan publik.
Isu keamanan ruang digital juga menjadi perhatian. Para delegasi mendorong penguatan perlindungan masyarakat dari ancaman deepfake, kejahatan siber, dan konten manipulatif, terutama yang menyasar anak-anak dan remaja.
Tak hanya itu, perlindungan hak cipta bagi kreator juga menjadi bagian dari rekomendasi yang dibahas. Mekanisme kompensasi yang adil bagi seniman, kreator, dan pemilik karya intelektual didorong ketika karya mereka digunakan dalam pengembangan model AI.
Dampak perkembangan teknologi terhadap dunia kerja turut menjadi perhatian. Salah satu gagasan yang dibahas ialah pembentukan AI Workforce Transition Fund untuk mendukung program pelatihan ulang atau reskilling bagi pekerja yang terdampak otomatisasi.
Bagi Moses, perkembangan teknologi harus berjalan beriringan dengan kepentingan manusia. Karena itu, inovasi tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.
Keterlibatan Moses dalam Y20 menjadi catatan tersendiri bagi Kota Bogor. Ia menunjukkan bahwa anak muda dari daerah juga mampu berkompetisi dan menyuarakan gagasan di forum internasional.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi generasi muda untuk terus mengembangkan kapasitas, memperluas wawasan, serta berani mengambil peran dalam isu-isu global.
Dari Washington DC, Moses membawa satu pesan penting bahwa perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, etika, pemerataan, serta perlindungan masyarakat. (ded)
Editor : Eka Rahmawati